Membaca Gayatri Chakravorty Spivak

ilustrasi_spivakOleh Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy

Ia dikenal sebagai ahli teori-teori post kolonial. Lebih khusus sebagai ahli kajian subaltern (subaltern studies), setelah esai panjangnya “Can Subaltern Speak” pada tahun 1983 terbit dan menjadi karya monumental, bahkan diperingati 20 tahun penerbitannya oleh para filsuf dunia di Cork, Irlandia.

Melalui sedikitnya 10 buku karyanya (asli dan terjemahan), serta karya-karya kajian para ahli mengenai teori-teorinya, banyak orang juga mengenal Gayatri Spivak sebagai ahli kajian kritis mengenai budaya (critical cultural studies) dan teori-teori dekonstruksi, setelah menerjemahkan dan menafsirkan Derrida dalam kata pengantar yang dekonstruktif dari karya De la grammatologie ke dalam bahasa Inggris, Of Grammatology.

Dalam serangkaian ceramahnya di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dalam 2,5 hari persinggahannya di Indonesia, Gayatri menolak semua label itu.

“Dalam banyak hal orang tidak suka diberi label. Saya menulis secara kritis mengenai postkolonialisme dan kajian budaya. Saya bukan filsuf. Saya adalah kritikus sastra,” ujarnya dalam wawancara khusus 1,5 jam sebelum keberangkatannya ke bandara, Senin (6/3) petang.

Teks-teks-nya secara radikal melintasi disiplin ilmu “resmi”, seperti antropologi, sejarah, filsafat, kritik susastra, sosiologi, mengaburkan batas dan mengembangkan penggabungan metodologi-metodologi kontemporer antara Marxisme, feminisme, dan dekonstruksi.

Tema kajiannya sangat luas, mulai dari politik mikro di sekolah sampai narasi makro imperialisme. Ia ditengarai sebagai satu dari sedikit ilmuwan dunia yang melintasi oposisi biner antara produksi intelektual di “Dunia Pertama” dan eksploitasi fisik di “Dunia Ketiga”. Ini berpengaruh pada pandangannya tentang penyelesaian masalah, karena ia menolak meliyankan pihak yang “berbeda” darinya.

Barangkali yang mengagumkan dari Gayatri tak hanya keketatannya bertahan berada pada site of negotiation untuk terus membongkar struktur kekuasaan. Tetapi juga staminanya.

Suara perempuan berusia 64 tahun itu keras dan bertenaga meskipun perjalanan selama lebih 22 jam dari New York sangat berpotensi melumpuhkannya. Begitu tiba di Yogyakarta, ia hanya membutuhkan waktu setengah jam istirahat sebelum berceramah dua jam dan empat jam pada hari berikutnya.

Gayatri didampingi oleh Antariksa dari Kunci Cultural Studies Center—kelompok kajian budaya di Yogyakarta yang bekerja dengan berbagai pihak untuk “menculik” Gayatri ke Indonesia dalam perjalanannya untuk sebuah seminar di Beijing—baru tiba di hotel di Jakarta sekitar pukul 22.00.

Ia sudah ditunggu untuk mendengarkan gambaran perkembangan di Indonesia untuk dikaitkan dengan topik ceramahnya keesokan harinya mengenai perspektif kultural atas persoalan-persoalan kontemporer di Universitas Indonesia.

Namun sebagaimana di Yogyakarta yang “mematok” tema penulisan ulang sejarah dan gerakan sosial yang paling dimungkinkan saat ini, tema yang disodorkan di UI juga dikatakannya, “bukan untuk saya”.

Tentu saja itu hanya basa-basi seorang guru besar pada Avalon Foundation of Humanities di Universitas Columbia, AS, tempat ia mengajar sastra Inggris dan politik kebudayaan.

Keliru dibaca

Siapa dan apakah subaltern?

Istilah “subaltern” diadopsi dari pemikir Italia, Antonio Gramsci, yang menggunakan istilah itu bagi kelompok sosial subordinat, yakni kelompok-kelompok dalam masyarakat yang menjadi subyek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa.

Dalam uraiannya Gayatri menjelaskan, sejarawan India Ranajit Guha dari Kelompok Kajian Subaltern mengadopsi gagasan Gramsci untuk mendorong penulisan kembali sejarah India yang kemudian mendefinisikan subaltern sebagai “mereka yang bukan elite”. Gagasan Guha menggeser dikotomi “menindas-ditindas” karena penindasan juga dilakukan oleh orang-orang di dalam kelompok.

Kajian Gayatri menegaskan penemuan Guha. Namun esainya “Can Subaltern Speak” banyak keliru dibaca, dan merangsang pemikiran banyak akademisi.

Bagaimana Anda menanggapi ini?

“Saya tidak membaca semuanya. Tetapi sebagian besar menganggap saya tidak mengakui bahwa subaltern dapat bicara. Malah ada yang mengatakan saya tidak membiarkan kelompok itu bicara sampai ada penelitian yang memperlihatkan bahwa subaltern dapat berbicara,” jawab Gayatri.

Ia sama sekali tidak menduga esai itu menjadi begitu terkenal. “Tulisan itu sebenarnya tentang adik nenek saya. Saya sedang memikirkan subaltern ketika menuliskan kisahnya.”

Adik neneknya bernama Bhuvaneswari Bhaduri, berusia sekitar 16-17 tahun ketika menggantung diri di apartemen ayahnya yang sederhana di Calcutta Utara tahun 1926. Peristiwa bunuh diri itu mengandung teka-teki. Desas-desus bahwa Bhuvaneswari hamil di luar nikah tidak terbukti karena ia baru selesai menstruasi ketika gantung diri.

Hampir sepuluh tahun kemudian, baru diketahui bahwa Bhuvaneswari adalah satu anggota kelompok yang terlibat dalam perjuangan bersenjata bagi kemerdekaan India. “Kalau sekarang mungkin ia disebut teroris,” sambung Gayatri.

Baru kemudian juga diketahui bahwa keputusan menggantung diri itu diambil karena Bhuvaneswari tak mampu melakukan pembunuhan politik yang dipercayakan kelompok itu kepadanya dan menyadari kebutuhan praktis bagi sebuah kepercayaan.

“Tak ada orang tertindas yang bisa bicara. Apalagi ia perempuan, ia akan begitu saja dilupakan,” sambung Gayatri.

Tidak bisa bicara atau tidak ada yang mendengarkan?

“Tidak dapat berbicara adalah metaphor karena ia mencoba berbicara sehingga secara metaphor Anda dapat mengatakan tidak ada keadilan di dunia. Orang tidak menaruh perhatian pada ‘cerita’ subaltern. Para pembaca esai saya sepenuhnya mengabaikan kisah itu,” sambung Gayatri.

Hal seperti itu selalu terjadi, kata Gayatri. Itu sebabnya ia mengatakan subaltern tidak bisa bicara, sekaligus memberi peringatan kepada gerakan intelektual postcolonial tentang bahaya klaim mereka atas suara kelompok-kelompok subaltern. Klaim-klaim semacam itu bersifat kolonial karena menganggap kelompok-kelompok subaltern sebagai kelompok yang “satu”.

“Di berbagai tempat di dunia, di sepanjang sejarah manusia, selalu ada orang-orang yang secara absolut tidak punya suara dan tidak dapat berbicara,” jelas Gayatri lebih jauh

“Sedihnya, hal itu selalu berhubungan dengan situasi saat ini. Selalu ada orang-orang yang dibungkam. Itu sebabnya saya katakan, jangan menjadi mayoritas bungkam, tak bersuara”.

Subalternisasi selalu terjadi ketika yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin dari yang termiskin menjadi semakin miskin.

“Kita harus selalu memberi perhatian kepada mereka yang berada di paling dasar dan berbuat sesuatu supaya mereka tidak selalu menjadi subaltern. Itu pula tugas para pemikir yang menjadi bagian dari diaspora untuk membantu kelompok diaspora dari kelas lebih rendah yang mendapat kesulitan”.

Aktivismenya memberikan pelatihan pada para pengajar suku asli di sebuah desa Bengala Barat adalah bagian dari itu. Ia rela meninggalkan pekerjaannya yang mapan di AS beberapa kali setahun dan melakukan kegiatan yang harus dibiayai sendiri, sehingga ia menerima permintaan berceramah di berbagai tempat di dunia.

“Saya adalah intelektual dan aktivis kajian subaltern,” lanjutnya. Ia melatih para guru menggunakan buku pelajaran dan mengajari mereka agar para murid yang merupakan bagian dari 67 juta suku itu di India, dapat bertransformasi sendiri, sampai suatu hari bisa berkata, “Mengapa kamu di sini? Setelah itu, saya akan pergi.”

Internasionalis

Gayatri Chakravorty lahir di Calcutta tanggal 24 Februari 1942, saat terjadi kelaparan semu lima tahun sebelum kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Ia merupakan generasi intelektual pertama India pascakemerdekaan.

Lulus dari Presidency College di Universitas Calcuta tahun 1959, Gayatri menduduki ranking teratas dalam Bahasa Inggris dan memperoleh medali emas di bidang sastra Inggris dan Bengali. Ia memilih pergi ke AS untuk belajar di Universitas Cornell, sampai mendapatkan gelar MA dan PhD-nya di bidang Sastra Inggris. Gayatri sempat menikah dan kemudian bercerai dengan seorang Amerika bernama Talbot Spivak, tetapi nama Spivak terus menempel pada dirinya.

Ilmuwan pernah mengajar di universitas-universitas terkemuka di AS, Perancis, Jerman, Inggris, dan Riyadh itu memegang green card Amerika, tetapi mempertahankan kewarganegaraan India. Ia menjawab “tidak tahu” ketika ditanya soal identitas.

“Saya tidak percaya seseorang tahu keadaan sebenar-benarnya mengenai dirinya. Orang bisa mengatakan saya terlalu Amerika atau terlalu India.”

Saya tidak tahu apa itu menjadi orang Amerika dan apa itu menjadi orang India. India terdiri dari lebih 1 miliar orang dengan 23 bahasa dan saya hanya berbicara 1,5 nya saja.

Saya seorang internasionalis. Saya suka bergaul. Saya tidak merasa sebagai orang Amerika dan tidak merasa sebagai orang India. Ada hal-hal tertentu yang tidak saya sukai tentang AS dan ada hal-hal tertentu pula yang tidak saya sukai di India. Orang yang terlalu mencemaskan identitasnya adalah narsistik.

Saya meyakini ini karena saya dibesarkan dengan cara yang sangat baik, sehingga saya tak pernah membuang waktu untuk berpikir bahwa budaya yang ini lebih baik dari yang itu. Menurut saya, semua bahasa adalah bahasa ibu.

Bila saya berada di AS, saya tidak mencari makanan Bengali. Saya juga nyaman makan di restoran Banglades, bukan restoran India. Kalau saya makan sendiri, saya menggunakan jari tangan saya sekalipun makan salad, karena begitulah cara saya dibesarkan. Tetapi tidak dengan cara itu kalau saya makan di restoran. Di India, saya membersihkan diri di toilet dengan tangan kiri, tetapi tidak melakukan itu ketika berada di AS.”

Gayatri tak pernah menyebut identitas agamanya. Ia tidak menjalankan ritual Hindu, meskipun terlahir sebagai Hindu. Tetapi setelah kelompok Hindu fundamentalis di India yang merupakan bagian kecil dari mayoritas Hindu yang moderat bersuara semakin keras, ia menyatakan dirinya sebagai seorang Hindu, supaya orang di luar tidak mendapatkan gambaran yang salah tentang Hindu.

Apakah itu berkaitan dengan privilege sebagai kelas menengah dari sistem kasta di India?

“Apa itu privilege? Saya berasal dari kelas menengah, kelas pekerja dan kami tidak terlalu miskin. Saya telah membiayai hidup saya sendiri sejak berusia 17 tahun dan pergi ke AS dengan menggadaikan hidup sebagai jaminan. Saya hanya punya uang 18 dollar di kantong dan tidak kenal siapa pun. Ini dapat terjadi karena saya dibesarkan untuk menegakkan kepala tinggi-tinggi. Semua orang di keluarga besar saya mengatakan kami semua akan masuk ke neraka karena orangtua kami tidak sama dengan yang lain. Mereka tidak mengatur jodoh kami, seperti kebiasaan umum di India.

Ayah saya sangat miskin dan ibu saya berasal dari keluarga yang cukup kaya. Meskipun begitu, ayah saya tidak mau menerima mas kawin (dowry) dari keluarga calon istri, seperti kebiasaan yang terus berlangsung sampai sekarang. Itu terjadi tahun 1928.

Ketika saya berusia 15 tahun ayah saya meninggal. Ibu saya mengatakan, ‘Nak, orangtua sering merasa tahu apa yang terbaik untuk anaknya dan mengatur jodoh untuk anaknya. Tetapi kamu memiliki kehidupanmu sendiri di luar rumah dan saya tidak bisa mengatur perkawinanmu’.

Bayangkan keberanian ibu saya; seorang janda berusia muda. Jadi hak istimewa saya dapatkan bukan dari kelas sosial, tetapi karena saya dibesarkan dalam pola asuh yang sangat tidak biasa.

Tulisan ini dimuat di Kompas, 12 Maret 2006.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in