Andy Fuller: Memahami Seno, dan menghadapkannya dengan pascamodernisme

Click here for English article

Keroncong Pembunuhan adalah sebuah cerita pendek yang ditulis di tengah 1980an. Ia berkisah tentang pembunuhan yang terjadi di tepi sebuah kolam renang. Keroncong adalah bagian penting dari kisah itu. Ia adalah jenis musik yang membangkitkan kenangan atas Jakarta dan beberapa tempat lain di akhir abad 19 dan awal abad 20. Keroncong adalah jenis musik hibrida: komposisinya berakar dari tradisi Eropa dan Indonesia. Hibriditas adalah sebuah frasa masa kini, merujuk pada situasi-di-antara, percampuran, sebuah kondisi yang tidak bersih. Ia adalah perayaan perbedaan, transformasi, pergerakan dan kolaborasi. Irama dan melodi keroncong itu lembut dan melenakan, halus dan mengalir. Ia adalah musik yang sempurna untuk didengarkan ketika menikmati keteduhan di sebuah hari panas. Ia berbicara tentang waktu senggang dan kelas menengah. Ia bukan musik protes atau konfrontasi, tapi musik ketenangan yang sopan, meski ia tetap bersifat multi-suara mengingat percampurannya dengan banyak tradisi dan gaya. Dalam cerita itu, sebuah kelompok musik keroncong bermain di tepi kolam renang sebuah hotel, mungkin di sebuah area di Jakarta. Ia didengarkan oleh seorang perempuan yang merancang sebuah pembunuhan, juga seorang lelaki yang akan melaksanakannya. Judul cerita ini, Keroncong Pembunuhan, memberi petunjuk kuat tentang jenis pembunuhan yang dijalankan. Ia adalah pembunuhan yang santai dan halus. Latarnya ditentukan oleh bangkitnya gagasan-gagasan yang terhubung dengan keroncong. Pembaca mengenali musik ini sebagai musiknya kelompok elit masa lalu. Keroncong bukan sekedar gaya musik; ia adalah kata sifat yang memberi petunjuk atas karakter pembunuhan yang terjadi.

Saya pertama kali membaca cerita ini ketika tinggal di Medan pada 2000. Bagi saya, saat itu, ia adalah cerita yang dibuat dengan keterampilan menulis tinggi. Baik cerita dan gayanya mengingatkan pada karya-karya Italo Calvino. Seperti Calvino, karya-karya Seno kerap meminjam tradisi-tradisi lisan dan lokal. Calvino seringkali dirujuk sebagai seorang pascamodernis. Karya-karyanya mengeksplorasi permainan tanda-tanda, sebuah tekstualitas fundamental dan menetap darinya. Ciri kepenulisan dari tulisan. If on a winter’s night a traveller, misalnya, adalah novel Calvino yang, sesungguhnya, tidak menempatkan pengarangnya di posisi superior. Ia berkisah tentang kekecewaan seorang pembaca karena tidak kunjung bisa mendekati sebuah teks asli; novel terbaru yang ditulis oleh seorang pengarang Italia terkenal, Italo Calvino. Di tiap usaha membaca, ia dibenturkan dengan kekecewaan bahwa teks itu rusak saat menjalani proses dicetak. Calvino bermain dengan kemungkinan-kemungkinan menulis; ia nyatakan bahwa beberapa hal, mungkin memang tak dapat diketahui. Apa yang perlu dieksplorasi, dengan demikian, adalah pertanyaan tentang bagaimana ‘mengetahui’ itu terjadi; bagaimana ‘pengetahuan’ terbentuk. Diskursus-diskursus apa yang membentuk, menentukan dan membatasi pengetahuan.

Cerita-cerita dan novel-novel Seno terang menunjukkan beberapa problem tekstualitas. Dalam membacanya, pengalaman para pembaca dibatasi, dipotong dan berkompromi dengan karakter-karakter tekstualitas. Pembaca adalah korban penulis dan lebih jauh, penulis, secara sadar, bermain dengan harapan pembaca atas gaya kepenulisan yang terbangun dari kejernihan bentukan peristiwa-peristiwa, konsistensi, konflik, resolusi. Beberapa cerita pendek melibatkan tanya-jawab dan interaksi antara seorang juru cerita dan pendengarnya. Si pendengar, Alina, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang si juru cerita dimana ia tak dapat menjawab atau tak ingin menjawab. Di Jazz, Parfum dan Insiden, bagian-bagian penting dari teks-teks kutipan tidak ditunjukkan; disensor. Seno menyatakan bahwa beberapa hal memang tak dapat dibongkar; bahwa pengetahuan itu dibatasi oleh aksi yang berkuasa, oleh hirarki dan struktur kekuasaan. Bermain dengan ciri kepenulisan dan tunjukkan batasan tekstualitas punya makna berbeda dalam konteks lingkungan otoriter. Karya-karya Seno tumbuh di masa ketika diskursus-diskursus tentang identitas, segala praktik salah guna, dan kekerasan dibisukan. Pemerintah Orde Baru mengontrol ketat hal-hal yang bisa diakses oleh publik, terbuka untuk dipertanyakan dan tentu saja, untuk diketahui. Pengetahuan, dikhawatirkan, akan membingungkan rakyat. Pengetahuan itu berbahaya.

Tujuan penulisan buku ini adalah untuk menguji gagasan pascamodernisme ketika berhadapan dengan karya-karya Seno. Saya sampai pada kesimpulan bahwa praktik-praktik susastra yang terkait dengan pascamodernisme hadir didalamnya. Saya berusaha menghindari diskusi-diskusi seputar ada atau tidaknya kondisi-kondisi posmodern. Saya menyadari bahwa hal itu terlalu mudah untuk dikatakan, bahwa ini adalah sifat-sifat X,Y, dan Z yang didefinisikan sebagai lambang gaya pascamodernis dan untuk melihat bagaimana  dan dalam hal-hal apa mereka hadir dalam karya-karya Seno. Karakter-karakter yang saya amati adalah sebagai berikut: cerita-cerita dari pinggiran, pertanyaan tentang pemisahan antara budaya populer dan budaya tinggi, dan pertemuan dengan ciri kepenulisan atau tekstualitas. Inkorporasi dan adopsi praktik-praktik ini punya makna khusus dalam konteks sastra Indonesia. Pascamodernisme, selama ini telah dikritik sebagai sesuatu dengan gagasan-gagasan politik yang kontradiktif dan penuh permakluman ketika ditabrakkan dengan kekerasan dan bentuk-bentuk revisionis dari sejarah. Meskipun demikian, karya-karya Seno yang dikelompokkan sebagai berciri pascamodernis, menampakkan dirinya sebagai karya-karya, yang secara politis, kritis. Dan memang, mereka muncul di masa ketika begitu banyak sejarah, begitu banyak narasi perlu dipertanyakan dan diuji. Saya tidak mengatakan bahwa Seno adalah satu-satunya penulis yang melakukan hal ini. Saya katakan, bagaimanapun, bahwa Seno melakukannya lewat cara yang terampil. Ia melakukannya lewat menggerakkan sastra sebagai kendaraan kritik politik.

Lewat cerita-cerita Seno, pascamodernisme berbentuk sebuah diskursus yang digunakan untuk melontarkan kritik atas ideologi pembangunan dan modernisme yang agresif. Benturan Seno dengan ideologi juga tampak jelas lewat pilihan gaya narasinya. Kita bisa melihat perbedaan jelas antara gaya menulisnya, dengan susunan yang terpecah-pecah, dan karakter-karakter yang nyaris tanpa diberi peringkat karakterisasi, dengan gaya penulisan para penulis modernis yang menggunakan para individu untuk menunjukkan bagaimana mereka mengatasi momen-momen konflik lewat  penaklukan hal-hal yang ada di sekitar dan diri mereka sendiri. Hal-hal yang terlihat dari cerita-cerita Seno adalah karakter-karakter yang rapuh, tak pasti, sentimental, dan bermain-main. Kemunculan terus menerus karakter Sukab–seorang lelaki yang terikat dengan cara tak biasa dengan sepasang sepatu tua–merupakan contoh khas karakterisasi Seno. Dalam kasus Sarman, kita saksikan seseorang yang sungguh-sungguh memelihara kemarahan atas remehnya pekerjaannya sehari-hari, alih-alih memilih melepaskan pekerjaannya itu. Ketika ia saksikan kepatuhan buta dan hasrat akan uang disekitarnya; ia buang uangnya, sembari mengolok-olok para rekan sekerjanya sebagai serakah. Sebuah karya yang menceritakan kegagalan dan kelemahan sehari-hari dan hal-hal yang biasa, sekaligus, kelemahan paling manusiawi manusia biasa, jelas tak punya tempat dalam ideologi arogan, penuh percaya diri dan tak kritis yang dominan sepanjang Orde baru.

Buku ini berdasar pada karya-karya Seno yang lahir di periode 1980an dan 1990an: sementara kondisi sosial dan politik mengalami perubahan di masa reformasi atau pos-Suharto, karya-karya Seno terus mengalami perubahan. Bagi saya, terdapat dua karya yang menonjol–Nagabumi yang masih terus berlangsung dan esai-esai di Kentut Kosmopolitan. Keduanya menunjukkan minat pada mitologi dan prasejarah, dan yang langsung dan kekinian. Keduanya memberi perspektif tandingan dalam membentuk dan membayangkan realitas Indonesia masa lalu dan masa sekarang. Mungkin keduanya tidak polemis, politis dan kontroversial seperti Saksi Mata atau cerita-cerita pendeknya seperti Clara atau Jakarta 2038, tetapi mereka, memberi sumbangan pada kesadaran kritis diskursus politik Indonesia sehari-hari. Saya hanya punya pertemuan singkat dengan Nagabumi, tetapi melaluinya, Seno mengolah koneksi-koneksi dan jaringan-jaringan dalam abad 9 dan abad 10 di wilayah ini sebelum pendirian negara bangsa. Ini adalah masa sebelum pemantapan dan persebaran Islam di Jawa dan Sumatra. Seno tampak berusaha menyatakan nilai penting dan relevansi kepercayaan-kepercayaan lokal pada masa sebelum Islam. Kentut Kosmopolitan, di sisi lain, adalah catatan-catatan seorang flaneur di Jakarta yang urban. Seperti seri novel Nagabumi, esai-esai Seno tentang Jakarta terbit dengan kecepatan tinggi. Kedua jenis tulisan ini menemukan asal-usulnya dalam teks-teks konsumsi sehari-hari: koran dan majalah populer. Seperti dinyatakannya dalam esainya, Pengalaman Menulis Cerita Panjang, bentuk tulisannya ditentukan oleh kebutuhannya. Di Nagabumi, Seno menggunakan kanvas lebar: memberinya kesempatan untuk terlibat dalam riset-riset mendalam dan untuk melakukan eksplorasi atas tradisi-tradisi sosial budaya. Esai-esai urban Kentut Kosmopolitan, walau demikian, ditulis dengan cepat: mereka adalah petikan-petikan, amatan-amatan cepat tentang sifat kehidupan Jakarta urban yang serba terpotong-potong dan tak penuh. Esai-esai ini tidak menampilkan suara seorang aktivis yang menyerukan protes atas tersingkirnya masyarakat urban miskin demi pembangunan sebuah mal. Seno, di sisi lain, diuntungkan dan mengagumi adaptabilitas, kelenturan dan kemampuan masyarakat urban untuk reka-ulang dan memperbaiki situasi yang mereka hadapi.

Kesimpulan

Melihat buku ini sekarang, dan melihatnya dalam Bahasa Indonesia, saya harus bertanggung jawab. Tetapi di saat bersamaan, saya merasa seolah ia ditulis oleh orang lain. Membacanya dalam Bahasa Indonesia, saya merasa ia ditulis oleh penulis arogan; begitu yakin pada dirinya sendiri; kepastian dari beberapa kalimat di buku ini menunjukkan pemikiran yang tidak aman dan tidak dewasa. Bagi saya, saat ini, sekurangnya terdapat satu elemen hilang dari buku ini. Buku ini berusaha untuk menempatkan karya-karya Seno dalam frasa-frasa terpilih, yang terhubung dengan pascamodernisme. Kerangka pascamodernisme itu terlalu sederhana, seperti ditulis Faruk dalam catatan pengantarnya. Persoalan, atau, pertanyaan seputar karya-karya Seno perlu untuk dibawa lebih jauh dari sekedar bertanya, apakah karya-karya Seno pascamodernis? Saya berpegang pada kesimpulan saya dan mengatakan, ‘ya memang–dalam batasan-batasan tertentu’. Apa yang bisa dilakukan oleh buku ini, dan gagal untuk dilakukannya, adalah untuk menggunakan contoh-contoh para penulis yang berasal baik dari sastra Indonesia kontemporer dan masa sebelumnya–baik mereka yang termasuk di dalam atau di luar kanon sastra Indonesia modern. Buku ini juga bisa mempertanyakan lebih dalam bagaimana karya-karya kritis politis ini tumbuh dalam trayek perkembangan estetika dan budaya yang berbeda. Buku ini juga bisa menawarkan hubungan lebih ketat dengan pertanyaan-pertanyaan yang diputar di kondisi pascamodernis. Ia bisa menghadapkan aktivisme Seno melalui sastra dengan aktivisme para intelektual sebelumnya; apakah mereka nasionalis, Islamis atau sosialis. Mungkin buku ini punya kecenderungan untuk menyalurkan kekaguman atas seorang penulis. Apa yang dilakukan Seno tidaklah terbatas pada dirinya sendiri, tetapi hadir sebagai bagian dari jaringan sosial, intelektual dan budaya lebih luas. Siapa publik Seno? Siapa yang tunjukkan ketertarikan pada karya-karya Seno? Karya-karyanya, menurut saya, di teks yang lain, adalah bagian dari perubahan lebih besar dalam kebangkitan kuat kelas menengah berbasis urban. Sumbangan Seno pada sastra Indonesia berhak mendapatkan studi lebih mendalam dan lentur dari yang ditawarkan oleh Sastra dan Politik. Tetapi, di luar soal setuju atau tidak setuju, bacalah buku ini.

Diterjemahkan oleh Nuraini Juliastuti dari Andy Fuller, “Reading Seno Against Postmodernism”. Teks ini didiskusikan pada peluncuran Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma (Yogyakarta: Insist Press, 2011), di Kunci Cultural Studies Center, 18 Februari 2012.

Andy Fuller adalah penulis Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma (Yogyakarta: Insist Press, 2011).

 

 

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in