Perasaan Gugup dan Ketidakbiasaan dalam Proses Penelitian

Datang tidak sesuai rencana–karena ketinggalan pesawat–cukup membuat rasa percaya diri menurun drastis. Merasa takut terburu-buru sehingga tidak cukup waktu untuk mempersiapkan proses penelitian ini ataupun perasaan menyesal karena keteledoran dalam memilih maskapai penerbangan ternyata mempengaruhi persiapan mental dalam perjalanan penelitian ini. Dalam perjalanan yang panjang dan terhantui rasa penyesalan dan resah, berulang kali memikirkan tentang apa yang harus dilakukan ketika menghadapi unfamiliaritas dalam proses penelitian. Salah satu contoh unfamiliaritas pertama dalam perjalanan penelitian ini adalah perasaan gugup yang semakin menjadi-jadi karena tertinggal pesawat.

Dengan bantuan beberapa teman, akhirnya saya mendapatkan tiket perjalanan pada hari berikutnya dari Jakarta. Sampai di Phnom Penh tepat sesuai jadwal yaitu pada pukul 21.40 waktu setempat (tidak memiliki perbedaan waktu dengan Jakarta atau Yogyakarta). Ketika keluar dari Bandara, tidak banyak perbedaan dengan bandara yang saya jumpai di Negara atau kota lainnya di Asia Tenggara (khususnya bandara di Indonesia). Tidak terlalu besar, namun cukup memiliki petunjuk arah yang membantu. Tujuan pertama adalah mencari counter penyedia internet lokal. Pilihan jatuh kepada satu perusahaan dengan tulisan mandarin, karena tertera tulisan 5$–tidak begitu mahal dan masih sesuai dengan budget.

Setelah selesai membeli internet, saya menggunakan aplikasi Grab Tuk Tuk untuk mencari transportasi menuju apartemen. Alasan utama pemilihan transportasi ini adalah harga nya yang murah dibanding alat transportasi yang lain. Tidak ada perasaan aneh muncul ketika berada di dalam Tuk Tuk. Bisa jadi karena desain dari moda transportasi ini menyerupai bajaj ataupun becak–transportasi umum yang ada di Indonesia. Tuk tuk tidak memiliki penutup pintu dan mesin pengendara utamanya adalah motor yang didesain menyatu dengan desain bodi Tuk Tuk.

Berjalan di tengah kota yang baru pertama kali dikunjungi bersama 1 koper, 1 tas punggung, 2 kresek isi makan malam dan 1 tas pinggang pada pukul 22.30–tengah malam–membuat perasaan gugup semakin menjadi-jadi. Menurut saya, ini adalah hal yang sangat lumrah. Bagaimana tidak, jika ada orang berkendara motor berhenti di samping Tuk Tuk, maka dengan mudah mereka bisa saja mengambil barang-barang. Dengan ketakutan itu, saya berusaha dengan sangat keras untuk memegang erat semua tas agar setidaknya jika ada orang berniat mengambil, mereka bisa melihat bahwa saya berusaha untuk melindunginya.

Grab-Tuk Tuk_2 Grab-Tuk Tuk Grab_KambojaPerasaan gugup dan unfamiliaritas ini mendorong saya untuk terus mencari bagaimana kota Phnom Penh ini bekerja. Bisa jadi, menerima adanya rasa unfamiliaritas dalam proses penelitian membantu kita untuk memperhatikan hal-hal detail lainnya. Tidak hanya itu, proses mengubah yang tidak familiar terhadap kita menjadi bagian data juga upaya untuk mengenal bagaimana lingkungan di sekitar kita bekerja untuk membentuk ketakutan, kepercayaan dan ketidak pastian yang menyusun dinamika kota.

 

Gatari Surya Kusuma

 

 

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in