BlockNot Prose & Poetry

bnot3Ugoran Prasad tentang BlockNot. BlockNot merupakan salah satu media sastra alternatif yang tumbuh dari sebuah jaman di mana gagasan-gagasan baru berputar dengan sangat cepat dan sibuk mencari tempatnya masing-masing di penghujung 1990an: baik pada media-media baru maupun inisiatif-inisiatif masyarakat sipil.

Aku mencatat setiap pertumbuhan Blocknot, semoga dengan cermat, dan kesanku yang paling mendalam adalah pada bagaimana BlockNot sebagai gagasan telah tumbuh dan pertumbuhan itu pula yang “membunuh”nya (atau lebih tepat: membuatnya pingsan lama dan belum hendak dihidupkan, setidaknya sampai sekarang).

Kami mulai, segelintir orang, tidak sebagai penulis dan pengarang, tapi sebagai pembaca yang mendokumentasikan bacaan kami, sembari menanamkan pikiran-pikiran kami sendiri, entah untuk mengubah, menolak, bercakap dengan sumber bacaan kami. Saat itu kami mencari orang yang sedang membaca (ini harfiah: siapa saja yang sedang membawa-bawa buku, kami tegur, lalu kami ajak kenalan dan bicara, mencari kemungkinan ia mau diajak mendokumentasikan bacaan mereka) di sembarang tempat, dari perpustakaan, kantin kampus, sampai bis kota, kadang tak kenal permisi.

BlockNot didekati sangat personal, dan karenanya aku bisa memasukkan kepercayaan-kepercayaan personalku pada proses editorialku. Tidak seperti layaknya fungsi editor aku tidak masuk dalam proses memfasilitasi suatu tulisan, aku lebih sibuk mengutak ngatik proses para pembaca ini menghidupkan bacaan mereka, bagaimana suatu tafsir muncul, kenapa, bagaimana tafsir tanding muncul, dan seterusnya. Kadang aku menyorongkan berbagai kemungkinan perbandingan tafsir, kadang tidak.

Gunawan Maryanto, tak lama kemudian, memimpin edisi puisi, juga dengan modus editorial yang serupa, berselang-seling terbitnya dengan edisi prosa yang kutangani.

Tulisan-tulisan di BlockNot, karenanya, sering tidak terlalu artikulatif sebagai tulisan, tapi aku percaya sebagian penulisnya cukup puas dengan rekaman jejak mereka: sebagian  jadi percaya diri untuk menjadi penulis profesional, sebagian yang lain tetap menulis diam-diam, entah karena berbagai alasan.

Pada pertumbuhannya, gagasan BlockNot ini ternyata tak terlalu sibuk lagi untuk diupayakan; masing-masing pembaca yang menulis di BlockNot bisa merujuk ke edisi-edisi sebelumnya sehingga percakapan-percakapan semakin tak dibutuhkan. Sebagian pembaca yang menulis di BlockNot, termasuk diriku sendiri, semakin asyik bermain-main sebagai penulis, memasuki disiplin kepenulisan lebih jauh pula.

Suatu kali, edisi-edisi BlockNot mulai sepenuhnya diisi penulis. Inilah kali pertama aku sadar, BlockNot sebenarnya tak dibutuhkan lagi: setidaknya oleh lingkaran awal kami. Aku tiba-tiba berpikir tentang pentingnya kualitas tulisan-tulisan di BlockNot, dan ini aku sadari betul pikiran setan. Editor BlockNot sempat berpindah tangan, dengan harapan lingkungan para pembaca yang lebih berkonsentrasi dengan artikulasi hasil bacaan mereka (dan tidak atau belum ingin terlalu sibuk memupuri tulisannya) tetap ada. Bagi kami, kenyataan bahwa keberadaaanya penting untuk pertumbuhan kami, membuat kami merasa ia bisa cukup penting pula bagi pertumbuhan orang lain, entah sebagai pembaca atau penulis.

Tapi saat itu tahun 2004. Semua orang sudah punya blog sendiri. Mampuslah kau BlockNot; setidaknya sampai ada yang mendatangi reruntuhan kami, merebut archive yang kami punya, mengklaim dan menghidupi BlockNot dengan caranya sendiri, mungkin di kemudian hari.

Begitupun, pada titik BlockNot saat itu, kematian yang datang dan dihadapinya dengan santun dan santai juga sungguh sangat mengesankan.

Koleksi BlockNot bisa diakses di Perpustakaan KUNCI.

blocknot

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in