Belajar Mendengar dengan Nguping Rekaman

Desain logo Nguping oleh Aria Pradifta.

 

NGUPING records mengoperasikan gagasannya dengan merilis arsip-arsip audio yang bersemayam di laci-laci penyimpanan milik organisasi maupun perorangan sebagai sebuah album “musik.” Inisiatif kami ingin memperluas pengertian musik bukan semata sebagai hasil komposisi dis/harmoni vokal atau instrumen bunyi, melainkan dalam pengertiannya yang justru lebih sederhana, yakni segala hal yang dapat didengarkan.

Album-album keluaran NGUPING records disusun dari data rekaman audio berbagai peristiwa antara lain seperti diskusi terbuka/tertutup, wawancara, ceramah, rapat internal organisasi, pembacaan naskah, soundscape acara atau pertunjukan publik. Beragam arsip audio ini diseleksi dan dikompilasi dengan kategori-kategori longgar misalnya berdasarkan periode waktu, topik yang dibicarakan atau metode yang digunakan. Proses “kuratorial” kami mengadaptasi berkembangnya praktik penyusunan mixtape atau playlist yang semakin dimudahkan oleh aplikasi digital. Sementara mixtape menyusun rute-rute personal dalam kegiatan mendengarkan dan memaknai musik, kompilasi arsip audio kami tertarik untuk merekonstruksi hubungan-hubungan spekulatif dari berbagai sumber pengetahuan mentah berbasis cangkem (baca: lisan).

NGUPING records mengetengahkan budaya telinga, yaitu aktivitas belajar yang mengadaptasi proses transmisi dan pertukaran pengetahuan dalam akar tradisi lisan. Budaya telinga di sini tidak dimaknai sebagai sebuah kegiatan pasif yang bersifat satu arah, layaknya skenario disiplin sekolah konvensional di mana seorang siswa hanya terus menerus mendengarkan gurunya. Di tengah maraknya budaya cangkem dalam gelaran forum-forum publik di kantung-kantung seni dan akademik, album arsip audio NGUPING records menawarkan budaya telinga sebagai kemungkinan bentuk interaksi intelektual tidak langsung—yang lebih pelan, tekun, berjarak dan mengendap—di  mana momen-momen sporadis produksi pengetahuan diteruskan setelah peristiwa.

Reproduksi suatu peristiwa dalam format rekaman audio memungkinkan pendengar untuk mengambil jarak dengan pembicaraan. Dengan perangkat pemutar rekaman audio, pendengar dapat memperbesar atau memperkecil volume suara, mempercepat atau memperlambat tempo, melakukan pengulangan atau rehat sejenak untuk mencatat, menilai, membandingkan, dan merefleksikan gagasan yang tengah ia dengarkan. Rekaman audio memperluas ruang peristiwa (sebab kini ia dapat didengarkan di mana saja) dan memperpanjang tempo peristiwa (sebab kini ia dapat didengarkan kapan saja).

Kami juga membayangkan arsip audio sebagai rembesan-rembesan peristiwa yang menetes sebagai cairan suara dan bunyi. Ada banyak elemen fonetik dan linguistik terkandung dalam cairan suara dan bunyi suatu arsip audio, misalnya intonasi dan aksentuasi pembicara, yang tidak ditampilkan ketika rekaman audio ditransformasi dalam bentuk transkripsi tertulis. Kami juga tertarik dengan “kebocoran bunyi,” di mana distorsi riuh tepuk tangan, suara adzan atau bising knalpot mengintervensi jalannya sebuah peristiwa. Materi-materi audio minor ini barangkali bisa menjadi bahan baku sejarah sonic jika kita ingin mendengarkan dan memahami lanskap bunyi di masa lampau.

Akhirnya, rilisan fisik arsip audio ini memang sengaja mengaktivasi “aura kebendaan” sebuah peristiwa. Meski banyak di antara arsip audio ini sudah beredar bebas secara online, rilisan fisik kami mempertanyakan nilai kepemilikan sebuah peristiwa yang sejatinya diciptakan bersama. Apabila rilisan fisik album musik di era digital bergantung pada pengkultusan persona musisi, spekulasi ekonomi kami (yang dijamin akan jauh dari keuntungan finansial) bergelantung pada pemonumenan sebuah momen. Mengoleksi album-album NGUPING records adalah kesempatan untuk “memiliki” sebuah peristiwa, yang dapat disimpan baik-baik sebagai kenangan, didengarkan ulang sebagai sumber pengetahuan atau dinikmati untuk memuaskan hasrat voyeurisme bunyi. Dapatkah kita memuja sebuah peristiwa sebagaimana kita memuja seorang musisi? Jika bagian terakhir ini mulai kedengaran samar, takabur dan tidak masuk akal, maklumlah, namanya juga berdagang!

NGUPING records merupakan kerja sama Sekolah Salah Didik Kunci dan Uma Gumma. Sebagai siswa temporer di Sekolah Salah Didik, Uma Gumma diundang untuk mengeksplorasi medium-medium yang berhubungan dengan audio untuk memikirkan kemungkinan produksi, distribusi dan konsumsi pengetahuan alternatif. Sejak 2015, Sekolah Salah Didik Kunci bereksperimen dengan model-model belajar alternatif untuk memikirkan cara mengoperasikan sistem belajar di luar sekolah tanpa mereproduksi bentuk-bentuk konsumsi pengetahuan khas pendidikan formal.

NGUPING Records telah merilis tiga album sekaligus pada acara Records Store Day Yogyakarta pada tanggal 22 April 2017. Berikut daftar rilisannya. 

  1. Kusak-Kusuk Angkatan Tua 

    Hersri Setiawan adalah sastrawan Indonesia yang pada tahun 1969 sampai 1978 menjadi tahanan politik rezim Orde Baru di Jakarta dan di Pulau Buru. Selepas Buru, ia menyambung hidup sebagai penulis lepas, editor dan penerjemah kerap dengan menggunakan nama samaran. Pada penghujung tahun 1990-an, ia memulai proyek sejarah lisan mengumpulkan narasi-narasi individu yang tercecer dalam pengasingan dengan cara mewawancarai emigran politik Indonesia di Eropa Barat, Cina, Vietnam dan Indonesia. Akan tetapi, selain melacak jejak sejarah diaspora kaum kiri setelah 1965, pasca Reformasi 1998 Hersri juga tertarik menelusuri bisak-bisik, kusak-kusuk dan hingar-bingar suara gerakan mahasiswa pada era transisi Indonesia menuju demokrasi. Album ini adalah rekaman wawancara Hersri dengan beberapa mahasiswa yang tidak dapat kami identifikasi nama-namanya; namun merupakan anggota dari Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan di Yogyakarta pada tahun 1999. Dari butir-butir percakapan seperti “Nun Jauh di Sana”, “Dialektika Tiga Ruang Semu”, “Euphoria Borjuis Kecil” dan “Biarkan Bunga itu Tumbuh Bersama” misalnya, kita dapat mendengarkan rakitan sejarah suara jaman yang penuh harapan sekaligus kekhawatiran menyongsong masa depan pasca Reformasi.

2. It’s My Job To Keep Punk Rock Elite

It’s My Job to Keep Punk Rock Elite merupakan split album yang terdiri dari dua rekaman diskusi buku tentang subkultur Punk tahun 2000-an. Pada rekaman pertama kita mendengar kicauan parau Wok The Rock, pendiri Realino Records (1999-2004) dan kini pengasuh netlabel Yes No Wave Music yang diinisiasinya sejak 2007. Wok, selaku intelektual amatir scene musik punk Yogyakarta kala itu, membahas buku Dick Hebdige Asal Usul dan Ideologi Subkultur Punk dalam Forum Gemar Membaca Kunci Cultural Studies Center di Kafe Dekat Rumah tahun 2004. Berlaku sebagai moderator adalah Antariksa. Butir-butir diskusi seperti “Spike Agnes Monica”, “Punk Pancasilais” dan “Syarat-syarat tetap menjadi Punk” mengumandangkan gaung konflik ideologis yang berbeda jalur dari asal usul kemunculan subkultur punk di Barat.

Nomor kedua dalam split album ini merupakan rekaman audio dari peluncuran buku Punk: Fesyen, Subkultur, Identitas karya John Martono dan Arsita Pinandita Djumadi di Jogja National Museum, 1 Agustus 2009. Dalam acara ini, Ferdiansyah Thajib dan Eko Prasetyo diundang sebagai penanggap dan FX Koskow Widyatmoko sebagai moderator. “Otentisitas dan Pencangkokan” “Pertarungan Jalanan & Salon Kecantikan” dan “Mikropolitik Komunikasi Punk” merupakan beberapa butir percakapan yang mengurai nada-nada kritis terhadap subkultur punk kala itu—meninggalkan pertanyaan yang lebih kurang masih bergema juga sampai sekarang, “Punk mau dibawa kemana?”

3. Suara Selepas Kerja

Album ini merupakan perpanjangan auditif dari proyek Klub Baca Selepas Kerja yang diinisiasi Kunci Cultural Studies Center dan Para Site gallery, berkolaborasi dengan sekelompok buruh-penulis migran Indonesia di Hong Kong. Dalam Suara Selepas Kerja, dua buruh-penulis migran yang berpartisipasi dalam proyek klub baca melisankan teks-teks sastra favorit mereka dan merekamnya secara sederhana dengan menggunakan perekam dari telepon genggam.

Susana Nisa melantunkan interpretasi dramatiknya atas nukilan novel “America is in the Heart” karya penulis Filipina Carlos Bulosan dan “A Dog Died in Bala Murghab,” terjemahan Inggris cerpen penulis Indonesia Linda Christanty, “Seekor Anjing Mati di Bala Murghab”. Novel semi autobiografis Carlos Bulosan terbit tahun 1946, mengisahkan pengelanaan hidupnya sebagai seorang imigran, penyair, penulis cerpen sekaligus aktivis yang tersuruk-suruk dalam kerasnya kehidupan di Amerika. Cerpen Linda Christanty terbit di koran Tempo, 18 Juli 2010 menggambarkan kekalutan hati seorang jurnalis foto ketika meliput perang di Afghanistan. Susana, yang identitasnya terbelah dalam pekerjaan sebagai buruh domestik migran, penulis cerpen dan jurnalis, seolah menubuhkan sebagian dirinya dalam teks-teks yang ia bacakan.

Cerpen Budi Darma, “Angela” yang terbit di Kompas, 20 April 2014 dibacakan oleh Arista Devi, buruh migran yang juga telah menerbitkan buku berjudul Empat Musim Bauhinia Ungu. Cerpen “Angela” bercerita tentang Burhanto, seorang mahasiswa Indiana University yang dihantui oleh sosok perempuan misterius bernama Angela Vicario. Cerpen ini agaknya merupakan adendum Budi Darma untuk kumpulan kisah Orang-Orang Bloomington yang terbit tahun 1981. Arista Devi merupakan penggemar kisah-kisah horor dan tengah mengeksplorasi teknik penulisan cerita misteri untuk mengisahkan kembali cerita kehidupan sehari-harinya sebagai buruh migran.

Untuk mendapatkan rilisan NGUPING RECORDS, kontak kami via e-mail di editor(a)kunci.or.id atau via whatsapp di 087739305815

 

 

 

 

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in