Mengingat dan Melupakan

Diorama Museum Lubang Buayaoleh Nuraini Juliastuti

Tulisan ini merupakan bagian awal dari esai dengan judul yang sama “Mengingat dan Melupakan”. Versi lengkap dari esai tersebut dapat diunduh lewat link ini.

1. Soekarno bilang, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”
Ini adalah cerita tentang persoalan mengingat dan melupakan di suatu negeri dimana masa lalu didewakan, ditempatkan di tempat yang tinggi. Orang tua dan bekas pejuang adalah bagian dari masyarakat yang harus dihormati karena terutama, mereka adalah penjaga sejarah.

Ketika berhubungan dengan sejarah, salah satu prinsip utama yang dipegang oleh pemegang otoritas negeri ini adalah: masa kini dibangun dari puing-puing masa lalu, dan semua penghuninya—anak muda terutama—diharapkan untuk selalu ingat dan tidak sekali-kali melupakannya.

Lirik lagu mars para mantan pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) ini mungkin dengan baik merepresentasikan hal tersebut diatas.

Veteran Pejuang Kemerdekaan, Republik Indonesia
Mengusir Lawan. Menghimpun Kawan Pejuang Empat Lima
Veteran Berarti Prajurit Inti, Angkatan Revolusi
Pantang Menyerah Pada Penjajah, Pembela Proklamasi

Reff
Bimbinglah Angkatan Penerus Kita
Wariskan Semangat Jiwa “Pat Lima”
Ikhlas Berkorban Tuk Cita-cita
Indonesia Jaya, Hidup Pancasila

Veteran Pembela Kemerdekaan, Republik Indonesia
Bertekad Bulat Mempertahankan, Negara Pancasila
Dengan Berbuat Serta Bekerja, Kita Amalkan Ampera
Panca Marga Kode Kehormatan, Veteran Indonesia

http://www.veteranri.go.id/MarsVeteran.html

Ruang publik telah diisi dengan memorabilia. Aneka museum dilengkapi dengan diorama-diorama untuk merekonstruksi peristiwa bersejarah, patung-patung para pahlawan ditegakkan di jalanan, nama-nama pahlawan merupakan nama biasa bagi jalan-jalan.

Pihak otoritas mendesain mekanisme pendisiplinan mengingat secara sangat sistematis. Sejarah, sebagai sebuah pelajaran di sekolah, adalah tempat dimana para pelajar harus menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam mengingat banyak hal: tanggal-tanggal penting dilaksanakannya perjanjian bersejarah antara Indonesia dengan para mantan penjajah, nama tempat-tempat dimana para pejuang kita disiksa dan diasingkan, keharusan menghapal aneka teks pidato dan isi perjanjian…

Para penghuni negeri ini dikelilingi oleh fakta-fakta sejarah. Mereka ada di mana-mana, begitu nyata dan bisa kita sentuh.

Tapi di luar usaha yang sengaja diarahkan untuk mengarahkan penghormatan sejarah, disini dan disana terdapat suara-suara yang menandakan adanya kesenjangan antara apa yang didesain dengan yang dirasakan bagi sebagian orang tentang kerumitan masa kini dan masa lalu. Di bawah ini adalah petikan dari diskusi tentang salah satu episode lama Kick Andy, sebuah acara talk show mingguan yang diproduksi oleh Metro TV. Di tahun 2007, acara ini mengundang pejuang veteran Mustafa, mantan pejuang kemerdekaan, untuk berbicara tentang Indonesia masa kini.

“Negara sudah merdeka, tapi saya belum.” Kalimat yang dilontarkan Pak Mustafa itu serasa langsung menghujam ulu hati. “Sampai sekarang saya masih harus berjuang untuk bisa hidup sebagai kuli panggul dan pendorong gerobak,“ ujar veteran perang ini dengan suara masgul. Dalam usianya yang menjelang 82, Mustafa hanya satu dari sekian banyak veteran perang kemerdekaan yang “terlupakan“. Banyak di antara para pejuang yang dulu mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan republik Indonesia kini harus menerima keadaan yang mengenaskan karena perhatian pemerintah yang sangat kurang.

http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-19900.html

Dan seperti hendak melakukan koreksi, respon umum yang diberikan adalah afirmasi. Ya, kita harus tetap ingat ucapan Soekarno: Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah Indonesia. Penghargaan kepada para veteran harus lebih ditingkatkan. Berikut adalah beberapa komentar publik atas pernyataan pejuang veteran tersebut.

gungbaster
14-06-2007, 08:39 PM
Negara yg besar negara yg menghargai pahlawannya. Negara indonesia negara yg gak menghargai pahlawanya…Perjuangan di indo masih belum selesai kita masih terjajah secara ekonomi, politik, dan kesehjahteraan. Makanya kita tetap harus berjuang merdeka Indonesia.

Ageng
15-06-2007, 09:31 AM
Saya amat sangat menghargainya, malah lebih dari Presiden sekalipun

T!T!~ch@/\/
15-06-2007, 10:14 AM
Jujur saya pribadi sangat menghargai hasil perjuangan mereka tetapi sayang dari pemerintah sendiri tidak pernah mengetahui seberapa besar dan banyak adrah yang telah mereka berikan demi sebuah kemerdekaan bagi negara kita tercinta ini.

2. Sejarah kolektif membawa kita ke jalan bercabang
Apakah makna dari keseragaman sikap sejarah seperti diceritakan diatas? Apakah ia menunjukkan cara berpikir sejarah yang umum di masyarakat?
Di bagian ini saya akan berusaha menjelaskan bahwa mungkin ia hanya bisa terjadi pada peristiwa-peristiwa sejarah yang punya kemampuan untuk mengikat semua orang dan menciptakan sebuah platform dimana pengingatan dan empati kolektif dimungkinkan. Kisah perjuangan rakyat Indonesia dalam menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang misalnya, merupakan contoh klasik kisah sejarah kolektif dimana baik di level otoritas dan masyarakat telah terbangun kesepakatan cara mengingat dan bercerita.

Kisah-kisah personal yang dialami oleh para mantan pejuang veteran pada jaman perjuangan melawan Belanda dan Jepang, seperti dikatakan oleh Stoler dan Strassler (2000), merupakan topik yang aman dan merupakan bahan bakar emosional bagi kisah nasionalisme. Kisah-kisah perang selalu sejalan dengan wacana publik tentang perjuangan bangsa.

Di sini sejarah kolektif dipandang sebagai kompilasi dari berbagai macam kisah, masing-masingnya berfungsi memperkuat dan memperbesar nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai ini berakar dari keseragaman pemahaman tentang suatu peristiwa sejarah. Dalam kisah perjuangan kemerdekaan misalnya, nilai umum yang dibangun adalah bahwa dalam kurun waktu yang panjang, Indonesia berjuang keras melawan mereka yang kita letakkan dalam satu kategori penjajah.

Di sisi lain, alih-alih menunjukkan keseragaman sikap, sejarah kolektif juga bisa berjalan menuju ke keterpecahan. Ada peristiwa-peristiwa yang dimunculkan ke permukaan, ada juga yang sengaja disembunyikan. Ada bagian-bagian sejarah yang dibiarkan terang, ada bagian-bagian lain yang sengaja dibiarkan tetap gelap.

3. Soal sejarah yang sengaja diseleksi
Salah satu contoh peristiwa yang paling tepat menunjukkan proses seleksi sejarah adalah peristiwa 1965.

Seperti diungkapkan oleh Stoler dan Strassler, dalam peristiwa 1965, cara pandang subyektif menjadi tidak berlaku, ‘Saya’ mendadak lenyap, digantikan oleh kesenyapan dan alusi semu”.

Saya lahir di tahun 1975. Masa sekolah dasar sampai sekolah menengah berlangsung dari 1981 sampai 1993. Dan itu adalah masa dimana kekuasaan Orde Baru berada di posisinya yang terkuat.

Peristiwa 1965—dalam bahasa otoritas yang direproduksi dalam teks-teks sejarah yang resmi—adalah usaha perebutan kekuasaan oleh Partai Komunis Indonesia. Partai Komunis Indonesia, disingkat PKI, merupakan salah satu partai terkuat masa itu. Seperti yang diajarkan oleh buku sejarah di sekolah kepada kita, usaha ini diikuti oleh pembunuhan 7 petinggi militer Indonesia. Cara para komunis membunuh para jenderal ini diceritakan sedemikian rupa sehingga ia berubah menjadi kisah sejarah dengan kualitas horor.

Kisah pembunuhan massal mereka yang tergabung dalam organisasi komunis tingkat lokal dan nasional, atau siapa saja yang dianggap terlibat dalam gerakan yang berhubungan dengan komunisme masuk dalam ranah pikiranku kemudian ketika mulai membaca buku-buku sejarah yang lain di bangku kuliah. Yang jelas, tidak diragukan lagi peristiwa ini membawa negara ke dalam kekacauan luar biasa.

Wacana anti-komunisme, disertai dengan represi atas segala hal yang dianggap berpotensi membawa negara ke ketidakstabilan politik dan keamanan, adalah resep yang kemudian diambil oleh benih-benih pemerintahan Orde Baru untuk merubah kekacauan tersebut menjadi janji untuk mewujudkan Indonesia yang stabil secara ekonomi dan politik, dan dijadikan pondasi bagi pemerintahan Orde Baru sejak awal berkuasa di 1968 sampai ketika ia menemui kematiannya di tahun 1998.

Orde Baru menunjukkan nilai penting peristiwa 1965 dengan jelas. Ia membangun Monumen Lubang Buaya, Monumen Kesaktian Pancasila, dan membuat satu ritual pengingat khusus yaitu: mewajibkan tiap anak sekolah untuk menonton film “Pemberontakan G30S/PKI” (bikinan sutradara terkenal Arifin C Noer) di bioskop di kota-kota Indonesia setiap tanggal 30 September. Tanggal 30 September merupakan tanggal resmi penumpasan PKI oleh militer, kembalinya kekuasaan pemerintah yang sah dan kekuatan Pancasila dalam melindungi negara dari usaha cengkeraman komunisme.

Jadi begitulah. Tanggal 30 September menjadi hari yang istimewa bagi. Kami berkumpul di sekolah sebelum berangkat bersama-sama ke gedung bioskop. Saya tidak bisa mengingat dengan jelas apakah film “Pemberontakan G30S/PKI” adalah benar-benar hal yang kunanti-nantikan dan membuat hari itu istimewa. Karena jika kurenungkan sekarang, gagasan pergi ke bioskop bersama para guru dan teman untuk menonton sebuah film, bagi seorang pelajar masa itu, merupakan pengalaman yang lebih menyenangkan dan karenanya selalu kutunggu-tunggu.

Dari rumah, ibu dan nenek menyiapkan bekal minuman dan kue-kue. Tidak boleh dilupakan adalah membawa senter kecil, buku catatan kecil dan bolpoin.

Beberapa hal penting dari film harus dicatat. Mereka adalah bahan untuk membuat ringkasan untuk dipresentasikan kepada guru-guru di sekolah. Sebagai murid yang rajin, dan saya yakin beberapa teman juga melakukan hal yang sama, saya mencatat banyak dialog. Saya pulang ke rumah dengan buku catatan yang nyaris penuh. Malam harinya, Televisi Republik Indonesia—satu-satunya televisi yang ada masa itu—kembali menyiarkan secara nasional film yang sama.

Dengan menulis ringkasan, saya merasa sedang diminta untuk memindahkan apa yang saya lihat di film ke dalam buku catatan, dan membuatnya menjadi bagian dari ingatan personal. Ketika menulis ringkasan merupakan instruksi yang diterapkan ke seluruh pelajar Indonesia masa itu, ia menjadi praktek mengingat kolektif.

Kata ‘mengingat’, juga ‘kolektif’, di sini merupakan konsep yang mendasar. Karena kenyataannya jutaan anak lain yang lahir setelah 1965 jelas tidak memiliki ingatan langsung atas peristiwa 1965.

Jika memori, kembali mengutip Auster (1992), bukan hanya kebangkitan kembali masa lalu seseorang, tetapi memasukkan diri dalam-dalam ke dalam masa lalu yang lain, maka menuliskannya kembali adalah salah satu metode untuk menangkap kembali memori itu, mengawetkannya. “Praktek menulis sama dengan praktek memori”, katanya (Auster 1992: 142).

Tetapi jika keindahan dari memori tertentu (kenangan melihat pameran lukisan Van Gogh pertama kali bersama seorang gadis yang dikasihinya; Auster berumur 16 tahun saat itu) yang menggerakkannya untuk menulis beberapa puisi, masing-masingnya diberi judul sama dengan judul lukisan Van Gogh, maka 23 tahun lalu, adalah eksistensi kekuasaan tertentu yang punya peran dalam memaksa saya menuliskan kembali isi film G30S/PKI.

Menempatkan beberapa metode mengingat yang saya alami—negara memproduksi film G30S/PKI, meminta publik untuk menontonnya secara bersama-sama di bioskop, meminta semua anak sekolah untuk mencatat—dalam perspektif Halbwachs (1992), mereka adalah instrumen yang sengaja digunakan untuk merekonstruksi imaji masa lalu sesuai dengan imajinasi otoritas. Mereka adalah metode mengingat yang diciptakan dengan harapan untuk bisa memproduksi pola ingatan yang seragam.
Seperti diungkapkan oleh Halbwachs (1992) dengan sangat artikulatif, “Kerangka kolektif tidaklah dibentuk setelah peristiwa terjadi dari kombinasi rekoleksi. Ia juga bukan suatu kerangka kosong dimana berbagai rekoleksi menemukan tempatnya disana. Kerangka kolektif, sebaliknya, merupakan instrumen yang digunakan oleh memori kolektif untuk merekonstruksi imaji masa lalu yang sesuai dengan pemikiran dominan masyarakat” (Halbwachs 1992: 39-40).

(foto via juedaniel.fotopages.com)

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in