Seminar “Purloined Letter” (Bagian IV dari IV), Jacques Lacan

Ilustrasi: Gareth Southwell http://www.woodpig.com/

Ilustrasi: Gareth Southwell http://www.woodpig.com/

Dengan ini dapat kita lihat pergeseran imajiner antar karakter, yaitu ketika Menteri terlibat hubungan narsisistik tanpa ia sadari. Dikatakan oleh narator bahwa ” Kekuasaan Menteri, demikian menurut ceritanya, tergantung pada pengetahuan pencuri atas pengetahuan si pecundang tentang sang pencuri”. Kata-kata ini kemudian ditekankan lagi oleh penulis ketika Dupin mengulangi lagi kalimat tersebut setelah adegan pencurian surat. Sekali lagi kita temukan bahwa Baudelaire tidak tepat dalam memilih kata-kata ketika yang satu bertanya dan yang lain menjawab: Le voleur sait-il? (Apakah pencurinya tahu?), lantas Le voleur sait (pencuri tahu) Apa? “que le personne volee connait son voleur” (bahwa si pencundang tahu siapa yang telah mencuri darinya).

Yang terpenting bagi pencuri bukanlah hanya orang yang dikatakan tahu siapa yang mencuri darinya, namun pencuri macam apa yang sedang ia hadapi, karena dia percaya bahwa pencuri itu mampu melakukan segalanya, yang harus dipahami bahwa Ratu telah memposisikan Menteri pada sesuatu yang tidak dapat diperkirakan, karena sifatnya imajiner, katakan saja penguasaan absolut.

Pada kenyataannya, posisi itu justru merupakan kelemahan absolut, namun tak seorangpun dari mereka percaya itu. Buktinya bukan hanya Ratu kemudian berani memanggil polisi. Karena ia hanya menempatkan displacementnya pada tahap selanjutnya dalam skema segitiga, dengan mewariskan kebutaan yang dibutuhkan untuk mengisi posisi tersebut, “Tidak ada agen yang lebih bijak, saya pikir” ujar Dupin dengan ironik “begitu diinginkan atau bahkan diangankan” .

Tidak, kalaupun langkah itu ditempuhnya, bukan hanya karena didorong oleh kesedihan, tapi juga harga sebuah ketidaksabaran yang dikenakan pada bayangan cermin.

Karena Menteri kemudian dengan tenangnya sibuk menutupi dirinya dengan kejumudan yang kini menjadi daerah kekuasaannya. Nyatanya, Menteri tidak sepenuhnya sinting. Itulah pendapat Prefek, yang setiap perkataannya adalah emas, ketika kata-katanya mengalir dalam bentuk emas untuk Dupin dan akan terus mengalir sampai jumlahnya mencapai lima puluh ribu francs, tentu dengan memberikan dia sedikit sisa keuntungan. Maka Menteri tidak sepenuhnya sinting dalam stagnasinya yang tidak waras dan oleh karena itu dia bertindak sesuai dengan cara-cara neurosis. Seperti si lelaki yang menarik diri ke pulau terpencil untuk melupakan, melupakan apa? – Dia lupa. Begitu juga Menteri, dengan tidak memanfaatkan surat sampai ia lupa. Seperti yang secara konsisten ditunjukkan oleh tindak tanduknya. Tapi surat itu, yang tidak banyak berbeda dengan alam bawah sadar orang neurotik, tidak melupakan dia. Surat itu begitu mengingatnya sehingga mengubahnya menjadi semakin mirip citra dari Ratu yang hanya bisa berpasrah diri ketika pencurian terjadi, sehingga pada gilirannya ia pun juga menyerah, mengikuti ratu, sama-sama menjadi korban pencurian.

Sifat-sifat perubahan ini tercatat dan dengan bentuk kepasrahan yang begitu miripnya sehingga bisa dibandingkan dengan pengalaman direpresi.

Sehingga pada gilirannya Menteri menyerahkan surat tersebut, meskipun tidak sekasar cara Ratu, tapi dengan tekun. Sehingga ia harus bergerak, sesuai dengan metode melipat dan menutup surat untuk memberikan ruang bagi alamat baru untuk dituliskan.

Alamatnya diubah menjadi alamatnya sendiri. Entah dengan tangannya atau bukan, tulisan yang dibubuhkan tampak begitu feminin dan amplopnya berubah yang berwarna merah kemudian berubah menjadi hitam, kemudian dia memberikan stempel. Keganjilan sebuah surat yang ditandai oleh stempel penerima cukup menarik perhatian, karena meskipun secara paksa dimuat dalam teks, itu tidak dibicarakan oleh Dupin ketika membahas proses pengidentifikasian surat.

Apakah penghilangan ini disengaja atau secara paksa, hal ini cukup mengejutkan mengingat prinsip ekonomi kerja Poe yang demikian berhati-hati dan teliti. Tapi bagaimanapun juga yang penting adalah bahwa surat yang oleh Menteri ditujukan kepada dirinya sendiri dibuat seakan-akan datang dari seorang perempuan, seolah ini adalah fase yang harus dilaluinya keluar dari afinitas alami terhadap penanda.

Sementara itu aura apatis, yang semakin condong pada cara kebanci-bancian, pemaparan akan kelelahan yang hampir-hampir menjijikan dalam percakapan mereka, perangai pengarang atas filosofi furnitur dapat menyatakan keterperincian yang semu (seperti instrumen musik di meja), semuanya seperti ditujukan untuk satu karakter, semua yang ucapan-ucapannya telah menggambarkan ciri dengan sangat kuat, untuk menawarkan odor di femina (aroma feminin) yang paling ganjil, ketika Dupin datang.

Dupin berhasil mengenalinya sebagai permukaan saja, dengan menggambarkannya sebagai kejahatan monster pemangsa yang siap melompat dari balik gaun terbaik. Tapi inilah efek utama dari bawah sadar, yang dengan begitu tepat dinyatakan sebagai alam bawah sadar manusia dikuasai oleh penanda; Peristiwa inilah yang secara indah disampaikan oleh Poe melalui bantuan Dupin. Dengan kerangka pikir ini, ia merujuk pada tulisan-tulisan toponimik pada peta geografis, seperti bermain tebak-tebakan siapa yang mampu menemukan suatu nama dengan cepat? Sambil menyadari bahwa nama yang paling akan sulit ditemukan oleh pemula adalah justru nama dalam huruf besar yang dibentangkan di sepanjang peta, yang justru tidak diperhatikan, yaitu nama dari satu negara.

Begitu juga dengan “Surat Yang Hilang”, seperti tubuh perempuan raksasa, terbentang dari kantor Menteri, ketika Dupin masuk. Yang untuk menemukannya ia hanya harus menelanjangi tubuh raksasa tersebut dengan bantuan kaca mata berlensa hijaunya.

Oleh karena itu, dengan mendengarkan perkataan Profesor Freud, ia akan langsung menuju titik di mana tubuh itu bersembunyi. Di sana, di antara perapian, dalam jangkauan tangan, di atas gantungan mantel atau di bawahnya seperti yang dikatakan oleh Baudelaire.

Apakah efektifitas dari simbol kemudian berhenti di sana? Akankah itu juga berarti kewajiban simbolis terpadamkan? Dengan melihat dua babak sebelum ini maka dapat kita simpulkan bahwa konflik ini akan masih akan berlanjut.

Pertama, masih ada permasalahan pembayaran yang diterima Dupin, yang bukannya diceritakan di bagian akhir, justru disampaikan di bagian awal cerita, dalam pertanyaannya yang terlontar tanpa sadar kepada Prefek mengenai jumlah hadiah yang dijanjikan. Yang dijawab oleh Prefek dengan tandas kepada Dupin meskipun sebenarnya ia segan untuk menyebutkan angka yang sedemikian besar di depan orang lain. Bahkan ia kemudian membicarakan tentang kenaikan.

Fakta bahwa sebelumnya Dupin digambarkan sebagai seorang yang tampak miskin harusnya mampu menggiring kita kepada bayangan akan suatu transaksi dari pengembalian surat, yang secara tersirat ia nyatakan dan segera terlihat bersamaan dengan buku cek yang ia keluarkan dari laci. Kita tidak mengabaikan pertanda yang ia utarakan lewat “cerita tentang seorang tokoh, yang terkenal dan juga eksentrik”, Baudelaire menyampaikannya pada kita, yaitu seorang dokter berkebangsaan Inggris bernama Abernethy, seorang kaya yang kikir, yang mencoba meminta pendapat medis, dan dikatakan padanya untuk tidak meminum obat tapi menerima saran. (not to take medicine but take advice).

Tidakkah kita prihatin ketika bagi Dupin apa yang mungkin menjadi taruhannya adalah pengunduran diri dari arena simbolik tentang surat- karena sekarang kitalah utusan dari semua surat yang hilang, setidaknya untuk waktu yang tersisa dalam penderitaan bersama kita dalam transferensi? Dan bukankah menjadi semacam keharusan tanggung jawab transferensi yang kemudian dinetralisasikan untuk menyamakannya dengan signifier paling destruktif dari semua pemaknaan, yaitu: uang.

Bukan hanya itu. Jika keuntungan yang didapatkan Dupin dari eksploitasinya adalah untuk memberikan alasan baginya untuk keluar dari permainan maka akan menjadi lebih paradoksal, karena kemudian ia mengijinkan dirinya sendiri untuk kabur dari Menteri, yang keistimewaannya telah digembosi oleh permainan Dupin.

Kita telah mengutip ungkapan kejam yang ditulis Dupin dalam surat palsu, yang didedikasikannya pada saat Menteri, marah oleh kekurangajaran si Ratu, akan berpikir bahwa ia sedang menghancurkan dan menenggelamkannya di laut terdalam: facilis descencus Avernii, keangkuhannya bertambah dengan mengatakan Menteri pasti akan mengenali tulisan tangannya, yang karena berhasil menyingkirkan resiko atas penghancuran nama baik akan tampak seperti seseorang yang bernilai, yang menang tanpa kejayaan, semua kebencian ini bermula dari perlakuan jahat yang ia terima di Wina, kebencian yang hanya menambahkan titik hitam pada kegelapan.

Mari kita pertimbangkan lebih jauh ledakan perasaan ini dan khususnya pada saat tingkat keberhasilan suatu aksi ditentukan oleh kepala yang dingin.

Hal ini justru muncul setelah bagian paling penting, yaitu pengidentifikasian surat telah tercapai, dapat dikatakan dia telah memiliki surat itu begitu ia memegangnya namun tanpa kesempatan untuk membawanya kabur.

Faktanya, dia secara penuh telah berpartisipasi dalam segitiga intersubyektif, dengan mengisi satu posisi yang belum terisi oleh Ratu dan Menteri. Apakah kedudukannya sebagai yang di atas lantas menunjukkan maksud pengarang?

Jika dia telah berhasil mengembalikan surat itu ke jalurnya semula, maka menjadi tugasnya untuk mengantarkannya langsung ke alamatnya. Dan alamatnya terletak pada tempat yang tadinya diisi sang Raja, karena di sanalah ia akan masuk kembali ke dalam aturan Hukum.

Seperti sudah diketahui bahwa baik Raja maupun polisi tidak dapat membaca surat itu karena posisi mereka mensyaratkan kebutaan.

Rex et augur [23], sebuah kalimat kuno yang legendaris, yang artinya hanya digaungkan untuk membuat kita terkesan atas penerapannya yang absurd pada manusia. Dan tokoh-tokoh sejarah mencegah kita untuk melakukannya. Karena tidaklah manusiawi untuk mengemban sendirian beban dari penanda tertinggi. Dan tempat yang ia isi mungkin akan tepat jika ia menjadi simbol dari ketololan yang paling luar biasa.

Kita katakan saja Raja di sini diberikan kuasa taksa (equivocal) [24] dari yang alami sampai yang suci, lengkap dengan ketololan yang menghadiahkan Subyek itu sendiri.

Pengertian itulah yang akan kita kenakan pada siapapun yang mengisi posisinya kemudian. Bukan berarti polisi sudah diciptakan bodoh sejak awal, namun polisi di sini hanya melaksanakan bentuk-bentuk liberalisme, yang memerintahkan untuk bertindak secara menyeluruh dan menutup kemungkinan untuk bertindak gegabah dengan bersikap masa bodoh. Oleh karena itu kata-kata menjadi tidak begitu tercerna seperti yang diharapkan ketika satu satu nya prinsip yang berlaku bagi polisi adalah: “Sutor ne ultra crepidam”, urus saja para penjahat. Kami akan memberikan cara –cara ilmiah bagi anda untuk melakukannya, yang akan membantumu untuk tidak memikirkan kebenaran karena tempatmu ada di kegelapan.

Setelah memahami bahwa kebebasan yang dihasilkan dari prinsip-prinsip yang berhati-hati ini hanya akan berlangsung singkat dalam sejarah, karena di manapun sekarang yang berkembang adalah lanjutan menuju aspirasi supremasi kebebasan, sebuah ketertarikan pada mereka yang bergerak di bidang penganggulangan kejahatan, yang justru sarat dengan pemalsuan bukti-bukti. Bahkan praktek-praktek ini , yang biasanya diterima dengan baik jika mewakili suara mayoritas, diotentikan melalui pengakuan secara publik atas pemalsuan oleh mereka yang ditugaskan sebagai pencegah; manifestasi paling mutakhir dari dominasi penanda atas subyek.

Tetap saja, dokumen polisi menjadi obyek bagi simpanan tertentu, hanya saja yang mengherankan jumlahnya bahkan bisa melampaui kumpulan sejarawan.

Berkat penghargaan yang semakin punah inilah, Dupin sengaja mengantarkan surat tersebut ke Prefek Polisi, dan sekaligus menyelesaikan pergeseran. Sekarang apakah yang menjadi penanda ketika pesannya sudah dibebaskan, untuk si Ratu, segera setelah surat itu tidak lagi di tangan Menteri, hal ini sudah tidak valid lagi.

Pertanyaannya sekarang tinggal apa yang bertahan sebagai penanda ketika tidak ada lagi pemaknaaan. Pertanyaan ini pula yang diajukan oleh orang yang dikirim oleh Dupin ke titik yang menandakan kebutaan.

Memang pertanyaan inilah yang membawa Menteri ke sana, jika dia adalah penjudi seperti yang diceritakan, dan tindakannya juga mendukung situasi itu. Karena hasrat penjudi adalah pertanyaan mengenai penanda, yang terbentuk dari otomaton kesempatan.

“Apakah kamu, bentuk dari kematian, yang aku putarbalikkan dalam perjumpaanmu dengan keberuntunganku? (What are you figure of the die I turn over in your encounter (thyce) with my fortune?) Tak ada yang lain selain kehadiran kematian yang membuat kehidupan manusia sebuah permaafan yang dikumpulkan hari demi hari atas nama makna dengan tanda sebagai pegangan. Begitu lah Scheherazade dalam 1001 malam dan juga saya selama 18 bulan ini dikuasai oleh tanda dalam rangkaian yang memusingkan pada tikungan-tikungan yang menipu pada permainan genap-ganjil.

Demikian Dupin di tempat yang diisinya sekarang, tidak dapat menolak kemarahan yang secara feminin diarahkan padanya melalui pertanyaan itu. Citra prestisius yang mengandung kekreatifan penyair, ketepatan ahli matematika bergabungan dengan keanggunan yang dandy dan curang menjadi semacam monstrum horrendum, yang dalam kata-kata Dupin sendiri “seorang lelaki jenius tanpa prinsip”.

Di sinilah asal muasal pengkhianatan horor tersebut, dan dia yang mengalaminya tak perlu menyatakan diri sebagai pencinta wanita hanya untuk mengungkapkan kepada kita, karena kita tahu para wanita membenci pertanyaan mengenai hal-hal yang prinsip, karena keanggunan mereka terletak pada misteri dari penanda.

Itulah mengapa Dupin pada akhirnya hanya akan menunjukkan wajah medusa penanda kepada kita, tak ada satupun yang dapat melihat wajah aslinya kecuali pada sang Ratu. Ungkapan yang tepat untuk menyatakan ramalan bahwa wajah menanggung ekspresinya adalah:

“Un destin si funeste/ s’il n’est d’Atree, est digne de Thyste.”

Kemudian penanda akan menjawab mengatasi semua pemaknaan: “Kamu pikir kamu sedang bertindak ketika saya mendorong anda ke dalam kuasa pertalian yang saya ikatkan dengan hasrat anda. Kemudian mereka tumbuh dan berlipatganda dalam obyek-obyek membawa anda kembali pada pecahan masa kanak-kanak anda yang tercerai-berai. Maka terjadilah: biarkan ia menjadi perayaan anda sampai kembalinya sang tamu yang batu, saya akan datang untuk anda karena anda yang memanggil.”

(“You think you act when I stir you at the mercy of the bonds through which I knot your desires. Thus do they grow and multiply in objects, bringing you back to the fragmentation of your shattered childhood. So be it: such will be your feast until the return of the stone guest I shall be for you since you call me forth”)

Atau dalam nada yang lebih lunak seperti yang telah dinyatakan pada Kongres di Zurich tahun lalu, kami menyampaikan semacam kata kunci dalam bahasa lokal. Penanda nya akan menjawab pada siapapun yang mengatakan: Makan Nih Dasein! (Eat your Dasein!)

Itukah yang menantikan Menteri dalam pertemuannya dengan takdir? Dupin meyakinkan kita akan hal itu, tapi kita juga paham untuk tidak terlalu memercayai ucapan-ucapannya.

Tidak diragukan si mahluk lurus kini direduksi pada situasi kebutaan seperti layaknya seorang lelaki yang susah dituliskan nasibnya di dinding. Apakah yang akan terjadi jika ratu kemudian memancingnya untuk berhadapan dengan Menteri? Cinta atau benci. Kebutaannya hanya akan membuat tangannya tak berdaya, sedangkan yang kedua pandai tapi tidak ingin membangkitkan kecurigaan. Namun jika Menteri benar-benar penjudi, ia akan melihat kartunya untuk terakhir kali sebelum meletakkannya dan berlalu pada saat yang tepat demi mencegah rasa malu.

Apakah hanya itu? Apakah kita bisa memercayai kalau kita sudah menerjemahkan strategi Dupin yang sebenarnya, melampaui trik-trik yang ia sudah berikan kepada kita? Ya, karena “pada situasi di mana refleksi dibutuhkan” seperti yang dinyatakan Dupin” periksalah ide-ide terbaik di dalam gelap” bahkan kita bisa membacanya di terik siang bolong. Sudah secara tersirat dinyatakan dan mudah ditangkap dalam judul cerita kita, berdasarkan formula yang telah kita berikan pada pertimbangan anda: di mana pengirim, menerima dari si penerima pesannya sendiri dalam bentuk terbalik. Itulah apa yang dimaksud The Purloined Letter, atau the letter in sufferance bahwa surat akan selalu sampai di tempat yang dituju [25].

Catatan Kaki

  1. Rex et augurs” secara harfiah artinya raja dan peramal. Pada jaman Romawi Kuno, raja memiliki status dan tugas kependetaan. Setelah raja diasingkan maka kata ‘rex’ terus diberikan kepada pendeta yang salah satu tugasnya juga meramal.
  2. Catatan penerjemah: equivocation: ambiguitas dalam percakapan, penggunaan kata-kata yang dapat diterima dalam dua pemaknaan; dalam logika-kessalahan yang muncul dari penggunaan sebuah kata yang tidak pasti atau bermakna dua (Webster New 20th Century Dictionary,1970)
  3. Selalu tiba di tempat yang dituju, formula ini merupakan favorit Lacan, ia kerap kali mengulanginya: Tampaknya seorang pendengar yang baik menyuarakan kembali dengan yang bawah sadar dalam komunikasi sadar si pembicara, dan responnya maka akan mengandung, dalam pengembaliannya kepada pembicara (dalam keadaan terbalik dan dengan menjadikan yang bawah sadar ,-sadar) apa yang tidak terkatakan oleh pembicara.

Diterjemahkan oleh FERDIANSYAH THAJIB dari John P. Muller dan William J. Richardson (eds.), 1998, The Purloined Poe, Lacan, Derrida and Psychoanalytic Reading, London, The John Hopkins University London @1998

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in