Putih

Oleh Yuli Andari M.

Sejak kecil saya telah menyukai pantai. Bila ada kesempatan di akhir pekan, saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi, merebahkan badan di pasir, dan makan bersama di pinggir pantai. Saya tidak pernah punya obsesi memiliki kulit putih atau lebih terang dari yang saya miliki sekarang (kulit saya: milky tea, kata seorang teman). Warna kulit saya sudah cukup oke untuk dipadankan dengan baju-baju kesukaan saya. Malahan saya senang melihat warna-warna kulit yang lebih gelap tetapi bersih dan tidak berminyak. Tidak pernah ada perasaan takut bila nanti kulit saya menjadi lebih gelap. Itulah sebabnya saya tak pernah ribet membawa segala macam kosmetik anti sinar matahari.

Di Sumbawa tempat saya dibesarkan, sejak kecil saya telah diperkenalkan dengan beberapa cara agar kulit tetap terlindungi dari sinar matahari. Beberapa bahan seperti beras, kunyit, daun katu, dan asem jawa telah dipercaya sebagai bahan alami yang ampuh untuk melindungi kulit. Saya ingat, ketika kulit saya pernah gosong karena terlalu sering main di pantai, ibu saya menumbuk bahan-bahan tersebut lalu melulurkannya di lengan, betis, wajah, dan leher saya setiap hari menjelang saya tidur. Seminggu kemudian, saya merasakan kulit saya kembali seperti semula. Sampai saat ini pun, saya masih sering mengandalkan bahan-bahan tersebut apabila kulit saya mulai menghitam atau belang—hanya bagian yang sering kena sinar matahari yang menghitam—setelah mandi di pantai. Selain itu, para perempuan setengah baya di Sumbawa sering menggunakan sarung yang dibuka lebar dan ditudungkan di atas kepala hingga menutupi bagian wajah dan kedua tangan, apabila mereka berjalan di bawah terik matahari atau nonton atraksi di tanah lapang atau padang yang sedikit pohonnya. Cara ini juga masih dipraktikkan sampai sekarang oleh perempuan-perempuan setengah baya dan tua.

Pertengahan tahun 2007, saya sedang berada di Pulau Bungin, Kecamatan Alas Barat, Sumbawa untuk produksi film dokumenter “Bulan Sabit di Tengah Laut”. Pulau Bungin merupakan ‘pulau buatan’ karena terbangun dari tumpukan-tumpukan karang di laut yang kemudian dilapisi oleh pasir/tanah sehingga tampak seperti daratan. Pulau ini dihuni oleh komunitas orang Bajo yang dating dari pulau Selayar, Sulawesi Selatan.  Apabila dilihat dari pesisir, rumah-rumah panggung yang mendominasi pulau itu bagai kampung terapung. Pulau karang ini hampir tidak ditumbuhi oleh pohon, dan jauh dari sumber air tawar. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan air sehari setiap rumah tangga memerlukan 15 ember ukuran sedang per harinya.

Di tiap sudut rumah panggung, saya melihat beberapa perempuan duduk mengobrol sambil mengasuh anak-anak mereka. Diantara mereka ada seorang nenek yang memakai bedak tradisional yang cukup tebal seperti masker. Ketika berjalan melalui gang sempit di antara rumah-rumah, saya juga melihat perempuan yang memakai tudung sarung berjalan agak tergesa. Sekilas saya melihat ada kesamaan tentang cara melindungi wajah dan tubuh dari sinar matahari antara tempat tinggal saya di Sumbawa dengan pulau Bungin yang mayoritas orang Bajo. Sinar matahari yang menyengat dan membakar kulit, disiasati dengan bedak tradisional dan tudung sarung.

Saya menginap di rumah Pak Makkadia, narasumber saya. Saya sekamar dengan anak perempuannya yang seumuran dengan saya, Ando. Kami pun segera akrab dan bercerita hal-hal yang kami anggap menyenangkan. Keesokan harinya, Ando mulai mengenalkan saya dengan teman-temannya. Tak perlu menunggu beberapa hari untuk akrab, karena setelah kenalan saya sudah diajak jalan-jalan mengelilingi pulau mungil itu. Ketika siang terik, kami beristirahat di dermaga karena kami sudah kelelahan. Ando mengusap keringat di wajahnya dengan tissue. Ia melihat bedaknya luntur di tissue tersebut. Saya lalu bertanya pada Ando mengapa dia tidak memakai bedak tradisional yang biasa dipakai oleh perempuan Bungin pada siang hari. Dia hanya menggeleng. Lalu Emy, salah seorang teman baru saya memulai obrolan tentang kosmetik dan kulit putih.

Emy: “Pakai alas bedak dan handbody apa Kak, kok kulitnya bisa putih?”

Saya: “Siapa yang putih?”

Emy: “Ya kakak ‘kan. Kami kan tidak putih, tiap hari kena matahari…”

Saya: “Menurutku, kulit kalian juga tidak jauh beda dari kulitku…”

Atik: “Masa? Kami tidak percaya…”

Dalifah: “Pasti kakak pakai Tul Jye atau Shinzu’i ya?”

Saya: “Tidak. Kok kalian tahu ada kosmetik yang bisa bikin putih bermerk itu?”

Emy: “Ya kan lihat di TV, terus kami pergi beli ke pasar Alas untuk membelinya…”

Saya: “Nah, berarti kalian yang pakai…”

Ando: “Bukan saya…Emy yang tergila-gila ingin kulitnya putih. Kemarin dia pakai pelembab merknya tidak tahu karena pakai huruf Cina. Eh, baru seminggu di pakai wajahnya sampai merah seperti kepiting…”

Emy: “Itu karena aku sih salah pemakaian. Kata penjualnya dipakai siang, tetapi kata kakak saya krim wajah itu untuk krim malam.

Saya: “Lo kok kalian malah pakai kosmetik Cina. Bukannya ada masker muka yang sering dipakai oleh perempuan sini untuk mencegah matahari…”

Emy: “Kalau itu sudah ketinggalan zaman. Mengharuskan beras dan kunyit saja sudah memakan waktu. Lagian masker itu dampaknya di wajah hanya rasa sejuk saja, tapi tidak bisa memutihkan kulit…”

Ibu Masna, ibunya Emy bercerita pada saya tentang bedak tradisional yang biasa dipakai oleh para perempuan Bungin untuk melindungi wajah mereka dari terik matahari. Bedak tradisional tersebut sudah dipakai sejak dulu, pemakaiannya semacam masker dan terbuat dari beras, daun katu, dan kunyit yang ditumbuk sampai halus. Sehabis mandi, perempuan Bungin memakai bedak tersebut agak tebal dan membiarkannya mengering di wajah mereka. Dengan bedak tersebut, mereka tidak takut lagi beraktivitas di bawah terik matahari. Sebenarnya bahan dan cara pemakaian bedak tradisional yang dilakukan oleh para perempuan di Bungin tidak jauh berbeda dengan para perempuan di Sumbawa. Saat ini pun bedak tradisional tersebut masih dipakai oleh para perempuan yang sudah bersuami, atau perempuan yang sudah tua apabila mereka bekerja di ladang, di sawah, atau ketika mereka bersantai di bawah kolong rumah panggung. Namun, hampir tidak ada perempuan remaja yang memakainya. “Salah satu alasannya mereka tidak mau pakai lagi bedak itu karena mereka merasa repot kalau harus menumbuk bahan-bahan untuk bikin bedak. Waktu saya gadis, hanya kenal bedak tabur, lipstik, dan hairspray. Itu pun kita pakai kalau ada orang kawin,” tutur Ibu Masna. “Tapi zaman sekarang, anak saya Emy kalau belanja handbody, bedak, pelembab, dan pengharum ketiak (deodorant) sebulan sekali kadang malah dua kali sebulan,” lanjutnya. “Lagipula dulu kami jarang-jarang berdandan karena orang laki di Bungin ini tidak hanya melihat kita cantik saja, tetapi mereka senang kalau lihat kita rajin bekerja membantu orang tua. Perempuan yang seperti itu malah perempuan yang cepat laku,” kata Ibu Masna.

Emy yang mendengarkan pembicaraan kami langsung nimbrung. “Ya namanya juga zaman sudah beda, Bu. Sekarang mana ada orang seusia saya pakai bedak beras (bedak tradisional), itu bedaknya orang kerja di laut saja. Kalau numbuknya juga merepotkan. Lagipula, bahan-bahannya kalao habis, kita harus ke pasar Alas juga. Sama saja mending langsung beli kosmetik yang sudah jadi, yang ada pemutihnya biar sekalian tambah putih. Sekarang kalau kita hanya bau sabun mandi dan kulit kita kering karena kena air laut, mana ada laki-laki yang mau mendekat. Mungkin ada lelaki Bungin yang mau, tapi kalau bisa kita dapat suami yang bukan orang Bungin. Biar kita bisa lihat kampung lain,” jawab Emy dengan nada bercanda. Emy mengakui bahwa ia sering meminta uang ibunya untuk beli kosmetik. Ia punya peralatan berdandan yang nyaris lengkap seperti pelembab wajah, bedak, lipstik, pensil alis, krim malam, lulur mandi dan sebagainya. Lagipula para remaja lelaki di pulau tersebut juga sudah berdandan lebih trendi. “Mereka juga pakai parfum. Masa’ kita yang perempuan kalah,” lanjut Emy.

Menjadi putih atau memiliki warna kulit lebih terang perlahan-lahan menjadi impian para gadis pantai ini. Dalam setiap obrolan mereka selalu menyinggung hal-hal yang berhubungan dengan kecantikan. Dan, yang cantik itu pasti yang putih. Merek-merek produk pemutih juga mereka hafal: ShinZu’I, TulJye, Tje Fuk, Extraderm, Pond’s, Olay, dan beberapa merek Cina yang mereka kenal di pasaran kerap nyempil di antara perbincangan mereka. Para gadis Bungin ini mengetahui informasi tentang ini melalui televisi. Bagi para perempuan ini, televisi adalah media massa satu-satunya yang bisa memberikan segala informasi, termasuk referensi tentang produk kecantikan terbaru yang perlahan-lahan mengubah konsep kecantikan yang telah diyakini selama ini. Bedak tradisional sudah dianggap terlalu merepotkan dan kurang cepat membuat kulit mereka putih dalam sekejap. Sementara kosmetik-kosmetik yang menganduk pemutih dengan mudah mereka dapatkan dengan harga murah.

Emy, misalnya ia ingin sekali putih karena baginya putih itu menandakan kecantikan seorang perempuan. Sedangkan Atik beranggapan, menjadi putih bagi seorang perempuan itu harus karena hal tersebut menandakan perempuan pandai merawat kecantikannya. Emy dan Atik menghabiskan uang mereka sampai mencapai 75 ribu perbulan untuk semua kebutuhan kecantikan mereka. Uang senilai itu bukanlah uang yang murah bagi kedua anak nelayan ini. Namun mereka tetap mengusahakan untuk bisa memberli produk tersebut apabila sudah habis.

Saya lalu balik melontarkan opini, kalau orang bule malah tidak mau kulitnya putih. Minimnya pigmen malah membuat kulit rentan terhadap flek yang muncul akibar sinar matahari, teriknya sinar matahari akan membuat kulit putih rentan rusak, lagi pula bila tidak berhati-hati memilih kosmetik, kulit putih gampang iritasi. Ketika mendengar hal tersebut mereka kaget. Tidak terpikir oleh mereka dampak dari pemakaian kosmetik yang salah. Selama ini mereka menangkap mentah-mentah pesan yang disampaikan oleh iklan kosmetik di TV. Tetapi, benar-benar menolak kosmetik yang mengandung pemutih juga rasanya sulit bagi mereka.

Minggu pagi, saya ke pasar Alas. Selain beli sembako, kami juga mampir di toko yang menjual kosmetik. Emy, Atik, Dalifah, dan Ando memilih-milih kosmetik yang mereka anggap bagus. Emy memegang kosmetik kecil merk Cina, yang cara pemakaiannya saja tidak bisa terbaca karena menggunakan huruf Cina. Namun bapak penjual kosmetik tersebut gencar berpromosi kalau kosmetik dalam tube mungil itu adalah produk yang paling laris dan  banyak perempuan pesisir yang memakai kosmetik tersebut. Emy langsung tergoda dan buru-buru merogoh sakunya. Ia memutuskan untuk membeli kosmetik tersebut karena ia sudah melihat hasilnya pada Daya, tetangganya. Kulit Daya menjadi lebih bersih menurut Emy. Sementara itu, teman-teman saya yang lain memilih body lotion made in Indonesia seperti Marina, Citra, dan  Mustika Ratu.

Sesampai di rumah Emy tidak sabar mencoba pelembab wajah terbarunya. “Alamak…aku lupa tanya cara pemakaiannya…” ucapnya nyaris berteriak.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in