Latest entries

CATALOGUE No. 3

2020 / PDF from “Living Amidst the Ruins and Codec, Translations” and “Fungal Contaminations Learning From Precarity and Failure”  for『CATALOGUE』No. 3 (2018), an immaterial publication documented mycorrhizally online, co-edited with Display Distribute and Read-in.

Kompilasi Podcast Heterotropics #2

Laman ini memuat dokumentasi audio yang dikumpulkan anggota KUNCI ketika mengikuti Residensi Heterotropics #2 pada 2017 di Tropenmuseum, Amsterdam. Dalam residensi yang diinisiasi oleh kurator Sara Giannini bekerja sama dengan Research Center for…

Sekolah Salah Didik: UJI COBA 1

Materi-materi yang terkumpul di file pdf ini adalah hasil belajar angkatan perintis Sekolah Salah Didik (SSD) yang berlangsung sejak November 2016- April 2018. Publikasi ini disusun sebagai rapor, atau dokumen untuk menilai dan…

Sama-sama Belajar, Belajar Sama-sama

Kami mengundang Anda terlibat dalam acara ulang tahun ke-20 KUNCI. Kami ingin memikirkan makna usia, konteks, dan relevansi organisasi ini bersama Anda, kawan-kawan yang berperan dalam keberlangsungan KUNCI selama ini. Mari datang untuk…

Bahasa Inggris, turisme, dan volunter

Catatan ini merefleksikan penggunaan bahasa Inggris dan kebergantungan Tiny Toones pada para volunter asing dalam menyelenggarakan aktivitas mengajar sehari-hari. Lebih jauh, catatan ini membuka pintu observasi lebih jauh atas bagaimana peran para aktivis Tiny Toones yang juga adalah orang lokal. Apakah mereka tepat untuk disebut sebagai mediator budaya?

Bahasa Tubuh sebagai Alternatif Jalan Menuju Spekulasi Penerjemahan yang Lain

Tidak bisa berbahasa Khmer dan tidak bisa berbahasa Inggris menjadi kebingungan awal dalam perbincangan bersama salah satu pengajar dan salah satu murid di Tiny Toones. Tersesat dalam penerjamahan dan membuka makna bahasa menjadi lebih luas–tidak hanya verbal melainkan bahasa tubuh–tidak mungkin terelakkan lagi. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa pengalaman tersesat dalam penerjemahan dianggap sebagai proses pertukaran pengetahuan tanpa harus menganggap salah satu bahasa sebagai penyebab kesesatan atau kebingunan­–karena jika iya maka secara tidak langsung akan menganggap bahwa bahasa tertentu sebagai dominasi kuasa dalam praktik komunikasi sehari-hari?

Crab, ktam, Ketam: Pertukaran pengetahuan tanpa berbasis hasil

Pertukaran macam apa yang bisa diproduksi dari proses belajar dimana si pengajar dan si murid tidak saling menguasai bahasa masing-masing? Apakah proses belajar bisa dimaknai ulang sebagai pertukaran pengetahuan dimana posisi pengajar dan murid dipandang setara, dan juga bahasa tidak dipandang sebagai faktor determinan yang menentukan proses belajar? Apakah makna ‘hasil’ dalam proses belajar yang seperti ini? Tulisan ini mencatat hasil amatan atas proses belajar bahasa Inggris yang berlangsung di Tiny Toones. Ia berusaha mendokumentasikan temuan-temuan atas pertukaran nonhasil yang berlangsung dalam aktivitas belajar.

Upaya Membangun “Rumah” Melalui Ruang Seni Alternatif di Phnom Penh

Phnom Penh memiliki lanskap kota yang menarik. Perbedaan masing-masing area di Phnom Pehn terlihat sangat mencolok. Bahkan, bisa saja jarak antar satu area dengan area lainnya hanya 2 kilometer namun kesenjangan terlihat dengan…

Kesan Pertama Berada di Tiny Toones, Phnom Penh

Tiny Toones sebagai ruang pendidikan seni alternatif memiliki poin menarik untuk diperbincangkan baik dari segi seni, komunitas maupun pendidikan. Sasaran utama bagi program pendidikan mereka adalah anak usia 6-17 tahun. Rentang usia ini didapat dari permasalahan anak-anak hingga remaja yang dihadapkan dengan banyaknya transaksi narkoba di sekitar mereka.

Melihat Praktik Pendokumentasian Melalui Tuol Sleng Genocide Museum

Semua kisah sedih dan situasi mencekam dari tragedi Khmer Rouge berhasil diceritakan oleh audio guide museum, foto dokumentasi pada tahun tragedi penyiksaan yang sangat jelas tanpa ada sensor hingga desain bangunan fisik museum yang seolah membiarkan semua tragedi ini terlihat oleh publik sekaligus mesin waktu.

USD, KHR, dan Politik Perasaan atas Jumlah

Kebingungan atas pemakaian mata uang United States Dollar dan Cambodian Riel di Phnom Penh menimbulkan perasaan tidak pasti. Ketidakpastian ini muncul karena tidak yakin atas jumlah uang yang diterima, juga khawatir akan potensi penipuan uang. Tulisan ini mencatat politik pertukaran mata uang sebagai karakter penting dalam pergaulan sehari-hari di tingkat lokal. Ia perlu dipertimbangkan dalam proyek penelitian tentang ruang seni independen dan pendidikan alternatif di Kamboja yang dilakukan Kunci ini.

Perasaan Gugup dan Ketidakbiasaan dalam Proses Penelitian

Perasaan gugup dan unfamiliarity, ketidakbiasaan, mempengaruhi pertemuan pertama saya dengan Phnom Penh. Ia adalah perasaan yang mempengaruhi nada dan emosi awal sebagai peneliti asing di kota ini.

Panggilan terbuka Sekolah Salah Didik angkatan 2

Bayangkan tubuhmu adalah suatu komponen elektronika. Tangan kakimu berjuntai kabel terkelupas. Bagaimana jika kita berjajar saling berkait lilit-melilit, mengatur keluar masuk arus dan tegangan? Menyetrum; membikin konslet atau mengalirkan daya. Kita tidak memproduksi…

Buklet Kata Kunci Praktik Teknologi Vernakular di Indonesia

Buklet Kata Kunci Praktik Teknologi Vernakular di Indonesia lahir dari Kultur Cell–sebuah proyek penelitian yang bertujuan untuk menelusuri praktik-praktik sosial baru yang tercipta dari penggunaan handphone. Kultur Cell merupakan bagian dari proyek riset…

Gelar Editorial Sekolah Salah Didik: Belajar Dari Bawah

Gelar Editorial Sekolah Salah Didik: Belajar dari Bawah adalah presentasi publik dari pengalaman 1,5 tahun belajar bersama melepaskan otoritas dan hirarki dari pengertian sekolah yang umum.

Kelestarian sekolah: Merawat jaringan, organisasi dan pembelajaran kolektif

(English Version below) Sabtu, 3 Februari 2018 Pk 15.00 – 18.00 Di KUNCI Cultural Studies Center KUNCI mengundang anda untuk bergabung dalam diskusi terbuka antara empat inisiatif pembelajaran alternatif yang bernaung dalam jaringan…

Recording wind_data

A sharing session of Monica Zamudio | Thursday, 28 December 2017, 6-10pm | In respond to the nature of our surroundings, the controlled body, the access of information blurred by other ceremonies, and the instability of ground, Recording wind_data proposes a reflection on our way of listening affects our understanding of the environment and how we organize ourselves amidst the censored media. Through capturing sound or wind data, how can we relate to a specific scene? How our bodies are shaped ? How much distance reveals? Does sound brings intensity? A shape? How it can be collected? How it can be shared?

Public Library of / Perpustakaan Umum…

A Public Discussion on Self-organized Libraries | Sunday, 17 December 2017, 1.30-4 pm, at Jogja Library Center | In many countries the role of public libraries is changing. In the Netherlands many neighborhood libraries were recently closed due to budget cuts by a neo-liberal government – in Indonesia there has never been a substantial public library system. Self-organized libraries have filled some of these gaps. In what significant political moment(s) did they arise? What impact do libraries have on local communities? Can a library function as a public safe space that is open to different voices? Which tactics are deployed by self-organized libraries to encourage uncensored and unrestricted access to information?

The Autonomous Fabric: On Self-organization and Education

Sunday, 19th November 2017 | The Autonomous Fabric is a research project that focuses on self-organisation and education. It is initiated by the Willem de Kooning Academy for fine arts and Design in Rotterdam, The Netherlands. The Autonomous Fabric researches on how self-organized activist and artistic practices, engage with the city, other disciplines and each other. Self-organized initiatives often work on a small, local scale, but together they form an informal network that can span through the entire city. This ‘fabric’ is ever changing, growing and developing. In this discussion, we would like to discuss in what ways do self-organized practices find new forms to manifest themselves and what visions to shape society do they present. How we maintain an autonomous position, in a complex playing field of different forces? How can an art school connect itself to this fabric of autonomous makers in the city in a structural way?

Sesi Rak Buku Berhantu (Haunted Bookshelf Session)

(Scroll for english version) Workshop bersama Read-in: Annette Krauss (seniman residensi KUNCI) dan Sanne Oorthuizen Senin, 9 Oktober 2017 Pk 15.00 – Pk 17.00 di Kunci Cultural Studies Center Sesi Rak Buku Berhantu…

KUNCI Study Forum & Collective • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in