Eksperimen Bahasa dalam komik DagingTumbuh: “Cobalah antri membeli tiket dan lihat keanehan di dalam”

Oleh Nuraini Juliastuti

 

imagesApakah dagingtumbuh atau the dagingtumbuh itu? Daging yang tumbuh di dataran kulit tubuh. Tampak menonjol. Mungkin juga terasa mengganggu bagi yang memiliki daging tumbuh, atau bagi yang melihatnya. Sejenis tumor yang berpotensi jadi kanker. Dalam kamus bahasa, dagingtumbuh bisa berarti kompilasi komik eksprimental, kata Eko Nugroho.

Tetapi baiklah, berikut ini adalah deskripsi Eko Nugroho sendiri tentang dagingtumbuh.

The dagingtumbuh. Telah terbit sejak tahun 2000. Merupakan media fotokopian yang terbit tiap 6 bulan sekali. Setiap terbit dengan 150 exsemplar saja dan bisa fotokopi sendiri. Jika kehabisan boleh membajak dagingtumbuh. 1. Segar; 2. Presiden VS Komik; 3. Menggergaji es jeruk; 4. Sirkus; 5. Merobohkan kelenjar hari libur; 6. Tendangan maut nanas muda; 7. Infeksi ganda minyak tanah; 8. Jangan ada ganteng di antara kita; 9. Ditampar pabrik kulit. Itulah beberapa terbitannya. Aktivitas dagingtumbuh tidak melulu bikin terbitan, tapi banyak yang dilakukan: 1. kompilasi animasi; 2. performance; 3. mural; 4. pameran; 5. dancer; 6. band. Pokoknya apa saja yak sip!

Keanggotaan dagingtumbuh bersifat terbuka. Siapapun bisa, yaitu dengan cara mengirim naskah ataupun terlibat dalam aktivitas-aktivitas dagingtumbuh maka dia telah sah menjadi bagian dari dagingtumbuh, dan tidak mengikat. Sewaktu-waktu jenuh silahkan pergi tanpa ijin dahulu, memang aku bapakne.

Yang jelas, dagingtumbuh adalah sesuatu yang menyegarkan. Atau sesuatu yang menjanjikan kejutan. Relakan tanganmu sebelum membuka lembar halaman berikutnya.

Keganjilan dan Keanehan

Merobohkan kelenjar hari libur. Tendangan maut nanas muda. Infeksi ganda minyak tanah. Menggergaji es jeruk. Ditampar pabrik kulit. Jangan ada ganteng diantara kita.

Bagaimana caranya merobohkan kelenjar hari libur atau menggergaji es jeruk. Bagaimana rasanya ditendang nanas muda dan ditampar pabrik kulit. Dan bagaimana juga dengan infeksi ganda minyak tanah. Saya tidak tahu bahwa hari libur itu punya kelenjar. Apakah mungkin es jeruk yang segar bisa digergaji. Betulkah nanas muda bisa menendang dan pabrik kulit bisa menampar orang. Di sini benda-benda diberi nyawa dan bisa bisa berbicara.

Ada tatanan bahasa yang membingungkan. Seperti dapat kita lihat pada editorial dagingtumbuh edisi Infeksi Ganda Minyak Tanah.

Vol 7 kali ini sungguh heboh dengan hadirnya lebih bermacam-macam satwa komik/karya yang masuk ke kandang kami. Dan bukan kebiasaan kami untuk mengupas satu persatu, maaf terlalu sibuk untuk itu. Tapi cobalah sedikit luangkan LOGIKA anda untuk bermain-main dengan dagingtumbuh, dibuka diputer trus suruh jilatin macan waah pasti heboh, NGAAK eh kapan maen ke jogja? Bau busuk disini, coba deh dikit aja dicium dan buat kalian yang suka wacana mungkin lebih baik sholat dulu aja deh.

Kita berikan simpati kepada anak-anak korban perang di Aceh, yah sadar betul kita cuman bisa ngomong dan nggak banyak yang bisa kita lakukan toh daripada tidak. Ngapain liat-liat gue culek pantat lu, gajah di pelupuk mata tak tampak apalagi kuman di seberang lautan namun sejauh hari memandang berakit-rakit dahulu berenang-renang ke maleman. Ups liat acara kriminal di televisi deh asyik banget ada banyak trik dan cara membunuh, DAR-DOR pak pol main tembak buat ngabisin sisa peluru yah dari pada karatan walaupun kadang meleset kena penduduk sipil, kasiaaaan deh lu….buat para drakula kalian gemuk dong kalau tiap siang disuguhi darah-darah dari si TV bagi-bagi dikit dong dagingnya jangan sampe ketahuan sumanto ntar kita-kita nggak kebagian gawat, padahal daging baru trend di Indonesia. Partai baru kami MUSA si kolekor mayat, nyoblos yuk. Kita mauuuuuu!

Atau editorial dalam edisi Merobohkan Kelenjar Hari Libur dibawah ini.

Selamat datang ha ha ha ha ha

Kraaaakkk….! Halo kembali lagi kita di edisi ke-5 ini, salam hangat-hangat tai ayam. Dan di sini dagingtumbuh lagi-lagi nggak bawa apa-apa kecuali kunci rumahmu sebelum tidur, makanlah yang banyak sebelum kamu dimakan, sering-sering-sering goyangkan pinggulmu sebelum patah tulang, kenapa hari ini musti ayam goreng, jangan lengah lihat di belakangmu! Awasi televisi!

Cobalah sedikit luangkan logika anda untuk bermain-main dengan dagingtumbuh, dibuka diputer trus suruh jilatin macan waah pasti heboh, ngaak eh kapan maen ke jogja? Bau busuk disini, coba deh dikit aja dicium… Jadi dalam kalimat ini kita diminta untuk meluangkan logika untuk bermain-main dengan komik dagingtumbuh, membuka lembar-lembar komiknya, dibuka-diputar, lalu meminta macan untuk menjilati komik itu. Lalu ada kalimat yang menanyakan kapan kita pergi ke Jogja. Juga ada informasi bahwa ada bau busuk di sini.

Cobalah dicium sedikit. Paragraf itu seperti deretan kalimat-kalimat tertulis dari obrolan dua orang. Atau seperti kita sedang berada di depan seseorang yang sedang menelepon—tidak jelas siapa lawan bicaranya—dan kita duduk di depannya sambil mencatat kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Tampak tidak jelas karena kita tidak tahu kalimat itu diucapkan sebagai respon dari pertanyaan atau pernyataan apa.

Bahasa Indonesia yang ada dalam kutipan di atas adalah bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa gaya Jakarta yang renyah dan santai, dengan penulisan yang dituliskan persis seperti kalau kita berbicara, mengobrol, dalam kalimat-kalimat yang disambung-sambungkan seenaknya. Semuanya dihadirkan dalam satu paragraf utuh. Seolah semuanya mempunyai kandungan makna yang utuh, punya hubungan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain. Dan di sini dagingtumbuh lagi-lagi nggak bawa apa-apa kecuali kunci rumahmu sebelum tidur, makanlah yang banyak sebelum kamu dimakan, sering-sering-sering goyangkan pinggulmu sebelum patah tulang, kenapa hari ini musti ayam goreng, jangan lengah lihat di belakangmu! Awasi televisi!

Tetapi sebenarnya kita mempunyai tradisi atau mungkin keterampilan untuk menggabung-gabungkan kalimat, yang entah ada hubungannya atau tidak, tapi tetap bisa dicari sambungannya, digandeng-gandeng begitu saja, seperti yang sering kita temui dalam teks lagu-lagu permainan anak-anak.

Paman dari mana

Potong-potong roti, rotinya diolesi
Belanda sudah mati, Indonesia merdeka
paman dari mana, Paman dari Betawi
membawa oleh-oleh sebuah almari
Almari minta kunci, kunci minta tukang
Tukang minta uang, diberi oleh raja
Raja minta istri, istri minta anak
Anak minta susu, diberi susu sapi
Sapi minta rumput, Ambil di sawah
Sawah minta air pak, Ambil di sungai
Sungai minta batu pak, Ambil di gunung
Gunung minta api pak, Ambil di kompor
Kompor minta minyak pak, Ambil di warung
Warung minta uang pak, Ambil uang di bank
Bang bang tut jendela wa-wa
Sapa wani ngentut ditembak raja tua
Neng kali ngiseni kendi
Jeruk purut wadah entut
Tuo-tuo kaji untune gari siji
Mbukak lemari isine roti
Roti roti atos silite mbledhos
Anak sapi jenenge pedhet
Sopo ngentut unine jebreeet!

Teks lagu permainan anak-anak di atas saya dapatkan dari komunitas anak-anak di Kampung Juminahan (Yogyakarta) yang tergabung di Anak Wayang Indonesia. Dan itu bukan satu-satunya. Kehidupan sehari-hari kita dipenuhi oleh jenis teks semacam itu. Berikut adalah teks lagu permainan yang serupa.

Sim-sim

Sim sim terima kasim
Sim simpan daun rambutan tan
Tanduk ular mati ti
Tikus main di loteng teng
Tenggok ayam bertelur lur
Lure jalannya laju ju
Jual minyak wangi ngi
Ngitung uang seperak rak
Rakus makanan babi bi
Bintaang beribu-ribu bu
Bulan hanya satu tu
Tulis di papan tulis lis
Lihat kebunku cing
Penuh dengan buaya
Ada yang meringis dan ada yang merongos
Setiap hari mau kusiram
Semut merah mawar melatikus
Semuanya indomie
Bapak pegang tongkat ibu pegang sapu
Bapak naik pangkat ibu jadi guru
Naik kapal kecil takut goyang-goyang
Naik kapal besar tidak punya uang
Jalan malam-malam takut ada setan
Main korek api takut kebakaran

Dalam kutipan teks permainan anak-anak di atas kita mendapati campuran bahasa Indonesia dan Jawa, sebuah teks lagu yang dibuat dengan resep penggabungan antar kata dan kalimat, asal terdengar cocok di telinga. Suku kata terakhir dicarikan kata dengan awalan suku kata yang sama, atau kata terakhir dari suatu kalimat yang disambung dengan kalimat lain dengan awalan kata yang sama, seakan tidak peduli apakah susunan antar kalimat yang terjadi nantinya terdengar masuk akal atau tidak. Strategi dalam teks semacam ini adalah: yang penting jalan terus, yang penting lagunya bisa dinyanyikan bersama-sama, yang penting permainannya bisa terus jalan. Dan juga ada jejak-jejak kelatahan di sana.

Strategi yang ada dalam teks lagu permainan anak-anak juga dipakai dalam bahasa yang dipakai oleh Eko Nugroho. Dalam editorial yang ditulis Eko tertulis seperti ini: …Ngapain liat-liat gue culek pantat lu, gajah di pelupuk mata tak tampak apalagi kuman di seberang lautan namun sejauh hari memandang berakit-rakit dahulu berenang-renang kemaleman…. Idiom “gajah di pelupuk mata tak tampak apalagi kuman di seberang lautan” disambung langsung dengan “namun sejauh hari memandang berakit-rakit dahulu berenang-renang kemaleman”. Dalam teks lagu permainan “Paman dari mana” kita dapati pola sambung-menyambung kata dan kalimat yang sama dengan yang dipraktekkan Eko Nugroho: Potong-potong roti rotinya diolesi Belanda sudah mati/ Indonesia merdeka paman dari mana/ Paman dari Betawi membawa oleh-oleh sebuah almari/ Almari minta kunci kunci minta tukang/ Tukang minta uang/ Diberi oleh raja/ Raja minta istri/ Istri minta anak/ Anak minta susu/…dst.

Bahasa Totor

Dalam dagingtumbuh, selain juga memberi kontribusi berupa komik bikinannya sendiri di setiap terbitan, Eko Nugroho juga berlaku sebagai editor. Dalam dagingtumbuh edisi terakhir—Buatan Tangan Lebih Baik Daripada Kutukan Tetangga”, Eko menulis semacam pengantar untuk setiap komik di edisi tersebut.

Tetangga berulah malaikat menatap mesin tatto.
Tukang bakso mencintai polisi tidur.
Bagaikan matahari telat membayar pajak.
Kelopak mata penentu nasib ksatria malam.
Anggur merah dalam mie ayam.
Tidurlah berdekatan dengan iklan TV.
Gajah merindukan sepatu kaca.
Bagaikan mencoba diri untuk bangkit dari kuah sup ayam.
Terkutuklah petualang kampung.
Cintaku seteguh hutang.

Saya merasakan ada keganjilan dan keanehan dalam susunan tiap kalimat di atas. Sesuatu yang aneh dan ganjil tetapi sekaligus terasa akrab familiar. Seperti jika kita membaca lembaran-lembaran kertas judi totor atau membuka buku primbon.

Burung condet yang kemasukan suara burung kutilang 19 dan suara tokek mengapa dianggap jelek?! Bukankah ini anugerah dari sang pencipta?! (Diterbitkan oleh Mega Persada BMW 82 CH, 27 Februari 2004)

Mlipir-mlipir lewat jalan yang berliku-liku. Kebiasaan yang tidak baik 37 apalagi sering dikeluarkan dari mulut sing ana wisane! Bahaya. (Diterbitkan oleh Mega Persada BMW 82 CH, 3 Maret 2004)

Berikut ini adalah contoh-contoh kalimat lain dari kertas ramalan yang beredar di masyarakat setiap hari:

Ibu suri memelihara ulat sutera bahan tenun istana… (27 Februari 2004)

Sanepo: Jarum dondom benang biru (Diterbitkan oleh Cemoro Aji, 3 Maret 2004)

Kode alam: Melihat kuda makan rumput (Diterbitkan oleh pusat ramalan dan amplopan komplit Satria, 3 April 2004)

Bangun pagi, gosok gigi, sambil mandi adalah kegiatan rutin (Diterbitkan oleh pusat ramalan dan amplopan komplit Satria, 3 April 2004)

Perempuan malam memakai selendang sutra (Diterbitkan oleh Dewi Fortuna, 3 Maret 2004)

Sworo Langit: Semar lan Gareng turu bareng (Diterbitkan oleh Cambuk Mataram, 3 Maret 2004)

Lungguh nonton bintang (Diterbitkan oleh Joos Gandhos, 3 Maret 2004)

Bagaimana cara mendapatkan kalimat-kalimat tersebut? Bagaimana cara mendapatkan nomor-nomor itu? Mungkin jika kita membaca kalimat-kalimat di semacam buku catatan milik seorang teman ini (dia mempunyai kebiasaan untuk mencatat pengalamannya dalam membeli nomor totor), kita akan memperoleh pemahaman bagaimana nomor-nomor itu didapatkan, dan bagaimana rasa dari kalimat-kalimat yang ada dalam tiap lembar kertas edaran nomor jitu itu.

10 Januari 2003
Idea nomor 8802 dari mobil Master Cologne: “Be a man be a master”. Idea nomor 14441 dari nomor produksi bolpen pilot yang dibeli hari itu untuk me-mistik angka.

Atau penjelasan semacam ini.

15 Januari 2002
Angka yang keluar kemarin adalah 85. Itu berarti nomer yang aku beli hari pertama.

Pola-pola:

Hari pertama keluar pada hari ketiga. Berarti hari kedua keluar hari ke empat. Ini pola yang bagus.

Pada lembar berikutnya tertulis catatan seperti ini.

Polanya hampir dapat. Tapi kurang hati-hati. Yang keluar hari ini adalah 2040. Saya membeli 2004. Kurang serius. Anjing. Kenapa kamu nggak pede sama pola yang kamu bikin sendiri?

Saya tidak tahu apakah pembaca yang tidak dibesarkan dalam lingkungan yang penuh ramalan akan bisa menangkap rasa dari kalimat-kalimat ini. Saya merasa tidak aneh dengan kalimat-kalimat yang ada dalam komik Eko Nugroho karena saya juga tidak asing dengan buku primbon dan kertas ramalan. Semua ada di sekitar saya, dalam kehidupan sehari-hari.

Atau sepertinya kalimat-kalimat tersebut terasa tidak aneh karena ia menyatu dengan lingkungan gambarnya, bahasa totor dengan susunan nomor dan gambar yang menyertai kehadirannya. Dengan kata lain ia harus selalu hadir dalam konteks yang sama, juga dibaca oleh komunitas atau audiens yang berkomunikasi dengan bahasa yang sama.

Komunitas yang berbicara dengan bahasa penuh imajinasi, penuh konspirasi, bahasa yang penuh rahasia. Apapun yang tertulis harus diartikan kembali, harus ditafsirkan, harus dibayang-bayangkan kemungkinan maknanya. Dan untuk menangkap makna, kita diharapkan bisa menggabung-gabungkan dengan kejadian atau kalimat lain yang menurut kita punya hubungan. Tidak perlu berbicara terlalu panjang, karena semua orang berada dalam dataran mental yang sama.

Bahasa Indonesia di sini tampil dalam bentuknya yang luwes dan lentur karena ia bisa digabung dengan bahasa Jawa, atau bahkan digabung dengan penulisan angka-angka. Visualisasi yang menyertai lembaran kertas totor terbilang sederhana. Satu lembar kertas yang sebagian besar berisi tulisan, kadang dipadu dengan deretan angka-angka yang memakan ruang cukup banyak, tidak banyak gambar digunakan.

Sementara jika membuka lembaran-lembaran buku “3.000.000 Tafsir Mimpi Super Lengkap”, hubungan antara gambar dan kalimat yang tertulis di bawahnya terasa sangat jelas. “Ke Brunei” bergambar sebuah kapal berlayar di lautan. Akan berlayar ke Brunei. “Pinjam Pemotong Rumput” bergambar seorang laki-laki yang sedang memotong rumput. “Pukul Orang dengan Besi” bergambar seorang yang memukul kepala seseorang lain dengan besi. “Truk bertubrukan dengan bis” bergambar truk yang bertubrukan dengan bis. Yang butuh penafsiran lebih jauh adalah mengapa gambar “Mencuci seprei” bermakna angka 1876 dan 7876. Dan bukan yang lain. Atau mengapa gambar “Truk bertubrukan dengan bis” itu bermakna nomor 1879 dan 7879.

Bisa dikatakan bahwa Eko berbahasa dengan semangat lokalitas yang tinggi. Ia berbicara dengan bahasa, idiom, umpatan, dengan gaya yang biasa dipraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari. Masyarakat yang terbiasa dengan plesetan, primbon, dan semangat menafsir atau memistik yang tinggi.

Lalu apa yang terjadi jika bahasa khas ramalan primbon dan totor ini digabungkan dengan gambar-ilustrasi komik yang kontemporer: manusia dengan kepala bercerobong atau figur gadis trendi bersepatu hak tinggi dengan dandanan zaman sekarang. Hasilnya adalah sesuatu yang surealis.

Dan bersiaplah terhadap setiap kemungkinan kejutan yang ada. Seperti ditulisnya atau mungkin tepatnya diperingatkannya dalam editorial dagingtumbuh edisi Ditampar Pabrik Kulit ini:

The prigel lan prasojo.

The makelare.

Selamat datang di pusat grosir dagingtumbuh, kembali lagi kita menghadirkan koleksi campur aduk karya pecah belah, yang tentunya akan menarik hati anda disamping harganya yang murah dengan kualitas yang tak kalah dengan dagangan di mall terbesar di kota anda. Dapatkan sekarang juga produk-produk kami, yang cantik sebagai kado ultah, syukuran, pernikahan, babaran, bahkan sebagai kado duka, kami tersedia lebih lengkap daripada yang anda kira. Silahkan menikmati dan jalan-jalan leluasa di kios-kios fotokopian kami, nikmati perjalanan anda secara pelan-pelan. Dan dengan karya pecah belah kami semoga anda terhibur atau tidak sama sekali kami tidak peduli, maaf telah merepotkan.

Rasa Kuno

Jenis bahasa lain yang juga terdapat dalam kompilasi komik dagingtumbuh ini adalah jenis bahasa Indonesia dengan rasa kuno.

Cerita-komik yang dibuat oleh Andry Moch dalam dagingtumbuh edisi Ditampar Pabrik Kulit ini menjadi contoh tepat dari jenis bahasa gaya seperti dijelaskan pada paragraf di atas:

Surga Dunia: Comix Pleasure, Story from Hell

Ayo sebotol lagi jenever tulen! Hidup!
Manusia sekarang pada kampring. Mampus!! Inilah akibat minum minuman keras. Rusak binasa lahir batin.
Perhatikan arah panah yang berada di meja. Tangan dominik sedang melakukan aksi. Ini bukan rekayasa.
“Waw Mambo No 1”
“Ah biasa. Ramuan Liong Seng”.
“Busyet! Apa yang mereka lakukan berdua indehoy enjoy”
Di surga belum tentu nikmat begini.
Eh mas, kita coba torpedo di semak-semak?
Tenang say. Indonesia sangat kaya semak-semak.
Pak RT. Di semak-semak ada yang gerak-gerak, mungkin sebuah penampakan.
Sehingga kedua sejoli itu telanjang bulat. Semua jang mereka lihat jadi berlainan seakan2 sesuatu dalam diri mereka telah berobah. Buat pertama kali selama hidup mereka menjerit dan merasa ketakutan dan pertama kali mereka kedua2nya saling pandang memandang dgn perasaan malu yg tak terhingga…
Gila gua di KO lagi. Shit!!
Ramuanmu tak berarti bagi kerang saktiku. Oh…
Oh mas maafkan itu memang kekhilafanku.
Hahahaha hawa nafsumu itu mambo yang loyo imitasi.
Gila kau ternyata kamu menggunakan doping.
Nyahlah kau dayang. Ta’ sudi aku memelihara kau lagi. Pergi!!
Oh, tak kusangka kau sekejam binatang karma! Ibu…ampuun.
Wak waw.
Rasakan gua bilang juga apa. Mampus tuch. Loe kagak percaya sama gua. Pohon nyabrang lo tabrak.
Oek! Ya tuhan kasihanilah aku…aku tobat ya tuan…toobbaaat!!
Kita tidak perlu makan orang ini….Ya memang tugas kita hanya untuk menyiksanya saja!
Segeralah toubat sebelum ajalmu tiba.

Sekali lagi bisa kita saksikan bahasa Indonesia yang penuh dengan campuran bahasa dan aksen atau cara pengucapan. Ada bahasa Inggris juga aksen gaya bahasa Indonesia ala Jakarta di sana. Juga perhatikan cara penulisannya. Bisa kita saksikan gaya penulisan bahasa Indonesia sebelum ejaan baru: “yang” ditulis dengan “jang”, “tak” ditulis dengan “ta’ “. Tetapi sekaligus bisa kita saksikan penulisan yang tidak konsisten. Beberapa kalimat dituliskan dengan gaya ejaan lama, tetapi juga kadang kembali ke gaya ejaan baru, dan ada juga yang ditulis dengan penggayaan sesuai selera penulisnya, disesuaikan dengan gaya ketika berbicara.

Kesan keseluruhan dari kutipan di atas adalah bahasa yang terasa kuno, agak formal, dan detil. Andry Moch, komikus dari Bandung yang aktif memberi kontribusi di kompilasi komik dagingtumbuh, ini juga memberi visualisasi dengan peniruan pada visualisasi lama. Saya mengatakan visualisasi lama karena gambar-gambar dalam karya Andry Moch ini mengingatkan saya pada visualisasi iklan cetak Blue Band atau Palmboom atau Lifebuoy di media cetak tahun 1950an. Dan lagi-lagi dapat ditemui ketidaksinkronan yang tampaknya sengaja dibuat oleh Andry baik dalam bahasa maupun dalam visualisasi. Penampilan yang eklektik. Semuanya bercampur jadi satu. Dalam visualisasi yang bersuasana 1950an tiba-tiba digambarkan ada roket T12 melintas di tengahnya.

Di bawah ini adalah kutipan teks cerita komik berjudul Attack Copyright by Photocopy karya Andry Moch yang lain.

Attack Copyright by Photocopy

Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf kalo ada nama-nama yang bersangkutan. Tidak bermaksud menyinggung atau menghina, karena ini hanya rekayasa imitasi saja! Silahkan dibajak sesuka hatimu, demi mencerdaskan pak kades dan polwan.
Mengingatkan aku akan tanah airku…Pantai selatan dengan pasir putihnja…Memang tidak djauh aku kira.
Zaman sudah bergulir dgn cepat. Semuanya tak bs ditampung di kepala dgn lama. Memulyakan wkt jgn apa yg kt utarakan tak bs berlama2 terbuai.
Tapi di sini masih romantic.
Maju sentosa. Mari mari ikut kami…
Sintetikboys 4 menggejolak merasuk jiwaraga. Operator: seniboy.
Hay Jimmy. Apakah kau masih seperti yang dulu!!
Oh tentu say! Karyaku yang maha dahsyat menggelinjang ekspresi jiwaku yang orisinil.
Gayamu monoton Jimi.
Penuh emosi bodoh!!
Ecstasy panorama memang membuatmu buta. Skill is death. Honey, look a camera!! n cheese your smile. Imitasi image take of it with blitz. Blitz. Blink.
Copyleft xeroxx. Press the elbows close to the body. Always stand with the legs well apart. And hold quite still while you release.
Power amplifier. Recording is simple.
Kamu macho Jimmy tapi km diperbudak minyak sultan greng.
CUIH! Kok karyanya copyright banget sich.
CHAGY! Apa yg kau lakukan dgn karyaku yg mendurja jagat raya sari bunda.
Oh yess.
Aku sudah muak dgn gambar ANU-mu itu yang meluncur dan menyembur ke langit jadi kubakar saja supaya km insaf hehe.
Lukisan itu…
OH CHAGY kau begitu mabohay.
Tapi ternjata lukisan itu terbakar, berkat ketangkasan penduduk setempat jang dengan tjepat…sesungguhnja lukisanm itu hasil djerih pajah sedjak ia tidak mendjadi pelukis dekor lagi, buah DGTM begitu disukai masjarakat melaju sehingga pesanan terus menerus mengalir…
Thanks berat Chagy kamu telah memberi pencerahan. Oh yeah lega!
Auh Jimmy kau bisa ajah, ayoo kita indehoy di rumput yu.
Nah begitulah akhir dari cerita dua sejoli yang masih mencari identitas. Pemirsa yang budiman makanya jangan nakal ya sama mama. Setelah ini ade-ade jangan lupa gosok gigi dan mengaji sampai jumpa di gejolak bayi ajaib #34.

Kedetilan bahasa yang sekaligus terasa agak formal dan aristokrat—seperti gaya bahasa yang dipraktekkan di koran kuning semacam Pos Kota atau Memorandum, dan bercampur dengan gaya bahasa seperti dalam stiker-stiker yang sering ditempel di angkot, bis atau bajaj. Dalam stiker-stiker gaya angkot tersebut, bisa ditemui bahasa yang aristokrat dan mempunyai makna menggurui semacam “Tuhan ampunilah dosa kami”, atau “Belajar dan berdoa”, sekaligus bisa ditemui bahasa yang formal tapi bermakna sangat menggairahkan semacam “Patah hati tak harus mati” (tertulis diatas gambar perempuan memakai kutang).
Analisa yang berharga atas bahasa detil-formal yang dipakai oleh Pos Kota ini diberikan oleh James T. Siegel. Menurut para redaktur Pos Kota, gaya bahasa tersebut dipakai dengan meniru bahasa majikan kepada buruh atau pembantu, juga seperti bahasa dari seorang guru kepada para muridnya. Bahasa yang menekankan pada kedetilan. Dan menurut Pos Kota, bahasa yang detil adalah juga bahasa yang sabar dan penuh pengertian kepada pembaca yang mungkin tidak sepenuhnya paham atas isi berita yang ada. Jadi harus dibantu dengan pemakaian bahasa yang super detil (Siegel, 1998: 43).

Dalam dagingtumbuh juga bisa kita saksikan iklan-iklan dari kelompok musik, penerbitan independen, atau iklan dari perusahaan rekaman independen. Jangan harapkan akan melihat iklan seperti yang ada di majalah atau koran yang biasa. Di dagingtumbuh, semua iklan disesuaikan atau menyesuaikan diri dengan komik-komik yang menjadi sajian utama. Saya kutipkan iklan kelompok musik A Stone A dari Bandung yang mengiklankan musik mereka di kompilasi komik dagingtumbuh.

Sangat disajangkan bahwa seorang pemuda jg tampan dan bergaja tetapi berkelakuan jg buruk sekali. Ia tak mau menurut nasihat ibunja, tetap membandel bahkan sering melawan. Parasnja jg tampan itu dipergunakannja untuk memikat gadis dann kemudian mengganggu kehormatannja. A Stone A.
Super Hebred.

Cheap Noise Rock. Debut album by A Stone A. Super Hebred.
Informations: killafternoon@yahoo.com. 08122017094.

Selera bahasa yang eklektik seperti ditunjukkan dalam contoh kutipan-kutipan di atas sejalan dengan gairah anak muda akan sesuatu yang retro, kuno, lawasan. Kelompok-kelompok musik dengan selera musik yang juga lama seperti Naif atau White Shoes and the Couples Company tumbuh dan banyak digemari. Seiring dengan itu, tumbuh juga gaya berpakaian dengan semangat yang sama.

Apakah pemakaian bahasa rasa kuno ini menunjukkan eksperimen bahasa terbaru anak muda sekarang? Ataukah sekedar ingin melakukan praktek bahasa yang berbeda saja dari bahasa yang biasa diucapkan dan dituliskan sehari-hari. Bahasa Pos Kota, bahasa di stiker-stiker angkot, bahasa dalam teks lagu-lagu Benyamin S adalah bahasa yang bagi anak muda zaman sekarang memberikan nuansa berbeda, memberikan perasaan yang romantis-nostalgia, dan karena itu menarik untuk dicoba dipraktekkan.

Sebagai penutup saya kutipkan paragraf pembuka dari cerita-komik karya berdua Aprilia Apsari (vokalis White Shoes and the Couples Company) dan Indra Ameng (manajer White Shoes and the Couples Company) berjudul “4 Roman Picisan” yang terdapat dalam kompilasi dagingtumbuh edisi Lelaki Penghuni Speaker Aktif di bawah ini:

4 Roman Picisan

Di pojok ruangan cafe, tampak dia sudah duduk disana sejak 10 menit yang lalu. Dia mengenakan sweater warna coklat muda berkerah tinggi dan syal lebar warna hitam. Gaya pakaiannya yang old-fashioned membuat Dia terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Cantik, dengan model rambut ala film star tahun 50-an, hitam tebal panjang bergelombang dan ujungnya di-roll ke dalam. Ia datang terlambat, berjalan agak tergesa menghampiri Dia yang duduk di pojok cafe itu. Dengan jas hitam kemeja putih berdasi dan gentleman. Ia menyapanya dan duduk tepat di samping Dia. Bersebelahan. Mereka sungguh serasi dan menawan. A classic couple.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in