USD, KHR, dan Politik Perasaan atas Jumlah

Kesan kuat yang mewarnai perjumlaan pertama saya dengan Phnom Penh sebagian dibentuk lewat kebingungan saya atas jenis mata uang yang dipakai untuk transaksi sehari-hari. Sebenarnya ini bukan kepergian pertama saya ke Phnom Penh. Saya mengunjungi Phnom Penh di 2006 (atau mungkin 2005?). Tapi kunjungan itu begitu singkat; semua tentang kota ini terasa begitu kabur.

Saya tahu bahwa uang dalam bentuk United States Dollar (USD) digunakan secara luas di negeri ini. Juga saya tahu bahwa secara bersamaan, Cambodian Riel (KHR) juga dipakai sebagai nilai tukar yang sah. Tetapi, mungkin karena kali ini, saya akan berada di Phnom Penh cukup lama, saya makin bisa menangkap kerumitan praktis dan personal yang diakibatkan oleh pemakaian mata uang ganda tersebut.

Salah satu karakter tempat yang melangsungkan transaksi dalam USD adalah mereka yang menawarkan atau menjual barang-barang berkategori mewah. Di foto ini, saya menggunakan USD untuk membeli secangkir Cappucino. Untuk secangkir Cappucino, saya membayar USD 3.

Salah satu karakter tempat yang melangsungkan transaksi dalam USD adalah mereka yang menawarkan atau menjual barang-barang berkategori mewah. Di foto ini, saya menggunakan USD untuk membeli secangkir Cappucino. Untuk secangkir Cappucino, saya membayar USD 3.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah bahwa sebagian besar sopir TukTuk mengenakan ongkos perjalanan dalam USD. Tetapi mereka mengajukan harga yang menimbulkan kesan bahwa sesuatu yang mereka ajukan itu murah. Tergantung jarak tempuh, sejauh ini, ongkos transportasi yang saya keluarkan untuk satu kali perjalanan di dalam kota berkisar antara USD 2 sampai USD 5. Suatu kali saya bermaksud memberi ongkos tambahan, dan saya memberi seorang sopir TukTuk USD 5, dan bukan USD 2 harga yang ia minta. Kerumitan timbul ketika tiba di tempat tujuan, sopir tersebut memberi saya uang kembalian dalam KHR.

10000 Riels, yang saya dapatkan dari sopir TukTuk.

10000 Riels, yang saya dapatkan dari sopir TukTuk.

Kebingungan yang saya alami ketika menerima kembalian itu dipicu oleh dua hal. Pertama, saya belum menguasai konversi dari USD ke KHR. Hal ini menimbulkan dugaan, atau tepatnya perasaan, bahwa apakah saya diberi jumlah uang yang lebih kecil dari yang seharusnya saya terima? Kedua, tetapi kebingungan ini lalu saya redam. Ia saya redam, dan tidak diungkapkan dalam bentuk kekesalan langsung ke sopir TukTuk. Menurut saya ia seharusnya dipendam karena ia berawal dari niatan saya sendiri untuk memberi uang lebih kepada sopir TukTuk. Ia adalah niatan yang saya sadari dipengaruhi oleh campuran dari sedikit rasa kasihan dan semangat untuk bersedekah. Tapi ternyata ia menuju pada kompleksitas perasaan lain yang mungkin masih akan menuju pada hal-hal tak terduga lainnya.

Nuraini Juliastuti

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in