Dayang Sumbi Bertemu Cinderella: Kode Feminitas dalam Seni Visual Indonesia

Karya Deasy Sahara Angelina di "Youth of Today". (Foto: Dokumentasi Ruang Mes 56)

Karya Deasy Sahara Angelina di "Youth of Today". (Foto: Dokumentasi Ruang Mes 56)

Oleh Nuraini Juliastuti

 

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai risalah lengkap tentang seniman perempuan Indonesia dan karya-karyanya. Akan lebih baik untuk memandang tulisan ini sebagai tulisan awal saja. Mungkin banyak nama dan karya yang masih luput saya sebutkan di sini, karena yang ingin saya tunjukkan adalah peristiwa dan momen tertentu yang saya anggap bisa merepresentasikan kompleksitas perkembangan wacana perempuan atau lebih tepatnya mode feminitas dan interkoneksitasnya dengan hal-hal lain dalam seni visual Indonesia.

Tubuh merupakan garis batas dan pintu masuk yang paling jelas terlihat untuk membicarakan persoalan identitas. Dari karya-karya yang saya jelaskan di esai ini dapat tergambar bagaimana para seniman perempuan tersebut memaknai tubuh, bagaimana tubuh dipakai sebagai menjadi medan pertarungan, wacana-wacana apa yang muncul di sana, dan hal-hal apa yang mempengaruhi para seniman tersebut dalam berkarya.

Arahmaiani

Rahmayani atau Arahmaiani. Ia merupakan satu sosok seniman perempuan paling terkemuka saat ini. Arahmaiani saya pilih sebagai salah satu fokus dari tulisan ini karena darinya kita bisa menyaksikan perdebatan dan gumam pribadinya tentang tubuh, norma, agama, tradisi, kapitalisme dalam karya-karyanya. Sekaligus dari sana kita bisa melihat sedikit gambaran tentang posisi seniman perempuan dan kompleksitas persoalan yang melingkupinya.

Banyak hal menarik untuk dibaca dari naskah komik tentang Arahmaiani yang dimuat oleh seniman komik Arie Dyanto berdasarkan hasil wawancara editor buku tersebut–Adi Wicaksono et.al–dan diberi judul “Kebudayaan itu Berkelamin” (Dyanto, 2003: 165-176).

Demikian petikannya:

Aku berasal dari kelas menengah kota, terdidik dan keluarga muslim taat. Keluargaku memahami agama secara kritis. Pemahaman kritis itu berseberangan dengan konsep agama puritan yang selalu menempatkan perempuan dalam posisi subordinate.

Ketika kecil aku bercita-cita menjadi nabi. Waktu kecil aku suka sekali berpakaian laki-laki. Teman mainku sering meledekku,”…pasti perempuan gak bisa…”, tetapi malah itu menjadi tantangan buatku.

Tetapi begitu semakin dewasa ketegangan bahwa perempuan dewasa harus mengikuti norma semakin ketat, dan sampai sekarang pun ketegangan itu masih terasa.

Perempuan harus kawin! Norma itu melekat kuat di masyarakat, dan itu konflik spesifik pada perempuan usia 30-an. Aku selalu ingin menjadi diriku sendiri, aku sebenarnya tidak ingin membuat lingkunganku resah, tetapi aku juga harus selalu jujur pada diriku sendiri. Apapun resikonya!

Dan aku tahu ketika memutuskan ikatan dengan norma kultur itu, maka aku akan sendirian. Dan itu berat.

Lalu aku masuk seni rupa, meskipun orang tuaku tidak setuju, tetapi itu sudah menjadi jalanku. Di akademi seni rupa pun, aku merasakan kultur patriarkis, dosennya mayoritas laki-laki. Aku pikir ini adalah cermin dari masyarakatku.

Aku juga merasakan di ruang kuliah pun ada diskriminasi halus, “Ah…mana ada sih seniman perempuan yang berhasil…”, itu yang membuatku berambisi untuk mengubah pendapat itu. Mungkin karena itu orang mengatakan bahwa aku ini perempuan yang ambisius…

Tetapi aku juga sadar, akan sulit menemukan orang-orang yang bisa kuajak komunikasi. Untuk itulah aku menulis, mengeluarkan apa yang mendesak yang ada dalam perasaanku. Kemudian aku juga menemukan berbicara dengan orang asing, orang jalanan ngomongnya lebih enak, lebih bebas. Itu mungkin karena mereka nggak mriyayi, lebih egaliter. Sedang pada kelasku lebih banyak aturan yang tidak transparan dan tidak bisa dipertanyakan secara terbuka.

Pada level kelas menengah, wacana perubahan itu lebih cepat tercerap, tetapi di level bawah lebih cepat mengakomodir. Karena mereka lebih dinamis, “perasaan aman kelas menengah mapan” tidak ada pada mereka. Jadi mereka lebih bersifat nothing to loose.

Permasalahan gender, atau katakanlah penyejajaran posisi, baru bisa dilakukan dengan beberapa syarat: pembongkaran dominasi laki-laki terhadap perempuan, keterbukaan politik, dan tentu saja perubahan politik.

Aku pikir untuk mensosialisasikan ide-ide perubahan itu harus dimulai dari kelas bawah. Kelas menengah, seperti apa yang aku katakana tadi, terlampau konservatif untuk melakukan perubahan. Dan itu bukan terjadi begitu saja. Sesuatu harus dilakukan!

Persoalan gender dan agama itu terletak antara lain pada monopoli penafsiran oleh sedikit orang (yang kebanyakan laki-laki). Untuk melakukan pembongkaran diperlukan usaha untuk melakukan desakralisasi, tidak saja melalui seni tetapi juga lewat pendekatan sosial.

Kebanyakan pemikir perempuan berasal dari kelas menengah yang di Indonesia secara kelas masih bermasalah. Kelas menengah punya kekuatan untuk bergerak, untuk melakukan mobilisasi, tetapi kelas menengah juga menciptakan hirarki baru, dan ini bisa berasal dari tinggalan masa lalu cuma dalam bentuk berbeda. Jadi disamping melakukan penyadaran ke kelas lain, mereka seharusnya melakukan juga penyadaran pada kelas mereka sendiri. Katakanlah sebagai cara untuk mengurangi arogansi kelas itu.

Tetapi proses penyadaran, atau kalau aku sebut juga penelanjangan diri pada kelas menengah jauh lebih sulit, sehingga itu mungkin menyebabkan mereka melakukan penelanjangan pada kelas lain. Sebagai seniman, aku menggunakan seniku dengan melihat sasaran yang ingin aku tuju: pada kelas menengah aku akan banyak menggunaan teori, sedang kelas yang lain aku menggunakan cara berbeda.

Dalam proses pembuatan karya aku lebih cenderung melihat persoalan secara riil dan manusiawi. Tetapi aku tetap menjaga kesadaranku bahwa aku seorang perempuan, karena bagaimanapun kebudayaan itu “berkelamin”.

Secara umum aku mengembangkan sebuah mode of communication, aku tidak hanya berpikir secara logis dan rasional saja. Aku mengistilahkan komunikasi itu sebagai “hawa”. Tetapi bagaimana membuat hawa menjadi hidup ditengah atmosfir yang telah tercemar oleh pembusukan politik, bahasa yang maskulin, dan lain-lain adalah dengan cara melihat persoalan gender bukan semata-mata masalah maskulin-feminin, tetapi lebih melihat pada aspek-aspek energi yang terkandung didalamnya.

Istilah energi menurutku bisa menetralisir beban-beban yang sifatnya bias gender. Kalau kita mampu mengaturnya maka terjadilah keseimbangan. Dalam konteks berkarya dengan tema bias gender aku tetap lebih memilih untuk “menggedor”, tetapi memang sering terjadi ketidaksinkronan antara karya dengan penonton. Itu berarti aku harus lebih memahami lagi dengan siapa aku berkomunikasi.

Meskipun ada banyak tema dalam karya-karyaku tetapi ia tetap memiliki benang merah, yaitu hubungan antara pihak yang lemah dan yang kuat. Tetapi aku sadar bahwa akan berhadapan dengan sebuah mesin besar yang bernama kapitalisme, yang mampu memproduksi image, simbol, dan pencitraan yang lain.

Lewat karya-karyaku aku ingin memaknai tubuh perempuan. Sebuah subjek yang telah dimanipulasi dan dieksploitasi oleh kebudayaan dan kapitalisme. Aku ingin membuat koreksi. Dan koreksi itu aku mulai dari titik bahwa selama ini tubuh perempuan telah menjadi komoditi. Aku pikir setiap orang boleh memaknai tubuhnya sendiri-sendiri, seperti halnya laki-laki memaknai dirinya sebagai kekuasaan. Sedangkan pada tubuh perempuan ia tidak pernah memaknai, tetapi selalu dimaknai. Itu yang ingin aku rebut kembali.

Tetapi aku dalam berkarya menolak upaya pendiktean dari luar. Tubuh perempuan(ku) bukan sesuatu yang untuk dijarah dan diperkosa!

Arahmaiani menunjukkan dirinya sebagai seniman yang rajin dan tekun mengolah pengalaman pribadi yang lahir dari identitas keperempuanannya, kegelisahannya memandang relasi perempuan-tradisi-norma masyarakat-agama-kapitalisme sebagai bahan bakar abadi bagi penciptaan karya-karyanya.

Pada Juni 1999, di auditorium CCF Bandung, Arahmaiani menampilkan instalasi dan performance berjudul “Dayang Sumbi Menolak Status Quo”. Bagi Arahmaiani, Dayang Sumbi adalah simbol profil perempuan khas jaman Orde Baru yang pasif, terlalu banyak berkorban dan menanggung beban–hidup terasing, kawin dengan anjing, melahirkan anak yang kemudian membunuh bapaknya dan jatuh cinta padanya, membuat Dayang Sumbi harus menarik diri kembali–dan masih tetap tidak pernah dianggap sebagai figur sentral dalam cerita besar Sangkuriang Sakti. Gugatan terhadap posisi perempuan dalam konsep madon sebagai bagian dari mo limo dalam budaya Jawa juga diungkapkannya dalam karya berjudul “Aku Tak Ingin Menjadi Bagian dari Legendamu”. Berikut ini adalah semacam jawaban Arahmaiani yang sedikit terungkap dalam komik yang saya sebut di atas.

Aku berhadapan dengan ekstase kapitalisme, dan seni harus berhadapan dengan itu semua. Aku juga menggunakan medium-medium yang mereka pakai–semacam subversi simbol–untuk memberi contoh. Selain itu aku juga berhadapan dengan sebuah persepsi, terutama yang berasal dari agama Islam, bahwa “tubuh perempuan itu bersalah!” Aku ingin sebuah keseimbangan antara wilayah material dan spiritual; antara tubuh material dan tubuh spiritual. Karya Dayang Sumbi Menolak Status Quo adalah caraku untuk mengkonkretkan sesuatu yang abstrak supaya tidak tinggal menjadi abstraksi. Ada dua lapis makna di sana, yang pertama memperlihatkan; lapisan kedua, respon dengan segala kompleksitasnya.

Dalam karya ini aku ingin mengatakan kapitalisme adalah agama kontemporer. Orang berusaha mempertahankan dengan jiwa, mereka mau berjihad membentuk tentara untuk menjaganya, dan ia juga menawarkan surga dan kebahagiaan. Dalam sistem ini, sekali lagi, perempuan hanya untuk dieksploitasi. Pada konsep agama yang formalis dan skriptualis, seolah-olah tidak ada tempat bagi kesenian yang kritis. Kalaupun mereka ada, mereka harus menggunakan cara-cara khusus. Cara-cara khusus itu adalah dengan membongkar agama pada tingkat tekstualnya, dan bukan pada tingkat praktiknya.

Ketika tidak mungkin aku melawan suatu system yang besar sekaligus, kapitalisme misalnya. Yang aku butuhkan adalah sebuah landasan yang kemudian mampu mengartikulasikan ide-ideku sehingga bentuk akhirnya tetap terbaca. Pada situasi politik yang berubah sekarang ini, seniman juga harus mendefinisikan kembali dirinya karena masyarakat dan individu lainnya telah atau tengah berubah. Akhirnya seniku adalah kehidupan. Aku ingin melebarkan kanvasku pada kehidupan itu sendiri.

Arahmaiani lahir tahun 1961. Ia bisa dikatakan kenyang pengalaman berkarya di jaman Orde Baru yang serba menekan, juga telah menyaksikan bagaimana tragedi demi tragedi terjadi demi sesuatu yang dinamakan perubahan. Saya rasa pengalaman ini membuatnya tidak pernah berhenti bertanya dan menggugat apa saja.

Pertengahan 2004 lalu Arahmaiani meluncurkan buku kumpulan puisi “Roh Terasing”. Pada puisi “Cita -Cita” kita lihat bagaimana keberaniannya bertanya ini kembali ditunjukkan:

Waktu kecil aku ditanya
Cita-citaku apa
Kubilang mau jadi nabi
Bapak bilang: tidak bisa
Anak perempuan boleh meraih cita-cita
Mencari ilmu ke Roma atau Cina
Mendapat gelar terhormat
Kemuliaan
Tapi bukan sebagai nabi
Itu hanya untuk anak lelaki
Sesudah dewasa aku ditanya
Kapan akan berkeluarga
Dan aku bilang: kapan-kapan saja
Sebab keinginanku untuk jadi nabi
Dan boleh mendapat wahyu
Belum juga sirna
Kalaupun aku harus punya laki-laki
Mestilah ia seseorang yang
Ingin jadi Tuhan

Pada bagian selanjutnya, saya ingin menunjukkan intensitas pengolahan identitas seniman perempuan dari generasi yang berbeda dengan generasi Arahmaiani, yang menunjukkan dirinya dalam bentuk yang lain, dengan isu dan juga bahasa yang samasekali berbeda.

Feminitas dan Budaya Anak Muda

Pameran dengan tajuk “Youth of Today” yang dipamerkan di Ruang Mes 56 Yogyakarta, sebuah ruang alternatif untuk fotografi kontemporer, Agustus 2004 lalu, bagi saya menarik karena darinya   bisa dilihat suatu gambaran ruang lingkup anak muda Indonesia jaman sekarang. Atau bisa juga dibaca sebagai bagaimana remaja perempuan masa kini berdialog dengan konteks sosial politik yang melingkupi kesehariannya, apa problem-problemnya, dan hal-hal apa saja yang dianggap penting atau trendi menurut mereka. Sebagian besar dari peserta pameran lahir tahun 1980-an. Artinya mereka memasuki perguruan tinggi pada tahun 2000 atau 2001. Reformasi sudah lama lewat. Gaung gerakan mahasiswa yang dulu pernah begitu kencang terasa diantara ruang-ruang kuliah dan kota Yogyakarta–dan jadi penanda penting kedudukan kaum muda Indonesia–hanya   pada beberapa tahun sebelumnya (1997-1998), mungkin kini hanya mereka baca dari guntingan kliping koran, buku-buku, atau mendengar cerita-cerita orang. Pameran ini sendiri diikuti oleh 7 orang perempuan muda: Dessy Sahara Angelina (Ina), Amriana (Amri), Yuli Andari Merdikaningtyas (Andari), Reska Andini (Reska), Margaretta (Rere), Made Primaswari (Prima), dan Anastasia Dessy (Anas).

Dari semua peserta residensi dan pameran tersebut, hanya Amri yang mempunyai pendidikan formal fotografi (ISI Yogyakarta), sementara yang lain tidak pernah mendapat pendidikan formal maupun non formal dalam bidang fotografi. Pada tahap ini memang soal kamera jenis apa yang digunakan dan persoalan kemahiran teknis fotografi tidak jadi masalah besar, karena yang penting adalah bagaimana sebuah kamera dipergunakan untuk merepresentasikan dan membaca dirinya sendiri. Dan memang persoalan inilah yang menjadi fokus pada awal pelaksanaan residensi dan pameran tersebut, karena meskipun hampir semua peserta sudah pernah memegang kamera pocket, tetap saja mereka merasa tidak yakin apakah dirinya benar-benar mampu memotret dan menghasilkan sesuatu yang layak disebut “karya seni”. Fotografi disini akhirnya diterjemahkan secara bebas. Poin pentingnya adalah justru bagaimana ia digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang praktis–dan akhirnya ideologis, bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan diskursus seni kontemporer.

Andari bahkan boleh dibilang baru pertama kali memegang kamera digital, bukan kamera pocket seperti biasanya, yang itupun jarang-jarang dilakukan, paling kalau ada momen penting dalam keluarga: pesta, ulang tahun, wisuda, atau piknik. Sehingga ketika pertama kali berkesempatan memegang kamera digital, dengan segala kemudahannya, ia seperti mendapat semacam guncangan karena semua menjadi tampak menarik untuk dipotret. Dan kemungkinan untuk memotret kesehariannya pun menjadi terbuka lebar. Sebagai latihan memotret, Andari memotret gantungan celana dalam, bra, handuk, gayung dan aneka perlengkapan mandi yang berjajar rapi di kamar mandi, poster-poster di kamarnya, deretan buku di rak kayu, yang ada di rumah kos yang ditempati bersama 40 teman perempuannya yang lain.

Jika melihat karya Rere–kolase dari foto dan guntingan majalah yang menggambarkan pemain band–dan karya Riska–video mengenai kehidupan sehari-hari sebuah kelompok band indie dan kumpulan foto pentas band indie yang pernah disaksikannya–misalnya, maka bisa dipastikan bahwa tampaknya dunia yang dominan dari mereka adalah dunia musik. Yogyakarta sendiri saat ini dikenal sebagai kota dengan band-band indie yang banyak jumlahnya. Di kota ini juga mempunyai beberapa media alternatif bikinan anak muda yang menempatkan musik sebagai materi penting dari isi media mereka, misalnya Outmagz, Square, atau Shine.

Jika dulu istilah media alternatif atau media independen identik dengan pers mahasiswa, saat ini bagi sebagian anak muda lain, peran itu telah banyak digantikan dengan zine. Zine punya sejarah panjang sendiri di Amerika sana. Tapi secara singkat ia adalah majalah beroplah kecil, yang oleh pembuatnya dibuat dengan teknik potong dan tempel, lalu difotokopi atau dicetak, dan didistribusikan sendiri. Isinya luar biasa bermacam-macam mulai dari puisi, umpatan dan gugatan pribadi, cerpen, komik, ulasan musik atau kondisi sosial-ekonomi-politik di sekelilingnya. Dengan metode pembuatannya seperti itu, zine berada diantara media personal dan umum. Ada sangat banyak media alternatif seperti ini bertebaran di kota-kota Indonesia. Berikut ini adalah sebagian nama mereka: Daging Tumbuh, Combro, Terompet Rakyat, Suara Hati, Venceremos, Anarkisme, Beni, Menolak Tunduk, dsb. Nama-nama tersebut sebagian saya dapat dari koleksi perpustakaan tempat saya bekerja, dan sekarang semua orang bahkan bisa mendapatkan katalog lengkap zine pada suatu situs yang khusus mendedikasikan dirinya untuk masyarakat pembaca zine di Indonesia yaitu penitipink.blogspot.com.

Zine ini kadang jadi media untuk mempromosikan band-band lokal di kota masing-masing, informasi gig-gig terbaru di kotanya, atau info tentang barang-barang baru yang dijual distro-distro lokal. Pokoknya segala yang berkaitan dengan budaya anak muda sekarang. Ada pertautan erat antara musik dan anak muda, antara musik dan dunia seni visual. Banyak perupa yang sekaligus jadi pemain band, perupa yang mengelola sebuah band, atau perupa yang melibatkan diri dalam proses industri musik. Tengoklah para aktivis Ruang Rupa, sebuah ruang alternatif untuk seni visual di Jakarta, dan dapat ditemui seniman yang mempunyai pekerjaan lain sebagai manajer sebuah band, vokalis band, atau mengelola rumah produksi pembuat video klip. Riska sendiri adalah pemimpin redaksi Square. Rere adalah vokalis grup band Plastic Dolls. Anas dan Prima adalah editor majalah musik Shine. Dengan latar belakang atmosfer seperti inilah mereka hidup.

Tema mengenai romantika dan percintaan masih menjadi titik sentral bahasan majalah-majalah remaja perempuan–baik lokal maupun lisensi–yang beredar di Indonesia: tips mengetahui isi hati cowok, tips memperkuat inner beauty cewek, tips menjadi cewek favorit di sekolah, kuis ‘apakah kamu benar-benar suka si dia?’, dsb. Topik pembicaraan utama, diselingi aneka topik tentang tugas dosen-kerjaan di rumah yang numpuk, dalam acara girl talk di kamar entah siapa, bersama teman-teman lain. Dan karya berdua Anas & Prima–cerita foto mengenai kisah cinta seorang robot hitam dengan boneka cantik–bagi saya seperti menyuarakan cita-cita romantika para remaja perempuan seperti biasa dibaca pada majalah remaja perempuan: a happy ending love story , pahlawan baik hati dengan puteri jelita, robot Black Robin dan Barbie Ariel. Meski sampai disini, rasanya perlu membuat studi yang bisa lebih jauh mengungkapkan apakah anak muda sekarang masih menginginkan bentuk hubungan laki-laki-perempuan yang seperti itu. Tapi dari pembacaan film-film remaja yang sekarang beredar di rental-rental VCD/DVD dapat dengan mudah dilihat bahwa dongeng Cinderella yang merindukan pangeran tampan–tentu dengan sentuhan yang lebih kontemporer–banyak ditemui. Beberapa film terbaru dengan tema diatas adalah Prince & Me , Cinderella Story, Confession of a Teenage Drama Queen.

Sementara proyek-proyek fotografi lain yang akan saya bicarakan berikut ini mengungkapkan sisi-sisi feminitas yang lain, yang merupakan kunci untuk melihat bagaimana perempuan jaman sekarang membicarakan tubuh dan seksualitasnya sendiri.

Mata saya tertuju pada seri foto seorang perempuan yang tampak sedang berusaha memasang selembar pembalut di kemaluannya. Foto-foto itu dipasang di tembok, yang penuh dengan coretan-coretan tulisan yang ditulis dengan cat piloks berbunyi: “She contaminates”, “Does my vagina scare u enough?”, “Growing up sucks”, “Justification of power would be forever his if I let him to!”, “Just pics of my pussy, dats all”. Ini karya Ina, dan tokoh yang ada dalam seri foto itu dirinya sendiri.

Salah seorang teman laki-laki yang kebetulan sama-sama berdiri melihat foto itu di samping saya berbisik,” Aduh, aku ngeri lihat foto-foto ini. Rasanya langsung theng gitu di pikiranku.” Sementara seorang teman yang sehari-harinya berprofesi sebagai fotografer di Jakarta langsung berkomentar, “Ih, jorok! Siapa sih ini yang motret?” Di telinga saya, ungkapan kekagetan dan kejijikan yang keluar dari teman-teman laki-laki–yang menurut saya berpikiran bebas dan terbuka–itu cukup mengagetkan. Saya tidak menduga bahwa ternyata ekspresi yang terbuka mengenai menstruasi–hal alamiah yang dialami setiap perempuan–rupanya masih menjadi sesuatu yang tidak cukup nyaman untuk didengar atau dilihat. Awalnya saya berpikir bahwa mungkin ucapan yang keluar dari kelompok laki-laki–yang tidak mengalami sendiri pengalaman menstruasi–akan berbeda dari reaksi kelompok perempuan yang melihat karya ini. Tapi ternyata reaksi kaum perempuan pun berbeda-beda. Meski ada yang menganggap karya Ina ini sebagai reaksi kejujuran perempuan, tapi saya juga menjumpai sebagian perempuan peserta pameran ini yang berpendapat bahwa karya ini membuat mereka malu, dan merasa bahwa seharusnya hal-hal seperti itu–vagina, menstruasi–tidak sepantasnya dipamerkan secara luas seperti ini.

Proyek mempertanyakan tubuh yang lain juga ada pada karya Amri dan Andari. Amri mengajak melihat persoalan tubuh perempuan gendut versus tubuh perempuan kurus sebagai konstruksi ideal kecantikan seperti yang selalu ada dalam iklan di majalah dan televisi. Dan meski tidak sejelas Ina dan Amri, bagi saya proyek memotret buku agenda yang dilakukan Andari merefleksikan tubuh perempuan dalam versi lain: tubuh perempuan yang terjadwal rapi dan ketat. Jam 5: bangun, jam 5.30: mencuci baju, jam 7.30: berangkat kuliah, jam 16: ketemuan sama Mas Nino, jam 20.30: harus sudah sampai kos, nonton AFI!! .

Kebiasaan menuliskan pengalaman harian, di buku harian atau di buku agenda yang selanjutnya lebih populer disebut dengan organizer bukan hanya simbol manusia modern yang menginginkan pengaturan kehidupan yang serba rapi, terjadwal, efisien, tapi juga bisa dimaknai sebagai penulisan sejarah personal yang emotif. Dalam esai pendek yang ditulis Andari dan dipasang di samping seri foto buku agendanya, ia menceritakan kembali pengalaman teman-temannya mengenai buku agenda yang dimiliki mereka: “Seorang teman bercerita padaku bahwa jika tiba saatnya untuk menulis di buku harian, ia akan mengingat kembali apa saja yang sudah kulakukan seharian. Bila ia sedang kesal, ia akan tuliskan semuanya dalam diari. Beberapa waktu setelah menulis, bila ia baca kembali buku itu, ia bisa tersenyum sendiri. Sementara teman lain bernama Wikan menuliskan kisah keseharian pada lembar-lembar khusus berwarna merah muda yang ada pada organisernya. Lembar-lembar merah muda ini adalah bagian yang tak boleh dijamah siapapun. ‘Semua campur aduk dalam organiserku. Ada jadwal kuliah, jadwal marching band dan ada beberapa ungkapan hati ketika sedih atau senang. Teman-teman sering membuka organiserku tapi khusus lembar merah muda, tidak boleh,’ kata Wikan.”

Saya membayangkan beberapa tahun kemudian ketika para pemilik agenda ini menjalani kehidupan pernikahan, mereka akan mengulangi kembali ritme jadwal tubuh ketat dan rapi antara keluarga-suami-pekerjaan-kehidupan sosial-tetangga-mertua, dan membuat perempuan merasa selalu sibuk, tapi sekaligus merasa selalu mempunyai masalah–persoalan yang tidak bernama–dan merasa sangat kosong dalam hatinya.

Aku dan Mereka

Di Indonesia, khususnya paska reformasi 1998, kita menyaksikan pintu-pintu yang terbuka pada banyak komunitas yang dulunya bergerak secara tertutup. Salah satu komunitas itu adalah komunitas gay/lesbian di Indonesia. Saat ini terasa benar para pegiat komunitas gay/lesbian di Indonesia bergerak dan bekerja–membangun jaringan antar mereka sendiri dan organisasi-organisasi lain terkait–untuk menunjukkan makna demokratisasi dan penghargaan tulus kepada sesama manusia.

Seiring dengan hal tersebut, pada dunia majalah laki-laki, terdapat perkembangan baru yang juga menarik untuk disimak. Dari beberapa studi atas artikel-artikel Majalah HAI, bisa dirunut wacana machoisme atau kejantanan yang ditekankan oleh para jurnalis majalah tersebut terhadap para pembacanya: pemberani, tidak boleh cengeng, tidak boleh menangis, tidak boleh bersifat pengecut, tidak boleh suka bergunjing atau bergosip apalagi latah, karena bisa dianggap kecewek-cewekan. Selanjutnya, penambahan rubrik fashion yang berisi perkembangan mode remaja laki-laki, serta rubrik yang berisi tips perawatan tubuh: bagaimana supaya bebas dari jerawat, kiat supaya rambut tidak mudah rontok, atau bagaimana membuat wajah tetap cerah, menunjukkan bahwa segala urusan perawatan tubuh bukan hanya monopoli kaum perempuan, melainkan aktivitas yang multiseksual. Lebih jauh, hal ini merupakan beberapa tanda yang menegaskan terjadinya negosiasi wacana maskulinitas yang selama ini diam dalam pengetahuan bersama masyarakat. Dan mungkin hal ini akan terdengar terlalu spekulatif, tetapi bagi saya hal ini merupakan salah satu bibit keterbukaan terhadap preferensi seksualitas yang berbeda-beda.

Pada 2003 dan 2004, Q-mmunity sebuah komunitas gay, lesbian dan transeksual yang berbasis di Jakarta, membuat sebuah pameran seni visual bertajuk ‘Roman Homogen’. Pameran ini diadakan bersamaan dengan festival film gay, lesbian, dan transeksual–dengan menghadirkan kurang lebih 100 film–di   kota yang sama. Baru-baru ini, festival yang sama berkeliling ke Yogyakarta. Para peserta pameran ‘Roman Homogen’ adalah sebagai berikut: Ayu Rai Laksmini (Bonnie), Imelda Taurina, Ade Kusumaningrum, Ve Handojo, Yoyok Budiman dan John Badalu. Sedangkan peserta pameran 2004 adalah: Permana, Erza Setydharma, Imelda Taurina, Yuska L. Tuanakotta, John Badalu.

Agak sulit untuk menemukan definisi film gay dan lesbian, juga batasan seni visual gay dan lesbian. Apakah ia adalah karya dengan tema gay, lesbian dan transeksual? Ataukah ia adalah karya yang dibuat oleh kaum gay, lesbian, dan transeksual itu sendiri, dan dengan demikian maka segala isinya adalah refleksi cara pandang gay, lesbian, dan transeksual itu atas dunia? Batasan yang paling mudah memang dengan melihat latar belakang si pembuat karya itu sendiri, karena karya dengan tema gay, lesbian, transeksual yang dibuat oleh komunitas ‘yang lain’ tidak selalu bernada positif. Kita tentu dapat dengan mudah membuat daftar film-film Indonesia dengan tokoh seorang transeksual yang hanya dipasang sebagai bahan tertawaan. Semua peserta pameran ‘Roman Homogen’ berasal dari dalam lingkungan komunitas gay, lesbian, dan transeksual itu sendiri. Mereka adalah perupa gay dan lesbian yang sudah coming out dan merasa nyaman dengan seksualitasnya dalam masyarakat.

Seksualitas tampak menjadi hal yang dominan sebagai tema karya-karya di sana. Mungkin karena seksualitas adalah bagian dari mereka yang mendapat represi paling hebat. Persoalan lain yang juga menarik perhatian saya dalam pameran tersebut adalah ditampilkannya jejak-jejak sosok Michel Foucault pada karya Ayu Rai Laksmini, dan Frida Kahlo pada karya Ade Kusumaningrum. Ade Kusumaningrum membuat karya foto diri yang saling berhadapan dengan dirinya sendiri. Satu pose foto yang jelas mengingatkan kita pada karya Frida Kahlo berjudul Two Fridas. Michel Foucault adalah seorang ilmuwan sosial yang memberikan beberapa landasan penting tentang operasi kuasa/pengetahuan tentang seksualitas, sekaligus salah seorang yang mewakili kaum gay dari dunia intelektual. Frida Kahlo adalah seorang pelukis perempuan Meksiko yang tersohor, dan dari membaca catatan-catatan tentang dia atau buku biografinya, terlihat jelas sisi-sisi biseksualitasnya. Meski bagi sebagian orang, perihal biseksualitas pada Frida Kahlo masih merupakan misteri. Bagi saya, kehadiran dua tokoh tersebut adalah juga sarana untuk menegaskan intelektualitas seniman dan dengan demikian kepemilikannya atas wacana dan lingkungan elit.

* * *

Terdapat beberapa poin yang saya rasa bisa menjadi penutup esai ini.

Pertama, tubuh masih jadi medan pertarungan penyampaian ekspresi seniman perempuan. Kita telah melihat bagaimana para seniman perempuan–dari generasi yang berbeda-beda ini–memaknai tubuh, feminitas dan identitas perempuannya, serta hal-hal apa saja yang mempengaruhinya. Seni adalah suatu ekspresi personal, dan tiap seniman punya pengalaman dan pengetahuan sendiri untuk diolah sebagai karya. Dari telaah terhadap kerja Arahmaiani dan para seniman perempuan yang berasal dari generasi lebih muda, dapat dilihat perbedaan institusi-institusi yang berperan penting dalam proses penciptaan karya mereka. Pada Arahmaiani kita mungkin bisa melihat ‘negara’, ‘agama’ dan ‘masyarakat’. Pada diri generasi seniman perempuan sekarang akan kita saksikan bahwa institusi-institusi lama seperti negara tidak terlalu dianggap penting. Mereka menemukan dirinya dalam institusi-institusi baru: musik atau kerumunan rave , media alternatif, televisi, majalah remaja.

Kedua, ada dunia lain atau ruang sunyi yang selama ini luput dari ruang diskusi wacana seni visual kontemporer di Indonesia yaitu ruang-ruang yang selama ini dihuni oleh kaum yang terpinggirkan secara seksualitas. Mereka ini adalah gay, lesbian, transeksual dan kelompok lainnya (warok, mairil, bissu). Maka itu usaha yang bergerak mendorong kebebasan   berbicara   dan ‘menuliskan dirinya’ sendiri seperti tampak dalam ‘Roman Homogen’ adalah sesuatu yang berarti. Bukan saja karena hal ini adalah suatu hal yang masih langka dilakukan, tapi karena ia dilakukan dari dalam, oleh mereka sendiri.

Ketiga, peranan bahasa Inggris. Banyak para seniman muda yang saat ini menggunakan bahasa Inggris dalam judul maupun teks karya-karyanya. Satu sisi, hal ini bisa dianggap sebagai salah satu menghadapi pasar global. Tapi ketika saya melihat begitu banyak coretan grafitti di jalanan yang juga ditulis dalam bahasa Inggris, saya berpikir lain. Jika untuk menorehkan ekspresi jiwanya seseorang menggunakan bukan bahasa ibunya, apa artinya? Dalam pameran ‘Youth of Today’, Ina menulis teks-teks bahasa Inggris dalam karyanya. Mengapa Ina merasa perlu menggunakan bahasa Inggris untuk menuliskan tubuhnya sendiri? Mungkin bahasa daerah atau bahasa Indonesia tidak lagi cukup ekspresif   dan mengena bagi Ina untuk mampu mewadahi suara pikirannya. Atau mungkin memang bahasa ibu–bahasa daerah misalnya–pada jaman sekarang sudah sangat jarang digunakan oleh anak muda untuk mengungkapkan identitas dirinya. Sehingga akhirnya merasa lebih enak dan pas jika menggunakan bahasa Inggris. Tidakkah hal ini merefleksikan bahwa ternyata tidak hanya kondisi sosial yang mengalami kebuntuan, tetapi bahkan bahasa juga macet dan tidak lagi berfungsi sempurna.

Daftar Pustaka

  • Arahmaiani. 2004. Roh Terasing . Yogyakarta: Bentang Budaya.
  • Dyanto, Ari. 2003. Kebudayaan Itu Berkelamin. Dalam Adi Wicaksono et.al (ed.),   Aspek-aspek Seni Visual Indonesia: Politik dan Gender. Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti.

Esai ini pertama kali termuat di jurnal Mandatori, diterbitkan oleh IRE Yogyakarta, Mei 2005.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in