Semua Bertemu di Alun-alun Yogya: Kota Sebagai Kerja Imajinasi Bersama

Oleh Ferdiansyah Thajib

alun2

Alun-alun Yogyakarta, adalah ruang di mana “semuanya” bertemu. Melampaui wujud fisiknya yang mempertemukan orang dan benda-benda, ia  menjadi simpul yang menjalin masa lalu dan masa kini. Kalau yang pertama tertanam dalam tegangan antara sejarah, simbol, kosmologi, tradisi dan kekuasaan, maka kini ia menjadi arena yang mengeraskan ketegangan antara praktik kewargaan,  fungsi tata kota, budaya, politik, laku spiritual, demokratisasi, kapital, dan/atau, lagi-lagi, kekuasaan. Melalui dua tanah lapang yang terletak di pusat kota ini, semestinya identitas sebuah kota seperti Yogyakarta bisa dikenali. Di lahan yang luasnya tak seberapa  ini (dibandingkan dengan ukuran kampus atau mall) seharusnya sebuah ruangan bersama warga kota ke masa depan bisa dibangun dan dilanjutkan. Seharusnya, karena tidak demikian yang terjadi.

Upaya-upaya menjelaskan sebuah ruang bersama seperti Alun-alun di kota-kota di Jawa, kerap terbentur dengan hiruk pikuknya pernyataan (non-fisik) dan/atau kenyataan (fisik) fenomena yang mau dihadapi. Kajian-kajian sosial yang ada mendapat kesulitan menyediakan analisa dan interpretasi yang kuat atas “kebenaran ruang” Alun-alun ini. Amatan sejarah misalnya, ketimbang berhasil merunutkan peristiwa-peristiwa yang menyusun ruang Alun-alun malah cenderung melebar ke lapis-lapis kelisanan fakta sejarah itu sendiri yang kerap hadir berlawanan. Kajian yang sifatnya arsitektural maupun geografis – baik yang menghendaki gambaran maupun penataan, lebih sering kelimpungan menghadapi bentangannya yang berubah dan bertambah begitu cepat. Upaya menelurkan pengetahuan tentang ruang yang dihidupi bersama: Alun-alun, kota, dan seterusnya, hanya mewujudkan entah gugusan kisah yang terlalu samar untuk disepakati sebagai sebuah “kenyataan” atau satu kerumunan besar yang tak pernah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan tepat. Melebihi soal keterbatasan perangkat yang digunakan, adalah keragaman imajinasi tentang/ di Alun-alun itu sendiri yang nyaris tanpa batas dan peliknya hubungan antara imajinasi-imajinasi tersebut.

Baca lebih lanjut disini.
Artikel ini diterbitkan di situs Space/Scape Project

About author
Wok The Rock is a media artist live and work in Yogyakarta, Indonesia. He also runs a netlabel (internet-based records label) Yes No Wave Music.
Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in