Seminar “Purloined Letter” (Bagian II dari IV), Jacques Lacan

 

Ilustrasi: Gareth Southwell http://www.woodpig.com

Ilustrasi: Gareth Southwell http://www.woodpig.com

Dialog pertama antara Prefek Polisi dan Dupin adalah semacam dialog antara yang tuli dan yang mendengar. Dalam cerita dipaparkan bagaimana jika segala sesuatu yang biasanya disederhanakan tapi disampaikan dalam kerumitan yang riil, maka hasil yang diperoleh adalah suatu kekacauan dalam konteks komunikasi.

Contoh ini menunjukkan gaya komunikasi Prefek yang menimbulkan kesan begitu kuat sehingga tak bisa ditembus oleh ahli teori sekalipun. Gaya komunikasi seperti ini hanya mengijinkan satu pengertian saja, sehingga seberapapun signifikan komentar yang diberikan kepadanya mau tak mau harus luput karena memang tidak ada pengertian lain di benaknya.

Dialog ini juga dapat dilihat sebagai suatu laporan, yang representasinya banyak dipengaruhi dengan ketepatan. Namun perlu diketahui bahwa dialog ini sebenarnya lebih kaya dari yang tampak. Untuk mengetahui secara lebih dalam, kita fokuskan amatan kita pada beberapa bagian di babak pertama.

Penempatan kawan/ kolega Dupin sebagai lapisan kedua atau bahkan ketiga dalam saringan subyektif bukanlah suatu ketidaksengajaan. Dari sudut pandangnya sebagai narator utama, kita diajak masuk ke adegan Prefek menyampaikan laporannya kepada Dupin,

Jika memang kondisinya sebagai narator utama mencegahnya untuk terlibat langsung dengan peristiwa, maka tidaklah tepat untuk menganggap bahwa fungsi narator di situ sekedar untuk meminjamkan kata-katanya pada Prefek, -yang kita ketahui begitu kering imajinasi.

Kenyataan bahwa pesan Prefek harus dikirim ulang menunjukkan ada dimensi bahasa yang melatarinya.

Mereka yang ada di sini tentu sudah mengetahui subyek yang sedang kita bicarakan ini, sifatnya berlawanan dengan bahasa lebah [8], sebuah kasus di mana para ahli linguistik hanya mampu menangkap sinyal sederhana atas lokasi dari suatu obyek. Dengan kata lain hanya fungsi imajiner yang dapat dibedakan atas yang lain.

Kami tegaskan bahwa bentuk komunikasi ini hadir pada manusia, betapapun fana arti dari suatu obyek pemberian alam baginya,betapapun ia tercerai dalam simbol-simbol.

Ada kesamaan yang dapat dicermati dari persatuan yang dibentuk antara kedua orang ini berdasarkan kebenciannya pada obyek yang sama; di luar itu pertemuan mereka hanya dimungkinkan atas satu obyek, seperti yang telah digambarkan dalam ciri-ciri mereka yang berlawanan.

Hanya saja komunikasi seperti ini menjadi tidak dapat dipancarkan dalam bentuk simbolik. Pola yang terbentuk hanya dapat dipertahankan apabila dihubungkan dengan obyek. Situasi seperti ini memungkinkan penyatuan subyek-subyek dalam jumlah tak terbatas pada satu “ideal” yang sama: di mana komunikasi antar satu subyek dengan yang lain, yang terbentuk dalam satu kelompok, menjadi termediasi oleh suatu hubungan yang tidak dapat dinyatakan.

Penyimpangan seperti ini bukan hanya untuk mengingatkan kita terhadap prinsip-prinsip yang kita tuduhkan sebagai pengabaian dari komunikasi non verbal, ia juga menegaskan bahwa; proses penentuan dalam kapasitas bagaimana wicara (speech) diulang adalah sama dengan menciptakan juga mempertanyakan apa yang diulang oleh gejala-gejala (symptoms).

Jadi penyampaian secara tidak langsung menyingkirkan dimensi linguistik dan narator utama,. Dengan teknik duplikasinya, cara ini secara hipotetik tidak menambahkan apapun pada narasi. Namun perannya di babak kedua menjadi lain sama sekali.
Babak kedua ini kemudian mengambil tempat yang berseberangan dengan yang pertama, kedudukannya menjadi saling berhadapan seperti antara kata-kata (words) dan wicara (speech) [9].

Maka yang sedang berlangsung adalah apa yang disebut pergeseran dari ranah ketepatan (exactitude) pada pengungkapan kebenaran. Setelah mencapai tahap ini, kita tidak perlu lagi berpaling ke belakang karena situasinya sudah lain sama sekali, yaitu pada bagian paling mendasar dalam intersubyektifitas. Di sana subyek tidak akan mencerap apa-apa kecuali subyektifitas itu sendiri, yang pada akhirnya hanya menentukan Yang Lain sebagai yang absolut. Kita harus berpuas diri dengan posisi kita sekarang, seperti yang digambarkan sebuah anekdot Yahudi. Dalam dialog tersebut dinyatakan semacam pemiskinan yang dialami melalui hubungan signifier terhadap wicara, begini bunyinya:

“Mengapa anda membohongi saya?” salah satu tokoh cerita berteriak kehabisan napas: “Ya, mengapa anda membohongi saya dengan mengatakan anda akan pergi ke Cracow, sehingga saya percaya anda sebenarnya akan pergi ke Lemberg, padahal kenyataannya anda sungguh-sungguh pergi ke Cracow?

Kita mungkin terpancing untuk menanyakan pertanyaan serupa ketika dihadapkan oleh begitu banyak logika-logika buntu, enigma-enigma erisitik, paradoks-paradoks dan bahkan lelucon-lelucon yang oleh Dupin diperkenalkan sebagai metode jika faktanya adalah semua itu disampaikan kepada kita dalam wujud pendelegasian, padahal sebenarnya tidak ada dimensi baru yang sebetulnya sedang disampaikan. Tidak diragukan lagi itulah yang disebut keajaiban warisan, di mana kepatuhan si saksi menjadi semacam cadar yang membutakan dan menanggalkan semua kritik pada pernyataan.

Adakah yang lebih meyakinkan daripada gerakan meletakan kartu di meja dalam keadaan terbuka? Kita terbujuk oleh kefanaan yang ditawarkan si pesulap, yang menurut janjinya akan mengungkap semua rahasia trik-triknya, padahal lagi-lagi ia memperbaharuinya dalam bentuk lainnya pada saat kita barusan saja memahami keunggulan signifier atas subyek.

Begitu juga manuver yang dilakukan Dupin ketika ia mulai bercerita tentang seorang anak jenius yang mengalahkan semua kawannya dalam permainan genap-ganjil, dengan menggunakan trik pengidentifikasian dirinya dengan lawan. Dari kasus ini kita diperlihatkan pengertian teori tentang perubahan intersubyektif (intersubjective alternation) selalu diikuti dengan proses benturan pada perulangan.

Lantas kita dihadapkan pada nama-nama terkenal seperti, La Rochefoucauld, La Bruyere, Machiavelli dan Campanella [10], yang bila dibandingkan dengan keberanian anak ini menjadi tak relevan.

Diikuti oleh Chamfort, yang dalam maksimnya mengatakan:..aman untuk mengatakan bahwa setiap ide khalayak, semua kesepakatan, adalah suatu kekonyolan karena cocok dengan jumlah terbanyak.” (it is a safe wager that every public idea, every convention is foolish since it suits the greatest number)

Dan ungkapan ini membuat semua yang berpikir bahwa dirinya berada di luar maksim itu merasa senang, yang ironisnya, merekalah yang justru dimaksud sebagai jumlah terbanyak itu. Mengenai tuduhan Dupin bahwa bangsa Prancis menyalahgunakan istilah analisis hanya diterapkan pada aljabar tidaklah mengancam martabat kita (Jacques Lacan berkebangsaan Prancis, -penerjemah) malah pembebasan istilah tersebut pada kegunaan lainlah yang kemudian mendorong para psikoanalis untuk mengambil-alih dan mengklaim haknya.

Bagi para pecinta Latin, Dupin memberikan komentar filologi yang cukup menyegarkan, dia sudi mengingatkan bahwa “ambitus tidak berarti ambisi, religio, agama, homines honesti, honest men atau orang jujur [11]. Sebagian dari anda mungkin dapat menghubungkan istilah-istilah ini dengan Cicero dan Lucretius. Tidak dapat disangkal bahwa Poe sedang bersenang-senang…

Tapi timbul perasaan curiga: apakah pameran fakta-fakta keilmuan ini dimaksudkan untuk mengungkapkan kata-kata kunci dari drama ini? Apakah pesulap itu tidak sedang lagi-lagi mengulangi triknya kepada kita? Ataukah meskipun kali ini ia tidak sedang menipu kita dengan menutup-nutupi rahasianya, bukankan justru malah menambah taruhannya sampai di titik mana ia benar-benar menjelaskannya kepada kita namun kita tak dapat melihatnya? Hal itulah yang disebut sebagai puncak dari seni ilusionis; melalui kreasi fiktifnya ia benar-benar menipu kita.

Bukankah itu juga yang mendorong kita untuk merujuk dengan naif pada beberapa pahlawan imajiner sebagai karakter-karakter riil?

Demikian juga ketika kita mendengarkan Martin Heidegger mengungkapkan kepada kita bahwa dalam kata aletheia -permainan kebenaran, kita menemukan kembali rahasia di mana kebenaran selalu berawal dari mereka yang mencintainya, dan dari sana mereka kemudian belajar bahwa dalam persembunyiannyalah kebenaran menawarkan dirinya yang sejati.

Oleh karena itu, meskipun komentar-komentar Dupin tidaklah terang-terangan menantang kita, kita harus tetap mencoba menentang godaan untuk melawannya.

Mari kita telusuri jejaknya, dimulai pada titik dia mencoba menghindar dari kita.

Pertama dalam kritik-kritiknya pada kegagalan Prefeks. Dari permukaan kita dapat mengenalinya sebagai ejekan halus, meskipun Prefeks tidak menangkapnya karena menganggapnya sebagai sekedar lelucon basa-basi. Dalam sindirannya Dupin mengatakan karena masalah tersebut terlalu sederhana dan terlalu jelas sehingga tampak kabur, sedangkan bagi Prefek candaan ini terasa hanya bagaikan gelitikan di perut.

Semuanya dibuat sedemikian rupa sehingga kita bisa menemukan semacam kebodohan-kebodohan pada diri si tokoh. Hal ini diartikulasikan tegas dalam fakta mengenai imajinasi polisi tentang lokasi menyembunyikan obyek yang tidak jauh berbeda dengan kriminal biasa, yang selalu memilih tempat persembunyian yang justru tidak biasa, secara ringkas: laci-laci rahasia sampai tutup meja yang dapat dilepas, bantalan duduk sampai kaki kursi yang dilubangi, dari balik cermin sampai jilidan buku yang tebal.

Setelah itu, Prefek kembali dicemooh karena dianggap melakukan kesalahan dalam mendeduksi bahwa Menteri itu adalah penyair, dan karenanya ia setengah sinting. Sebuah kesalahan yang masih dapat diperdebatkan dan tidak dapat diabaikan meskipun hanya terletak dalam pendisitribusian yang salah pada kata tengah (a false distribution of the middle term/non distributio medii) karena sulit menalar fakta bahwa semua orang sinting adalah penyair [12].

Memang benar. Namun kita sendiri dibiarkan meraba-raba dalam gelap atas keunggulan sang penyair dalam seni menyembunyikan- meskipun ia seorang ahli matematika dari ujung kaki sampai ujung rambut, karena pengejaran kita dirintangi, dihambat ketika kita memasuki debat kusir mengenai logika pikir ahli matematika, yang sejauh saya tahu, tidak pernah sedemikian taatnya dalam memformulasikan sampai-sampai mengidentifikasikan diri mereka pada nalar itu sendiri. Setidaknya, mari kita saksikan bahwa tidak seperti yang dialami oleh Poe, kejadian ini kadang menimpa kita yaitu resiko akan deviasi yang demikian serius (atau menurut istilah Poe pendurhakaan yang maya) dan menimbulkan keraguan bahwa “x2 + px tidaklah secara absolut sama dengan q” tanpa harus menghindar dari serangan-serangan.

Tanpa pikir panjang, jelas ini merupakan sebuah cara untuk mengalihkan penalaran kita terhadap apa yang telah diindikasikan sebelumnya, yaitu polisi telah mencarinya di mana-mana, sejauh daerah tersebut dianggap sebagai lokasi surat itu bersembunyi. Semacam kesan akan kelelahan terhadap ruangan yang kita tangkap dari bagian ini, namun bagian mana yang sebenarnya membuat kita demikian penasaran, sehingga kita dapat memahaminya secara harfiah? Pembagian ruangan menjadi nomor-nomor menjadi semacam pedoman dalam menjalankan operasi tersebut, disampaikan kepada kita dengan begitu tepatnya sampai-sampai dikatakan “bagian kelimapuluh dalam ancangan (grid)” tidak luput dari penyapuan petugas. Maka bukankah lantas menjadi hak kita untuk bertanya bagaimana bisa surat itu tidak ditemukan di manapun atau bahkan mengamati kembali apa dimaksud konsep pencarian yang dikatakan menyeluruh itu, karena pada kenyataannya tidak dapat menjelaskan dengan tegas bahwa surat itu cuma luput dari perhatian dan sebenarnya selama ini surat itu berada di daerah yang disapu, seperti yang telah dibuktikan oleh Dupin?

Haruskah surat tersebut kemudian digolongkan sebagai kata sifat nullibiety (situasi tidak berada di manapun -penerjemah) , istilah yang digunakan Roget Thesaurus yang idenya diserap dari utopis semiotik Pendeta Wilkins? [13]

Maka jelas (bahkan terlalu jelas) bahwa antara surat dan tempat terdapat hubungan yang dalam kata sifat bahasa Inggris dinamakan ganjil (odd), kata yang tidak ditemukan dalam bahasa Prancis. Oleh Baudelare diterjemahkan sebagai ajaib (bizzare) namun itu hanya merupakan pembulatan. Kita katakan saja bahwa hubungan ini adalah tunggal (singuliers) karena istilah ini adalah yang satu-satunya seusai dengan hubungan antara tempat dan penanda.

Perlu disadari bahwa bukan tujuan kami untuk kemudian menjadikan hubungan ini sebagai sesuatu yang halus dan sukar dipahami, juga bukan untuk mengacaukan surat dengan spiritual, walaupun surat itu muncul dari udara. Kami juga mengakui bahwa apabila yang satu membunuh sementara yang lain dihidupkan, namun mungkin anda akan mulai mengerti bahwa pada akhirnya signifier tersebut menyatakan agensi kematian (materializes the agency of death) [14]. Pengertian ini menekankan pada kesunyataan (materiality) dari penanda, bahwa yang dikatakan ganjil (odd/singulier) adalah dalam banyak cara. Yang pertama adalah dengan menolak pemisahan, coba robek lembar surat tersebut jadi carik-carik kecil maka ia akan tetap jadi surat, tentunya dalam konteks yang berbeda sama sekali dengan teori Gestalt yang menyatakan vitalisme senantiasa memberikan informasinya akan keseluruhan (the whole) [15].

Bahasa menyampaikan penilaiannya kepada siapa yang mampu menangkapnya: dengan memanfaatkan artikel sebagai kata sandang partirtif. Dan pada titik inilah pengertian itu muncul sehingga menjadi lebih terbuka untuk dikuantifikasi ketimbang sekedar surat.

(dua paragraf berikut adalah contoh yang Lacan berikan mengenai keunikan penanda, tapi karena fenomena ini akan sulit dipahami dalam bahasa Indonesia karena keterbatasan kata sandang yang dimilikinya maka penerjemah langsung membandingkannya dengan bahasa Prancis, yaitu bahasa yang dipakai Lacan dalam seminar ini. -penerjemah)

Memulai pada pengertian itu sendiri: sebuah percakapan yang kaya arti (plein de signification) di mana kita mengenali ukuran dari maksud (de l’intention) dalam satu tindak penyesalan bahwa tidak ada lagi cinta (plus d’amour) atau menumpuk kebencian (de lah heine) dan membuang kesetiaan (du devouement) dan limpahan berahi (tant d’infatuation) namun dengan mudah didamaikan dengan kenyataan bahwa akan selalu ada keledai (de la cuisse) untuk dijual dan perkelahian (du rififi) antar lelaki.

Namun pada kata surat, -baik itu karakter tipografis maupun epistel, kita akan menyatakan apa yang dapat dimengerti untuk surat (a la lettre), bahwa sebuah surat (une lettre) sedang menunggu anda di kantor pos atau bahkan jika anda berselisihpadan dengan surat-surat (ques vous avez des lettres) namun tidak pernah ada hanya surat (de la lettre) di manapun, dalam konteks apapun, bahkan jika ditujukan pada surat yang telah kadaluwarsa sekalipun.

Kata signifier adalah sebuah unit yang dalam keunikannya, hadir secara alami sebagai simbol dari ketidakhadiran. Itulah mengapa tidak dapat dikatakan bahwa surat yang hilang, seperti juga obyek-obyek lain, pasti ada atau tidak ada pada di suatu tempat, melainkan ia akan selalu ada dan tidak ada di suatu tempat, kemanapun perginya.

Catatan Kaki

  1. Benveniste (1971) menggambarkan komunikasi antara lebah tidak dapat digolongkan sebagai sistem bahasa melainkan kode sinyal, karena subyek yang diperbincangkan sifatnya tetap, pesannya tidak bervariasi dan selalu berhubungan dengan kondisi yang tunggal. Selain itu dalam bahasa lebah transmisi yang dilakukan unilateral dan tidak memungkinkan upaya pemisahan atas komponen-komponen pesannya.
    Lacan mengatakan dalam tulisan sebelumnya bahwa komunikasi lebah dibedakan dari bahasa karena tandanya yang hanya bisa dikorelasikan secara tetap pada realitas yang ingin dirujuk.
  2. Lacan menciptakan pararel antara dialog pertama (Prefek dan Dupin) sebagai percakapan (speech) – ketepatan (exactitude) dan dialog kedua sebagai kata (words) – kebenaran (truth). Hubungan signifier terhadap speech menurutnya adalah sebuah pemiskinan, karena tak seorangpun dapat melihat kebenaran dalam hubungan ini. Kebenaran terletak pada dua subyek lawan bicara, sifatnya dialogis dan mendahului Yang Lain, sebuah perspektif atas struktur tidak dapat direduksi pada aspek kedirian, atau sekedar pemantulan dari kedirian (absolut).
    Dialog pertama antara Prefek dan Dupin ditandai dengan istilah ketepatan sementara dialog antara Dupin
    dan temannya merupakan proses yang terbuka bagi penyingkapan kebenaran.
  3. Francois duc de La Roche Foucauld (1613-80) adalah seorang pengarang maksim-maksim moral dan epigram-epigram jenaka. Jean de La Bruyere(1645-96) menerjemahkan Theophrastus dari zaman Yunani Klasik, juga menuliskan sketsa-sketsa karakter dan maksim-maksim kritik sosial yang membela para tokoh klasik. Nicollo Machiavelli (1489-1527) mengubah status tentara bayaran menjadi angkatan bersenjata Republik Florence pada tahun 1506. Dia juga menulis Sang Pangeran (Il Principe) tahun 1532. Tomasso Campanella adalah filsuf asal Dominika, ide utopianya Kota Matahari (Civitas Solis) dijadikan model dalam Republic karya Plato. Teorinya menekankan pentingnya persepsi dan eksperimentasi dibandingkan empirisme ilmiah.
    Sebastian Roc Nicolas Chamfort (1740-94) adalah pengarang Prancis yang juga membuat maksim-maksim dan epigram. Seluruh informasi diambil dari The New Columbia Encyclopedia. Tahun 1975.
  4. Dari arti lainnya, Lewis dan Short (1955) menjelaskan bahwa ambitus dapat berarti berputar-putar atau lingkaran luar, religio adalah bersungguh-sungguh atau ketepatan., honesti berarti terhormat atau menjadi.
  5. Pasal ini tidaklah begitu penting namun perlu dicatat sejauh pemahaman anda bahwa Prefek tidaklah melakukan pendistribusian yang salah pada kata tengah.. Argumennya yang menyatakan: Semua penyair adalah orang bodoh. Tapi Menteri adalah penyair. Maka Menteri adalah orang bodoh. Premis mayornya mungkin tidak benar namun kata tengah (penyair) sudah sesuai pendistribusiannya, yaitu melingkupi semua kelas dan menyatakan sedikitnya satu premis (dalam kasus ini premis mayor). Kesimpulannya mungkin salah, tapi alasannya tepat. Sedangkan versi Dupin (Semua orang bodoh beberapa diantaranya penyair..Maka semua penyair adalah beberapa orang bodoh) malah menggunakan distribusi yang ceroboh, cemoohan pada Prefeks ini menjadi tidak relevan, sifatnya lebih menunjukkan kecongkakan Dupin daripada alasan Prefek yang lemah.
  6. John Wilkins (1614-72) adalah filsuf dan ahli matematika asal Inggris yang menulis Mathematical Magic (1648) dan menyelidiki pengetahuan bahasa sebagai isu epistemologis yang krusial bagi ilmu pengetahuan. Roget International Thesaurus (edisi 1961) mencantumkan “nullicibility, nullibielity dan nullibility sebagai sinonim dari nowhereness (ketiadaan,ketidakhadiran)
  7. Dikembangkan oleh Hegel, kemudian Lacan, yang dimaksud konsep signifier mengejewantahkan agensi kematian (“materializes the agency of death“) kata adalah pembunuhan terhadap hal –hal (word is the murder of thing) . Kata-kata menegasikan kehadiran fisik dari benda-benda, karena fungsinya sudah dilaksanakan oleh kehadiran yang simbolik, yang dengannya hal-hal (things) menjadi dapat diartikulasikan dan menjadi subyek bagi hubungan yang termediasi.
  8. Lacan mencoba mengatakan bawah surat sebagai kesatuan yang tidak dapat dibagi tidak merujuk pada teori Gestalt tentang dinamisme penyatuan yang membentuk keseluruhan (unifying dynamism forming wholes)

Diterjemahkan oleh FERDIANSYAH THAJIB dari John P. Muller dan William J. Richardson (eds.), 1998, The Purloined Poe, Lacan, Derrida and Psychoanalytic Reading, London, The John Hopkins University London @1998

1 pingback on this post
Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in