The Tielman Brothers, Sebuah CD, dan Kearsipan Kita Oleh EKKY IMANJAYA

ilustrasi_tielman2“Halo Amsterdam,” sapa Andy Tielman kepada ribuan warga Belanda. Massa pun menyambut dengan tepuk sorak. Dan Rayuan Pulau Kelapa pun terlantun dari mulutnya, diiringi Rene Van Barneveld (alias Tres Manos dari Urban Dance Squad) dan Dinand Woesthoff (vokalis Kane, salah satu band rock paling popular di Belanda saat ini). Dan di tengah-tengah lagu, musik berganti dengan Olesio Sayange. Saat itu, Mereka bernyanyi untuk menggalang dana untuk korban Tsunami Aceh, Desember 2004. Andy Tielman, sang penerima gelar Orde van Oranje-Nassau langsung dari Sri Ratu pada 2005 karena “jasanya dalam mengembangkan musik negeri Belanda” ini masih aktif bermusik dan acap diundang, khususnya di ajang Pasar Malam di setiap kota, dan bahkan saat Hari Ratu 30 April lalu ia bernyanyi di depan Ratu Belanda.

Kita dapat menyaksikan klip ini di YouTube. Dan warga Indonesia sudah selayaknya berterima kasih pada situs ini, karena mereka mengarsipkan banyak sekali memori yang nyaris hilang dari ingatan bangsa Indonesia. Dari pidato Bung Karno hingga Selecta Pop. Termasuk aksi gila-gilaan Andy Tielman dan saudara-saudaranya yang tergabung dalam Tielman Brothers, sejak 1958. Kita dapat saksikan mereka berguling dan mempermainkan gitar jauh sebelum Jimi Hendrix melakukannya. Atau membanting gitar, yang konon menginspirasi The Who. Dan saat itu Paul McCartney dan George Harrison Dari The Beatles, konon kabarnya, ada di antara penonton. Golden Earring adalah salah satu band Belanda yang memuja mereka.

Bangsa kita sedang mengidap Amnesia Akut, gejala yang disitir oleh Andreas Huyssen, dalam Twilight Memories, Making Time in a Culture of Amnesia (Routledge, 1995). Dapat dipastikan, akan sulit ditemui jejak-jejak The Tielman Brothers ini dalam arsip atau pengaruh musik Indonesia. Untunglah ada Jakarta Rock Parade yang mengundang Andy Tielman, yang masih aktif bermusik, untuk bermain dan berkolaborasi dengan beberapa musisi seperti Awan (Sore), David Tarigan, dan Emil (Naif) pada 12 Juli di Tennis Indoors Senayan Jakarta. Juga ada Rolling Stone Indonesia (RSI) khususnya edisi 29/2007 yang membuat pembicaraan soal mereka menjadi gencar (Adib Hidayat, sang pemimpin redaksi RSI menyatakan bahwa bahkan Rolling Stone pusat kaget dan baru tahu tentang fenomena ini!).

Dan Youtube membuatnya kekal, dan sadar atau tak sadar menjadi mediasi bagi kelangsungan memori kolektif bangsa kita, seperti yang digarisbawahi Jose van Dijk dalam Mediated Remains in the Digital Age (Stanford University Press, 2007).

Padahal, pengarsipan sangat penting, bukan bagi masa lampau itu sendiri, tapi justru—seperti yang ditekankan Jacques Derrida dalam Archive Fever (University Of Chicago Press, 1998)—untuk masa depan. Bahkan Derrida menyebut istilah “messianicity” sebagai fungsi arsip.

Tielman Brothers adalah salah satu pelopor genre Indo-Rock. Mereka adalah Reggy (lahir di ssurabaya, 20 Mei 1933), Ponthon (Jember 4 Agustus 1934), Andy (Makassar 30 Mei 1936), Loulou (Surabaya, 30 Oktober 1938), juga Jane sang saudari, dan orang tua mereka, Herman dan Flora. Mereka memulai gerakan “ngak ngik ngok” sejak 1945, di Surabaya, karena sang ayah adalah kapten KNIL yang bertugas di sana. Nama mereka saat itu, The Timor Rhythm Brothers. Setelah hijrah ke Belanda pada 1957, karena menolak menjadi warge Negara Indonesia dan Herman merasa karir mereka akan lebih cemerlang di Eropa, empat bersaudara ini menjadi pusatnya, dan beberapa musisi turut bergabung. Dan mereka pun menjadi legenda.

Namun, di Indonesia, siapa yang mengenal grup yang terkenal dengan bas betot, solo drum, dan aksi tongkat drum dipukul-pukul ke gitar ini? Bahkan di Belanda pun, album-album mereka sangat susah di dapat. Salah satu yang masih tersisa adalah The Tielman Brothers 1964-1965. Itu pun produksi Jerman, Bear Family Records, tahun 1997 (mungkin karena Andy tinggal di sana bersama Carmen sang istri dan Lorraine Jane putrinya yang masih ABG?).

Mereka seolah tak melupakan akar, seperti Andy di ajang Malam Amal Tsunami tadi, lagu-lagu dari Indonesia pun dibawakan. Misalnya Patah Tjingke yang berirama “Ambon Cha Cha”. Simak saja Kekasihku yang refrainnya dinyanyikan secara koor. Atau Ketjil Ketjil yang berpantun ria. Sedangkan Ole Sio tentang “Ambon tanah yang ku cinta” dan kerinduan mereka untuk pulang. Dan Dewiku adalah modal buat ngegombal bagi para lajang, lengkap dengan ambient A Taste of Honey dan lirik “…berlayar di laut impian”.

Di album ini, Anda akan bertemu karya orisinal mereka, seperti Love So True, Yes I’m In Loe, Little Girl, dan Don’t Go Away. Seperti kebanyakan band saat itu, mereka juga memainkan lagu-lagu popular, seperti Long Tall Sally, Pretty Woman, Sweet Little Sixteen, Unchained Melody, dan Moon River. Tentu saja, tak ketinggalan lagu syahdu semacam Maria dan Bring it on home to Me, atau In My Room. Sementara Mukwai Hula berirama Hawaiian.

Ada beberapa kesalahan data dalam info pada CD. Ada lagu Beatles yang mereka mainkan, tertulis Close Your Eyes (kalimat pertama di lagu itu), harusnya All My Loving. Dan yang terparah adalah lagu Put on Your Eyes yang tertulis karya Lennon-McCartney). Padahal judul aslinya Hi-Heel Sneakers, kaya Robert Higginbotham. Lagu ini awalnya dinyanyikan Johny Rivers, dan pada 1964 Tummy Tucker dan Jerry Lee Lewis mempopulerkannya. Mungkin, sang perusahaan rekamannya ingin mengikuti jejak Close Your Eyes dengan mencatut baris pertama liriknya. Tapi itu pun salah, karena seharusnya Put on Your Red Dress. Sayang sekali, kesalahan “kecil” ini agak menganggu, apalagi jika sang pendengar adalah pengagum The Beatles. Ini adalah bagian dari kacaunya kearsipan permusikan, tidak hanya di Indonesia, tapi dunia.

Soal “kesalahan”, saya punya pengalaman menarik saat mencari apa judul sesungguhnya dari Olesio Sayange. Ada banyak versi soal judul. CD the Best of Tielman Brothers 1964/ 1965 ada lagi Patah Tjingke yang mengandung lirik dan irama itu: tapi diakhir lagu ditambah oleh Tielman Brothers dengan lirik “olesio sayange, tanah ambon sudah jauh”. Penambahan atau improvisasi serupa dilakukan Andy Tielman dalam aksi penggalaman dana korban tsunami, seperti yang saya sebut di atas. Tapi rupanya ada versi lain Patah Cengkeh yang sama sekali berbeda. Ada yang menyebutnya dengan Ole Sio, walau ternyata ada lagi tembang yang sama sekali berbeda berjudul sama. Ada juga yang menamakannya Olesio Sayange dan itulah yang saya pakai—dan sayangnya tidak ada dalam CD ini.

Yang asyik, di dalam CD ada banyak foto eksklusif mereka sedang melakukan aksi gila-gilaan khas mereka, saat pentas di Kaskade, Koln, 1966.

Dan adakah yang bisa kita lakukan untuk menghargai mereka? Setidaknya, berterima kasihlah kepada YouTube, dan orang-orang yang mengunggah klip-klip mereka.

EKKY IMANJAYA, editor www.rumahfilm.org, lulusan Kajian Film Universitas Amsterdam. Kini tengah membuat film dokumenter tentang The Tielman Brothers. Bukunya yang akan terbit adalah Jus Musik.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in