Bahasa Inggris, turisme, dan volunter

Seiring dengan normalisasi pemakaian mata uang dolar, Bahasa Inggris merupakan bahasa yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, ia tidak berarti bahwa proses komunikasi dalam bahasa Inggris akan terjadi dengan mudah. Beberapa catatan riset kami di Phnom Penh menunjukkan bahwa bahasa kerap membawa kami tersesat dalam penerjemahan yang salah dan ketidakmengertian. Meskipun demikian, dalam kesesatan penerjemahan dan ketidakmengertian tersebut, tetap ada jalan tersedia untuk melangsungkan percakapan. Popularitas bahasa Inggris sebagian dipicu karena arus turisme yang masuk ke Kamboja. Hal ini juga diperkuat oleh operasionalisasi banyak organisasi nonpemerintah maupun perusahaan asing. Bahasa Inggris, dan juga pemakaian mata uang dolar, seperti berlangsung di ekosistem tersendiri. Ia adalah ekosistem yang diaktifkan oleh para pegawai NGO, volunter, turis, sebagian yang bekerja di organisasi seni dan budaya berskala internasional, dan beragam bagian dari sistem pendukung yang tersedia. Popularitas bahasa Inggris juga disebabkan karena ia berfungsi sebagai jembatan komunikasi jika bahasa Khmer tidak bisa menjadi medium komunikasi utama. Sekaligus ia adalah bahasa bagi para kosmopolit yang menghidupi negeri ini–selain pemakaian bahasa Perancis yang juga kuat mengingat sejarah kolonialisme panjang.

Various leaflets and brochures for tourists and expats who live in Phnom Penh.

Various leaflets and brochures for tourists and expats who live in Phnom Penh. The photo was taken in Java Creative Cafe, our regular hang-out space during our stay here.

Dengan mengingat hal diatas, bisa dipahami mengapa bahasa Inggris merupakan satu dari mata pelajaran penting yang diajarkan kepada para siswa Tiny Toones. Nilai tukar bahasa Inggris sangat tinggi. Keahlian dalam menggunakannya mempunyai nilai guna yang bermakna ekonomis. Penelitian ini mempunyai sedikit ruang untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris dalam penilaian berbasis angka. Saya lebih tertarik untuk mengamati bagaimana pelajaran bahasa Inggris, dalam konteks Tiny Toones, juga mempunyai fungsi pertukaran hal-hal lain. Di catatan sebelumnya, saya mencatat bahwa proses belajar bahasa Inggris juga sekaligus berfungsi, dalam ruang lingkup yang terbatas, sebagai cara untuk menghubungkan bolak-balik antara bahasa Inggris dan Khmer.

Dalam menyelenggarakan proses belajar di Phnom Penh, Tiny Toones mengandalkan keberadaan para volunter yang berada di Kamboja. Hal ini merupakan aspek penting yang menarik untuk dicatat. Ia bisa dikembangkan lebih jauh untuk menganalisa keberlangsungan Tiny Toones sebagai sebuah fasilitas belajar di masa depan. Hal ini mengingat durasi tinggal para volunter biasanya terbatas. Kontribusi para volunter di Tiny Toones juga harus dikontekstualisasikan dengan waktu yang mereka alokasikan untuk mengajar. Bagaimana keberlangsungan sebuah institusi belajar yang bergantung pada orang-orang yang waktunya terbatas bisa dimaknai?

Learning alphabet in an English class.

Learning alphabet in an English class.

Pengamatan yang lebih mendalam atas proses belajar di Tiny Toones menunjukkan pertukaran lain yang terjadi antara para volunter yang berperan sebagai tenaga pengajar, dengan aktivis Tiny Toones yang sekaligus adalah orang lokal. Para volunter mengandalkan bantuan dari para aktivis Tiny Toones yang juga orang lokal sebagai mediator antara mereka dengan para murid. Peran mediator diperlukan dalam situasi proses belajar yang macet. Ia macet karena proses komunikasi tidak berjalan dengan baik. Proses komunikasi tidak berjalan dengan baik karena disebabkan oleh kendala bahasa, juga oleh hal-hal lain. Peran mediator diperlukan untuk memberikan bantuan penerjemahan kata-kata instruksi atau perintah kepada para murid. Tetapi dalam banyak peristiwa belajar, fungsi mediator terasa lebih dari sekedar membantu menerjemahkan sesuatu yang diperlukan untuk memperlancar proses belajar.

Amatan saya menunjukkan bahwa peran mediator sangat vital karena ia merupakan figur yang rasanya berpotensi untuk lebih didengarkan daripada para volunter asing. Hal ini terjadi terutama dalam konteks dimana para murid diharapkan untuk ‘bersikap seperti yang diharapkan oleh seorang volunter.’ Ini adalah sebuah harapan yang lebih bersifat budaya, daripada hasil proses belajar yang bisa dihitung secara pasti.

Saya ingin merefleksikan hal ini lebih mendalam dengan mencoba berspekulasi atas keberlangsungan Tiny Toones di masa depan. Dengan mengingat kekuatan peran mediator lokal dalam proses belajar di sini, saya berargumentasi bahwa inilah nilai kekuatan Tiny Toones yang tidak akan bisa diimbangi oleh organisasi-organisasi serupa yang didirikan oleh para volunter.

Nuraini Juliastuti

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in