Umberto Eco: Kita Menyukai Daftar Karena Kita Tidak Mau Mati

Wawancara Sussane Beyer dan Lothar Gorris dengan Umberto Eco

 

Anda dianggap sebagai salah satu sarjana terbesar di dunia, dan sekarang Anda membuat pameran di Louvre [“Vertige de la Liste”, 7 November 2009-8 Februari 2010], salah satu museum terpenting di dunia. Namun subjek pameran Anda tampak biasa: asal-usul esensial berbagai daftar, penyair yang mendaftar hal-hal dalam karya mereka dan pelukis yang mengumpulkan benda-benda dalam lukisan mereka. Mengapa Anda memilih subjek ini?

Daftar adalah asal kebudayaan. Ia adalah bagian dari sejarah seni dan sastra. Apa tujuan kebudayaan? Membuat ketakterhinggaan menjadi bisa dipahami. Kebudayaan juga mencipta keteraturan—tidak selalu, tapi seringkali. Dan bagaimana, sebagai manusia, seseorang menghadapi ketakterhinggaan? Bagaimana seseorang berusaha menggenggam yang-tak-terhingga? Melalui daftar-daftar, katalog, koleksi museum, dan melalui ensiklopedi serta kamus. Menarik mengetahui berapa banyak perempuan yang ditiduri dengan Don Giovani: 2.063, setidaknya menurut librettist (penulis lirik lagu) Mozart, Lorenzo da Ponte. Kita juga punya daftar-daftar yang sepenuhnya praktis—daftar belanjaan, daftar keinginan, menu—itu juga adalah pencapain budaya.

Haruskah seorang yang berbudaya dipahami sebagai penjaga yang bertugas menegakkan keteraturan di tempat-tempat yang kacau?

Daftar tidak menghancurkan kebudayaan; ia menciptakannya. Kapan pun Anda melihat sejarah budaya, Anda akan menemukan daftar-daftar. Sesungguhnya, ada daftar-daftar yang memusingkan: daftar para santo, tentara, dan tanaman obat, atau daftar harta karun dan judul buku. Coba bayangkan asal-usul koleksi-koleksi pada abad ke-16. Novel saya, penuh dengan daftar.

Akuntan membuat daftar-daftar, tapi Anda juga bisa menemukannya pada karya-karya Homer, James Joyce, dan Thomas Mann.

Ya. Tetapi mereka, tentu saja, bukan akuntan. Dalam Ulysses, James Joyce menggambarkan bagaimana tokoh protagonisnya, Leopold Bloom, membuka laci dan benda-benda yang ia temukan di dalamnya. Saya melihat ini sebagai daftar sastrawi, dan ia bicara banyak soal Bloom. Atau ambil contoh Homer. Dalam Illiad, dia mencoba menyampaikan kesan tentang besarnya jumlah tentara Yunani. Awalnya ia menggunakan perumpamaan: “Bagai kebakaran hutan hebat, yang mengamuk di puncak gunung dan terangnya terlihat dari jauh, meski begitu, saat mereka berbaris, kilatan baju zirahnya menyala hingga cakrawala surga.” Tapi dia tidak puas. Dia tidak dapat menemukan metafora yang tepat, hingga ia memohon bantuan para dewa. Kemudian dia sampai pada gagasan untuk menamai banyak hal, para jenderal dan kapal-kapal mereka.

Tetapi apakah dia tidak menyimpang dari puisi?

Awalnya, kita berpikir daftar itu primitif dan khas kebudayaan awal, yang belum memiliki konsep yang tepat tentang alam semesta dan karenanya hanya terbatas pada daftar sifat yang bisa mereka beri nama. Namun, dalam sejarah kebudayaan, daftar muncul berulang-ulang. Jadi ia bukan sekedar ekspresi kebudayaan primitif. Gambar yang sangat jelas tentang alam semesta baru ada pada Abad Pertengahan, dan ada banyak daftar. Sebuah cara pandang baru berdasarkan astronomi menguasai zaman Renaisans dan Barok. Dan di sana juga ada daftar-daftar. Dan daftar adalah hal lazim pada era pascamodern. Ia adalah sihir tak terelakkan.

Tetapi mengapa Homer mendaftar semua prajurit dan kapal mereka jika dia tahu bahwa dia tak akan bisa menamai mereka semua?

Karya Homer menghentak lagi dan lagi pada tema yang-tak-terungkapkan. Orang-orang akan selalu melakukan itu. Kita selalu terpesona oleh ruang tak terhingga, oleh bintang-bintang tak berujung dan oleh galaksi di atas galaksi. Apa yang dirasakan seseorang ketika melihat langit? Dia pikir dia tidak punya cukup lidah untuk menggambarkan apa yang dilihatnya. Meski begitu, orang tidak pernah berhenti menggambarkan langit, dengan cara mendaftar apa yang mereka lihat. Seorang yang jatuh cinta berada pada posisi yang sama. Mereka mengalami kekurangan bahasa, kekurangan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan mereka. Tapi pernahkah mereka berhenti berusaha melakukannya? Mereka membuat daftar: Matamu begitu indah, dan begitu juga bibirmu, dan bahumu… Satu hal bisa dijelaskan dengan rincian yang luar biasa.

Mengapa kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk melengkapi hal-hal yang secara realistis tak bisa diselesaikan?

Kita punya batas, yang begitu mematahkan hati, batas yang memalukan: kematian. Itulah sebabnya kita suka semua hal yang kita anggap tak berbatas, dan karenanya, tak berakhir. Itu adalah pelarian dari pikiran tentang kematian. Kita suka daftar-daftar karena kita takut mati.

Dalam pameran Anda di Louvre, Anda juga menunjukkan karya-karya seni rupa, seperti lukisan benda-benda. Tetapi lukisan-lukisan ini berbingkai, atau berbatas, dan tidak bisa menggambarkan hal-hal lain selain apa yang telah digambarkan.

Sebaliknya, alasan kita begitu mencintai lukisan-lukisan itu adalah karena kita percaya bahwa kita dapat melihat lebih banyak hal di dalamnya. Seseorang yang merenungkan sebuah lukisan merasa perlu membuka bingkai dan melihat bagaimana hal-hal terlihat dari ke kiri dan kanan lukisan itu. Lukisan semacam ini sungguh seperti sebuah daftar, sebuah potongan dari ketakterhinggaan.

Mengapa daftar-daftar dan kumpulan ini begitu penting bagi Anda?

Orang-orang dari Louvre mendatangi saya, menanyakan apakah saya mau mengkurasi pameran di sana, dan meminta saya untuk menyusun sebuah program acara. Gagasan bekerja di museum itu menarik bagi saya. Baru-baru ini saya sendirian di sana, dan saya merasa seperti karakter dalam novel Dan Brown. Indah dan menakutkan pada saat bersamaan. Saya tiba-tiba terpikir bahwa pameran itu akan berfokus pada daftar-daftar. Mengapa saya begitu tertarik pada subjek itu? Sulit mengatakannya. Saya menyukai daftar-daftar sama seperti orang lain menyukai sepakbola atau menjadi pedofilia. Tiap orang punya alasannya sendiri.

Namun Anda terkenal mampu menjelaskan gairah Anda…

…tetapi tidak dengan cara membicarakan diri sendiri. Sejak masa Aristoteles, kita telah berusaha mendefinisikan sesuatu berdasarkan esensinya. Apa definisi manusia? Hewan yang bertindak dengan kesadaran. Butuh 80 tahun bagi para ahli ilmu alam untuk mendefinisikan platipus. Mereka menyadari betapa sulitnya menggambarkan esensi binatang ini. Ia hidup di air dan di darat; ia bertelur, tetapi ia adalah mamalia. Jadi seperti apa definisi itu? Ia adalah sebuah daftar, daftar sifat-sifat.

Sebuah definisi pasti bisa dibuat untuk hewan yang lebih umum.

Mungkin, tetapi apakah itu akan membuat binatang tetap menarik? Perhatikan harimau, yang digambarkan oleh ilmu pengetahuan sebagai seekor pemangsa. Bagaimana seorang ibu akan menggambarkan harimau kepada anaknya? Mungkin dengan menggunakan daftar sifat-sifatnya: Harimau itu binatang yang besar, seekor kucing, berwarna kuning, berloreng, dan kuat. Hanya seorang ahli kimia yang akan mengacu air sebagai H2O. Saya bilang ia cair dan transparan, kita meminumnya, dan kita mencuci tangan dengannya. Kini Anda bisa melihat apa yang saya bicarakan. Daftar adalah tanda dari masyarakat yang sangat maju dan berbudaya, karena daftar membuat kita bisa mempertanyakan definisi berdasar esensi. Definisi berdasar esensi itu primitif jika dibandingkan dengan daftar.

Tampaknya Anda hendak mengatakan bahwa kita mesti berhenti mendefinisikan hal-hal dan bahwa kemajuan berarti hanya menghitung dan mendaftar berbagai hal.

Ini bisa membebaskan. Era Barok adalah era daftar. Tiba-tiba, semua definisi skolastik yang telah dibuat pada era sebelumnya tidak lagi berlaku. Orang-orang mencoba melihat dunia dari sudut pandang berbeda. Galileo menggambarkan rincian baru tentang bulan. Dan, dalam seni rupa, definisi-definisi mapan secara harfiah dihancuran, dan subjek seni rupa menjadi jauh lebih luas. Misalnya, saya melihat lukisan Barok Belanda sebagai daftar: lukisan tentang benda dengan semua buah-buahan dan gambar hal-hal mewah yang serbamenarik. Daftar-daftar bisa menjadi anarkistis.

Tapi Anda juga mengatakan bahwa daftar dapat menciptakan keteraturan. Jadi, keduanya berlaku, baik keteraturan maupun kekacauan? Itu akan membuat Internet, dan daftar-daftar yang dibuat Google, sempurna untuk Anda.

Ya, dalam kasus Google, dua hal itu menyatu. Google membuat daftar, tapi begitu saya melihat daftar yang disusun Google untuk saya, itu sudah berubah. Daftar-daftar ini bisa berbahaya—bukan untuk orang tua seperti saya, yang telah memperoleh pengetahuan dengan cara lain, tetapi untuk orang-orang muda, untuk mereka Google adalah tragedi. Sekolah harus mengajarkan keahlian tentang bagaimana menjadi diskriminatif.

Apakah maksud Anda para guru harus mengajarkan perbedaan antara baik dan buruk? Jika demikian, bagaimana seharusnya mereka melakukannya?

Pendidikan harus kembali seperti yang dipraktikkan di bengkel-bengkel kerja zaman Renaisans. Di sana, para guru belum tentu mampu menjelaskan secara teoritis kepada siswa mengapa sebuah lukisan bagus, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang lebih praktis. Lihat, jarimu bisa terlihat seperti ini, dan seperti inilah ia seharusnya terlihat. Perhatikan, ini adalah campuran warna yang bagus. Pendekatan yang sama harus digunakan di sekolah ketika berhadapan dengan internet. Guru harus mengatakan: “Pilih satu subjek lama, entah itu sejarah Jerman atau kehidupan semut. Cari 25 halaman web yang berbeda dan, dengan membandingkan halaman-halaman itu, coba cari tahu mana yang punya informasi yang baik…” Jika 10 halaman menggambarkan hal yang sama, itu bisa menjadi tanda bahwa informasi yang tercetak di sana benar. Tetapi bisa juga menjadi tanda bahwa sebagian situs hanya menyalin kesalahan situs yang lain.

Anda sendiri tampaknya lebih suka bekerja dengan buku-buku, dan Anda punya perpustakaan dengan koleksi 30.000 buku. Tanpa sebuah daftar atau katalog, itu mungkin tak ada gunanya.

Saya kira sekarang 50.000 buku. Ketika sekretaris saya ingin menyusun katalog koleksi saya, saya melarangnya. Minat saya terus berubah, dan begitu juga perpustakaan saya. Jika Anda terus-menerus mengubah minat Anda, perpustakaan Anda akan terus-menerus mengatakan sesuatu yang berbeda tentang Anda. Selain itu, bahkan tanpa katalog, saya dipaksa mengingat buku-buku saya. Saya punya lorong sastra yang panjangnya 70 meter. Saya melewatinya beberapa kali sehari, dan saya merasa nyaman ketika melakukannya. Kebudayaan tidak berarti tahu kapan Napoleon mati. Kebudayaan berarti tahu bagaimana saya bisa mendapatkan jawaban dalam dua menit. Tentu saja, kini saya dapat menemukan informasi seperti ini di internet dalam waktu singkat. Tapi, seperti yang sudah saya bilang, Anda tidak pernah bisa mengandalkan internet.

Dalam buku baru Anda, The Infinity of Lists, Anda memasukkan satu daftar menarik dari filsuf Prancis Roland Barthes. Dia mendaftar hal-hal yang disukai dan tak disukainya. Dia suka salad, kayu manis, keju dan rempah-rempah. Dia tidak suka pesepeda, perempuan bercelana panjang, bunga geranium, buah arbei, dan piano tua. Bagaimana dengan Anda?

Saya bodoh kalau menjawabnya; itu berarti menekan diri saya sendiri. Saya terpesona dengan Stendhal pada umur 13 dan dengan Thomas Mann pada umur 15 dan, pada umur 16, saya menyukai Chopin. Kemudian saya menghabiskan hidup saya untuk mengenal sisanya. Saat ini, Chopin, sekali lagi, berada di bagian teratas. Jika Anda berinteraksi dengan hal-hal dalam hidup Anda, semuanya terus berubah. Dan jika tidak ada perubahan, Anda bodoh.

 

Diterjemahkan oleh Antariksa dari “We Like Lists Because We Don’t Want to Die”, Der Spiegel edisi Bahasa Inggris, 11 November 2009:
http://www.spiegel.de/international/zeitgeist/spiegel-interview-with-umberto-eco-we-like-lists-because-we-don-t-want-to-die-a-659577.html

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in