Studying Turn

Bahasa Inggris, turisme, dan volunter

Catatan ini merefleksikan penggunaan bahasa Inggris dan kebergantungan Tiny Toones pada para volunter asing dalam menyelenggarakan aktivitas mengajar sehari-hari. Lebih jauh, catatan ini membuka pintu observasi lebih jauh atas bagaimana peran para aktivis Tiny Toones yang juga adalah orang lokal. Apakah mereka tepat untuk disebut sebagai mediator budaya?

Bahasa Tubuh sebagai Alternatif Jalan Menuju Spekulasi Penerjemahan yang Lain

Tidak bisa berbahasa Khmer dan tidak bisa berbahasa Inggris menjadi kebingungan awal dalam perbincangan bersama salah satu pengajar dan salah satu murid di Tiny Toones. Tersesat dalam penerjamahan dan membuka makna bahasa menjadi lebih luas–tidak hanya verbal melainkan bahasa tubuh–tidak mungkin terelakkan lagi. Namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa pengalaman tersesat dalam penerjemahan dianggap sebagai proses pertukaran pengetahuan tanpa harus menganggap salah satu bahasa sebagai penyebab kesesatan atau kebingunan­–karena jika iya maka secara tidak langsung akan menganggap bahwa bahasa tertentu sebagai dominasi kuasa dalam praktik komunikasi sehari-hari?

Crab, ktam, Ketam: Pertukaran pengetahuan tanpa berbasis hasil

Pertukaran macam apa yang bisa diproduksi dari proses belajar dimana si pengajar dan si murid tidak saling menguasai bahasa masing-masing? Apakah proses belajar bisa dimaknai ulang sebagai pertukaran pengetahuan dimana posisi pengajar dan murid dipandang setara, dan juga bahasa tidak dipandang sebagai faktor determinan yang menentukan proses belajar? Apakah makna ‘hasil’ dalam proses belajar yang seperti ini? Tulisan ini mencatat hasil amatan atas proses belajar bahasa Inggris yang berlangsung di Tiny Toones. Ia berusaha mendokumentasikan temuan-temuan atas pertukaran nonhasil yang berlangsung dalam aktivitas belajar.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in