Dulu mereka menyebut saya pelawak, sekarang saya disebut pemikir berbahaya

Berikut adalah wawancara versi lengkap Shobhan Saxena dengan Slávoj Zizek, “Dulu mereka menyebut saya pelawak, sekarang saya disebut pemikir berbahaya” (versi yang belum disunting oleh The Times of India), yang diterjemahkan dari versi yang dimuat di blog Shobhan Saxena dengan judul “Apakah Gandhi lebih kejam dari Hitler?“:

Pengantar Shobhan Saxena

Mari mendudukkan persoalan dengan jelas sejak awal: saya tak punya keraguan bahwa Hitler lebih kejam dari Gandhi. Sesungguhnya, saya tak akan pernah membandingkan Gandhi dengan Hitler. Saya bukan seorang pengagum Gandhi, tapi saya tak akan pernah menyebut dia sebagai orang yang kejam. Kini, jika Anda ingin tahu kenapa saya bertanya “Apakah Gandhi lebih kejam dari Hitler?”, inilah jawaban saya: minggu lalu [Januari 2010] saya bertemu Slávoj Zizek, seoarang filsuf tak biasa dari Slovenia. Zizek memadukan pendirian-keras-tak-populer politik sayap kiri dengan seleranya akan film-film klasik Hollywood. Dia telah menulis lebih dari 30 buku dengan subyek beragam, dari Alfred Hitchcock, Lenin, hingga Peristiwa 9/11, dan menjadi pembawa acara serial televisi The Pervert’s Guide to Cinema. Dia juga pernah mencalonkan diri jadi presiden Slovenia. Selama wawancara, Zizek mengatakan kepada saya bahwa dia menganggap Gandhi sebagai orang yang sangat kejam. Ketika saya minta menjelaskan maksudnya, dia memberikan satu penjelasan panjang, provokatif, dan menarik. Tidaklah mudah untuk tidak setuju dengan dia. Zizek, yang diundang ke India oleh Navayana untuk peluncuran buku terbarunya (First As Tragedy, Then As Farce) dan memberikan serangkaian kuliah di India, juga mengkritik Dalai Lama, Budhisme, dan China. Atas saran beberapa teman, yang menganggap bahwa wawancara ini menarik dan ingin tahu lebih banyak tentang Zizek, saya mempublikasikan versi lengkap wawancaranya di sini.

 

Anda menyebut diri Anda seorang Leninis, tetapi media Barat menyebut Anda seorang “bintang rock”, “Elvisnya teori budaya”, dan “bersaudara dengan Marx”. Bagaimana reaksi Anda pada sebutan-sebutan jurnalistik semacam itu?

Saya menerimanya dengan kepasrahan melankolis. Mereka berusaha mengatakan bahwa orang ini mungkin menarik dan provokatif, tapi dia tidak serius. Mereka menyebut saya orang provokatif. Bagi media Barat, saya seperti orang yang selalu mengganggu dan memprovokasi Anda, tetapi tak seharusnya ditanggapi serius. Ini adalah mekanisme pembelaan diri. Lalu kemudian mereka mulai mengira saya sebagai seseorang yang lebih mengancam….

 

Dalam satu artikel yang akhir-akhir ini dimuat the New Republic, Adam Kirsch menyebut Anda “filsuf paling berbahaya di Barat”…

Ya, dalam dua tahun belakangan, nada [pemberitaan] di Amerika Serikat dan Eropa telah berubah. Sekarang mereka mengatakan tengah menghadapi seseorang yang sangat berbahaya. Perubahan nada ini cukup mengagumkan. Mula-mula, ada guyonan soal saudara Marx, dan sekarang mereka mengatakan saya berbahaya karena saya seorang Leninis. Tapi saya tak peduli. Saya menerimanya saja.

Anda juga dituduh memuja kekerasan politik. Apakah Anda mendukung kekerasan sebagai alat perubahan politik?

Saya mesti berterus terang. Bagi saya, komunisme abad ke-20 adalah bencana etika-politik terbesar dalam sejarah, bencana yang lebih besar dari fasisme. Dalam fasisme, Anda punya orang jahat yang mengatakan “kami akan melakukan hal-hal jahat!”, mereka mengambil alih kekuasaan, dan mereka melakukan banyak hal jahat. Itulah sebabnya di dalam fasisme Anda tak punya pembangkang. Tetapi pada tahun-tahun awal Revolusi Oktober*, selain terjadi sesuatu yang disebut Teror Merah**, di sana juga terjadi pembebasan seksual dan perubahan besar sebelum hal itu kemudian berubah menjadi mimpi buruk. Saya tidak setuju dengan kritik kaum sayap-kanan yang mengatakan bahwa kejadian itu sudah jahat sejak awalnya.

Apa maksud Anda?

Maksud saya adalah apa yang dilihat orang sebagai kekerasan adalah kekerasan subjektif yang langsung (direct subjective violence). Sangatlah penting dan mendesak untuk melihat kekerasan yang dilakukan berulang-ulang demi menjaga sesuatu supaya tidak berubah. Saya tidak tengah bicara semata tentang kekerasan struktural, kekerasan simbolis, kekerasan dalam bahasa, dsb. Dalam hal ini, Gandhi jauh lebih kejam daripada Hitler. Hitler membunuh jutaan orang. Ini lebih merupakan pembunuhan reaktif. Hitler aktif sepanjang waktu tidak untuk mengubah sesuatu, melainkan untuk mencegah perubahan.

Banyak orang akan menganggapnya konyol, bahkan untuk sekedar membayangkan bahwa Gandi lebih kejam daripada Hitler? Apakah Anda serius mengatakan hal ini?

Ya, dia lebih kejam, meskipun Gandhi tidak mendukung pembunuhan. Dengan aksi-aksinya—pemboikotan dan sebagainya—dia telah membantu imperialis Inggris untuk tinggal di India lebih lama. Ini adalah satu hal yang Hitler pasti tak menginginkannya. Gandhi tidak melakukan apapun untuk menghentikan cara kerja dan kerja Kerajaan Inggris di sini. Anda harus berpikir mengapa India disebut sebagai permata kerajaan Inggris? Bagi saya, ini adalah masalah. Mari mendudukkan kekerasan secara tepat.

Menurut saya Anda tak punya rasa hormat pada Gandhi, seorang tokoh penting di negara ini.

Saya menghormati dia. Tetapi saya tak menghormati dia untuk jalan damai yang dia pilih, vegetarianisme, dsb. Saya tak peduli tentang itu. Tetapi Gandhi berhasil menjalankan tindakan-tindakan berprinisipnya dengan semangat pragmatis. Sangatlah sulit menjaga keseimbangan ini. Tetapi buat saya Ambedkar*** jauh lebih baik daripada Gandhi. Kutipan favorit saya dari Ambedkar adalah “tak akan ada kasta tanpa orang-orang berkasta rendah” (no caste without outcasts). Ambedkar melihat solusi Gandhian bagi kaum paria itu salah. Saya adalah pengikut pendekatan radikal Ambedkar.

Anda belum menjawab pertanyaan saya soal sikap Anda pada kekerasan politik…

Dalam bentuk yang abstrak, saya menentang kekerasan. Tetapi tak ada seorang pun yang sungguh-sungguh menolak kekerasan. Lihatlah teks Budhis. Mereka mengatakan Anda tak boleh membunuh, tetapi kemudian mereka punya banyak pengecualian. Pada tahun ’40-an, salah satu filsuf Zen terbesar menulis artikel-artikel yang bukan hanya membenarkan invasi Jepang ke China, tetapi juga menyarankan bagaimana pencerahan Budhis mengijinkan Anda membunuh tanpa menjadi bersalah. Dikatakan bahwa Anda berada dalam kekosongan, Anda adalah seorang pencari, tangan Anda bergerak di udara dan tubuh yang lain terjebak pada pisau, jadi itu bukan salah Anda.

Sulit menerima bahwa Budhisme mendukung kekerasan. Budhisme tumbuh sangat cepat di Barat dan sedikit sekali orang yang akan setuju dengan Anda…

Budhisme adalah ideologi berpengaruh di Barat sekarang. Dia memainkan sebuah peran yang sangat konformis. Dia membuat Anda merasa nyaman di tengah kapitalisme global. Saya membaca sebuah analisis mengapa semua manajer top di Amerika Serikat senang mempraktikkan Zen dan semacamnya. Karena banyak hal begitu membingungkan sekarang ini, dengan satu spekulasi Anda bisa kehilangan milyaran dolar dalam satu menit. Satu-satunya hal yang bisa menjelaskan hal ini adalah Budhisme, yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sebuah penampakan luar dan kita mesti menyadari kenyataan-di-dalamnya. Anda tengah mengahadapi penampakan palsu. Tradisi pemikiran Eropa tidak bisa menjelaskan dunia yang cair semacam ini. Budhisme di era baru ini menawarkan otentisitas di tengah kapitalisme global. Itulah sebabnya Dalai Lama begitu terkenal di Hollywood. Saya harap dia menyadari permainan jenis apa yang tengah dia jalankan, mungkin saja dia tak menyadarinya. Dia menawarkan jalur spriritual murah, sehingga Anda bisa melanjutkan hidup Anda—menggoda, melakukan seks orgie, mabuk, mengumpulkan uang—tetapi dia memberikan Anda sebuah perasaan: aku menyadari bahwa aku sesungguhnya tidaklah seperti itu. Dia membantu Anda menormalkan dan menetralkan schizoprenia hidup kita.

Dalam buku baru Anda, Anda menjelaskan soal isu krisis finansial saat ini. Apakah Anda melihat krisis finansial ini sebagai sebuah kesempatan bagi kaum Kiri untuk memulihkan diri mereka?

Saya tak percaya pada kawan-kawan saya dari kaum Kiri yang mengatakan bahwa krisis finansial ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat baik bagi kaum Kiri, karena orang-orang akan melihat bahwa kapitalisme talah gagal. Bagi saya ini adalah tragedi kaum Kiri. Kita bisa melihat dengan sangat jelas bahwa semua gagasan tentang gerakan lingkungan, gerakan masyarakat sipil dsb. tidak akan berhasil. Ini adalah logika semua gerakan. Tetaki kita melihat tidak ada proposal alternatif. Mayoritas kaum Kiri sekarang—dan ini ironis—telah menjadi kaum Fukuyamis. Mereka menertawakan argumen Francis Fukuyama tentang “akhir sejarah”, tetapi pada dasarnya mereka menyetujuinya. Mereka percaya bahwa kapitalisme liberal bukanlah sistem terbaik, tetapi buat mereka itu bukan sistem yang terlalu buruk dan yang bisa kita lakukan hanyalah membuatnya lebih baik. Mayoritas kaum Kiri sekarang ini menginginkan kapitalisme berwajah manusiawi—lebih toleran, lebih peduli kesehatan dan pendidikan, dsb. Soal terbesarnya adalah jika kita menganggap ini sudah cukup. Saya kira ini tidak cukup.

Anda seorang filsuf tetapi Anda juga seorang pengikut film-film klasik Hollywood. Apakah Anda tak melihat bahwa Hollywood merupakan bagian dari kapitalisme global?

Hollywood itu ambigu, tetapi berguna dianalisis. Produk-produk Hollywood adalah indikator terbaik dalam ideologi kolektif kita tentang kemana kita melangkah. Jika Anda melihat kenyataan, itu membingungkan, tetapi di Hollywood Anda mendapatkan versi realitas yang sudah tersaring. Pada saat yang sama, di pinggiran Hollywood Anda puya para pembuat film bagus seperti Robert Altman, Woody Allen. Saya menentang cara pandang sederhana dunia ketiga tentang Hollywood. Jika Anda mengabaikan Hollywood, Anda akan berakhir dengan menjiplak hal-hal terburuk dari Hollywood.

Bagaimana dengan Bollywood? Bisakah Anda mengabaikannya?

Bagi kami di Barat, Bollywood sangat kacau dan terlalu berwarna, tetapi saya menyukai pengalaman ini. Ini adalah reaksi pertama atas kisah linear Barat yang ditampilkan dalam kekacauan. Anda harus mencari jenis naratif yang berbeda. Ini seperti lukisan abad pertengahan di mana Anda tak bisa membedakan latar depan (foreground) dan latar belakang (background). Pengaturan ruang ruang yang sungguh-sungguh berbeda. Begitulah cara saya menonton Bollywood, bukan menonton ceritanya, tetapi menonton bagaimana mereka menampilkannya. Saya bahkan menyukai film Bollywood palsu seperti Slumdog Millionaire. Mula-mula saya menolak filmnya, tetapi saya suka bagaimana dia menunjukkan kebrutalan hidup. Ini sesuatu yang tak terbayangkan di Barat. Ini sebuah kisah bahagia, tetapi tidak demikian dengan kenyataannya. Ini sebuah dongeng, tetapi tidak mengijinkan seluruh kenyataan menghilang. Di Barat, satu kisah menyenangkan tak bisa digabungkan dengan kenyataan sosial yang brutal.

Anda tak mungkin di sini hanya untuk melihat film Bollywood, bukan?

Tidak, saya di sini untuk tahu lebih banyak tentang India. Saya harus berterus terang mengakui bahwa hingga saat ini saya mengabaikan India. Tetapi suatu ketika sebuah badai bergerak di dalam diri saya dan sekarang meledak, dan sekarang saya di sini. Saya membaca buku-buku tentang India. Saya mulai dengan hukum-hukum Manu****. Saya di sini untuk mempelajari bagaimana sistem modern seperti industri teknologi informasi di Bangalore dan cara hidup tradisional bisa hidup bersama di tengah kontradiksi-kontradiksi globalisasi. Saya punya lebih banyak harapan pada India daripada China, karena di China tengah berlangsung sesuatu yang sangat berbahaya. Ini semua bermula di Singapura—kapitalisme dengan nilai-nilai Asia, yang sesungguhnya adalah kapitalisme otoritarian. Hingga sekarang ada satu hal baik yang bisa dikatakan tentang kapitalisme, yakni demokrasi. Saya khawatir pada apa yang sekarang tumbuh di Timur Jauh (kita semua tahu bahwa Deng Xiaoping pergi ke Singapura dan berkata bahwa inilah model bagi China). Ini adalah kapitalisme baru. Dia lebih dinamis daripada kapitalisme Barat. Dan saya tak percaya pada kawan-kawan liberal saya yang percaya bahwa dalam 10 tahun ke depan akan ada Peristiwa Tiananmen baru di Cina.

* Tentang Revolusi Oktober: http://en.wikipedia.org/wiki/October_Revolution

** Tentang Teror Merah: http://en.wikipedia.org/wiki/Red_Terror

*** Tentang B.R. Ambedkar: http://en.wikipedia.org/wiki/B._R._Ambedkar

**** Tentang hukum-hukum Manu: http://en.wikipedia.org/wiki/Manusmṛti

 

Diterjemahkan oleh Antariksa dari wawancara Shobhan Saxena dengan Slávoj Zizek, “Was Gandhi more violent than Hitler?”. Dimuat di: http://author.toiblogs.com/Main-Street/entry/was-gandhi-more-violent-than

Sumber foto: http://cruciality.files.wordpress.com/

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in