AbdouMaliq Simoné: Hantu-hantu Tebet

Saya tinggal di lingkungan menengah ke bawah yang  berlokasi di  pusat Jakarta. Tebet adalah lorong padat dengan jalan-jalan kecil yang kebanyakan disarati oleh paviliun-paviliun untuk satu keluarga. Awalnya ia dikembangkan sekitar lima puluh tahun yang lalu, setelah kawasan-kawasan tinggal di Senayoran dipindahkan untuk membuka ruang bagi kompleks olahraga dan kawasan pemerintahan yang baru. Wilayah ini terkenal dengan “tawuran” jalanan musimannya yang memerebutkan perhatian dan otonomi. Bagian timur Tebet beberapa tahun belakangan ini telah menjadi satu pusat bagi budaya remaja, penuh dengan butik pakaian, pasar malam,  coffee shop murah dan rumah makan. Studio musik dan film, bisnis fesyen dan desain serta kolektif seni semakin tertarik ke wilayah ini. Entah bagaimana suatu campuran pelaku dan kegiatan tampak berhasil berko-eksistensi tanpa persoalan yang justru semakin meningkat di kecamatan-kecamatan lain.  Ini tampaknya berkaitan dengan etos Muhammadiyah, satu dari organisasi Islam terbesar di Indonesia,  yang terurbanisasi- yang lembaga-lembaganya cukup banyak menyebar di wilayah ini.

Lokasi Tebet yang strategis- pusatnya nyaris berhimpitan dengan  perbatasan kota Jakarta, turut menambah tekanan besar. Beberapa kawasan di kecamatan ini sudah menjadi langganan banjir parah selama musim hujan; populasinya yang padat dan pemusatan aktivitas ekonomi yang terbangun di atas infrastruktur dengan pajak yang berlebihan telah mendorong kebutuhan perbaikan yang substansial di kecamatan ini. Beraneka ragam aktivitas bisnis yang ada sebagian besar berjalan tanpa pemahaman tentang perencanaan strategis. Kegiatan ekonomi gelap sudah mewabah di beberapa bagian di kecamatan ini dan menarik beragam kalangan dari berbagai belahan kota yang tidak begitu peduli dengan urusan keberlanjutan – sebuah praktik yang merugikan nilai tanah, sebenarnya, dan sebab itu membuka pintu bagi pengembangan perumahan berskala besar yang seringkali mengisi lokasi yang buruk, dalam kaitannya dengan jalur transportasi.

Namun demikian, cukup banyak juga bagian dari wilayah ini yang layak huni, berdesakan dengan proyek-proyek perumahan baru yang tidak begitu mengubah skala yang ada tapi menambahkan kapital baru ke wilayah tersebut dan menengarai kapasitasnya bagi pembaharuan. Dibandingkan dengan sebagaian besar wilayah lain di kota,  kawasan ini bersih dan terpelihara baik karena basis perumahan yang ada tampak siap untuk berlangsung untuk kurun waktu lama. Namun ada keresahan yang mengiringi kepastian ini.

Di seluruh lingkungan saya tinggal ada banyak penghalang jalan yang dipasang oleh sekawanan liar “pengamanan” lokal setiap malam, jauh sebelum jam orang biasanya tidur. Ada lelucon lokal tentang “tangan-tangan gatal” yang siap mencegat. Portal ini banyak yang dijaga sepanjang malam namun penghuni yang dikenal oleh para penjaga keamanan boleh lewat kapan pun. Tapi mayoritas warga tidak mengenal mereka, sehingga mereka harus belajar untuk mengambil rute berputar untuk mencari jarak terdekat untuk sampai ke tujuan. Alasan yang ditegaskan untuk tindakan pencegahan ini adalah untuk membatasi jumlah pencurian mobil. Karena kebanyakan rumah tangga hanya dilengkapi tempat parkir untuk satu mobil, dan kebanyakan rumah tangga ini punya lebih dari satu kendaraan sementara kondisi kebanyakan jalan yang ada  tidak menyisakan ruang di depan rumah untuk parkir kelebihan kendaraan tersebut; mobil-mobil seringkali diparkir jauh- meskipun semakin banyak juga ruang yang menjadi parkir mobil di bawah pengawasan petugas keamanan yang lain. Adanya portal-portal ini menutup rute-rute kabur yang ada.

Pencurian mobil adalah bagian dari realitas di  Jakarta, tapi tidak begitu banyaknya; sampai-sampai harus mendorong merajalelanya penghalang dan orang dengan bemacam seragam pengamanan. Tata letak kecamatan ini sendiri telah menciptakan perasaan interior yang dalam, dan ini semakin dikuatkan lagi dengan adanya penghalang-penghalang tersebut. Hal yang paling terasa sebagai kerentanan terhadap serangan mendadak yang tak tertangani adalah hal yang sama yang ditekankan dalam respon pertahanan konvesional.  Keragaman yang menjadi ciri khas Tebet dan menjadi faktor penyumbang bagi pertumbuhan usaha lokal kecil dan menengah ini adalah hal yang sama dengan yang coba tidak dihiraukan oleh orang di malam hari. Kemauan untuk membiarkan hal-hal terjadi adalah sesuatu yang dapat dimonitor di siang hari namun ia juga memberikan implikasi pada malam hari yang semakin sulit dideteksi dan dikontrol.

Ini mungkin penyebab mengapa menyebar gosip tentang berbagai peristiwa gaib- tentang remaja yang hilang ketika pacaran di taman, atau tentang tanaman yang tumbuh besar seperti raksasa, tentang rumah yang terbakar namun tak mengalami kerusakan apapun. “Ada beberapa hal yang anda bisa cegah, namun untuk hal lainnya mungkin yang bisa anda lakukan hanya memojokkannya sehingga mereka harus memperlihatkan diri” ujar salah seorang petugas keamanan yang adalah juga preman lokal, -yang adalah juga petugas keamanan, dengan penuh arti. Tak ada yang bicara tentang hantu secara langsung, meskipun sekali lagi tahun ini Jakarta diramaikan dengan hantu- misalnya tampak dari orang berbondong-bondong pergi menonton film hantu terbaru, novel populer, dan acara televisi. Karena, tentu saja portal seperti ini tidak akan menghalangi hantu masuk, apalagi suatu “kelompok” yang begitu bersemangat menangkapnya demi mendapatkan hadiah besar, terutama karena kelompok yang demikian itu tidak ada di kawasan ini. Namun demikian, penghalang jalan menjadi kesempatan yang disepakati oleh beberapa kelompok lelaki tertentu untuk mengisi malam dengan judi dan narkoba, serta acara nyanyi bersama dadakan  atau sesekali berpesta.

“Kami menyambut orang luar di sini, pastinya kamu juga sangat kami terima (ditujukan pada saya) selama kamu tidak terlalu menjelaskan kehadiranmu.” Ketika saya tanyakan pada petugas keamanan tersebut apa yang ia maksud dengan kalimat itu, dia mengatakan bahwa orang hanya perlu tahu secukupnya tentang siapa anda sehingga mereka bisa tetap tertarik membicarakan anda sesekali, membuat mereka tetap menebak-nebak, namun pada saat yang sama, tidak baik juga jika mereka tidak cukup tahu anda siapa sehingga harus menjadi curiga dengan apa yang anda hendak lakukan.  Atau justru sebaliknya,  menjadi terlalu yakin dengan anda sehingga akhirnya mereka malah menjadi beranggapan bahwa anda akan melakukan sesuatu yang bukan dalam niatan atau kapasitas anda. Ketika saya mencoba memunculkan kembali tema hantu, jawabannya adalah bahwa jika anda tidak ingin ada hantu, anda harus menemukan cara agar dapat menjadi lebih rumit daripada mereka, mengingat bahwa hantu sudah harus berurusan dengan banyak kerumitan. Bagaimanapun juga hanya hantu yang setidaknya punya kapasitas teoritis untuk pergi kemanapun tanpa rintangan fisik atau waktu, namun pada saat yang bersamaan terjebak dalam hubungannya dengan kehidupan dan tempat tertentu yang tidak ingin mereka relakan, atau kedekatan mereka pada sesuatu itu lah yang menjadi rujukan utama mereka dalam mengatur jadwal.

Ketika saya mencoba menyatakan bahwa lingkungan ini sepertinya terlalu cepat tutup di malam hari tanpa disertai alasan jelas, dan oleh karenanya menjadi terlalu sederhana ketimbang rumit, kelompok penjaga itu bersikeras bahwa orang masa kini harus semakin kembali pada mimpi mereka agar dapat menemukan cara baru dalam melakukan hal-hal; bahwa Jakarta sudah menjadi terlalu rumit—ajegnya kemacetan lalu lintas, polusi yang berlebihan, amblasnya permukaan tanah yang semakin mencemaskan- semua ini di luar dugaan para penghuninya. Meskipun portal tidak bisa menghalangi hantu untuk masuk dan meskipun peristiwa-peristiwa gaib lokal dianggap tidak berbahaya, masih ada kebutuhan untuk terus mewaspadainya, dan ini artinya mengisyaratkan semacam penghormatan pada mereka, atau membiarkannya menjadi gatal di telapak tangan.

Maka tidak heran bahwa alih-alih menjadi obyek ketakutan dan kecemasan, hantu menjadi kehadiran yang nyaris-diharapkan dalam kehidupan sehari-hari di Tebet and kawasan lainnya di kota. Proyek pengembangan raksasa menggerogoti kota ini – tanahnya, air, dan cara-cara hidup di masa lalu. Kerumitan hidup sehari-hari mendorong banyak penghuni untuk tidak memilih lingkungan seperti Tebet demi kompleks perumahan besar, yang bukan saja menjanjikan kenyamanan dan akses mudah ke konsumsi tapi juga menjamin sebuah masa depan— yang memungkinkan individu untuk memajukan diri, menghasilkan uang sebanyak-banyaknya dan diamankan jauh dari kondisi darurat di jalanan. Penghunian (inhabitation) di Jakarta terus menuntut kelihaian dalam berurusan dengan jalanan. Ini adalah kerja keras, namun umumnya bermanfaat dalam arti bahwa bukan saja individu-individu dapat membuat ceruknya sendiri namun juga ceruk-ceruk ini terhubung dengan yang lain, bukan dengan cara yang statis, melainkan melalui bentuk-bentuk yang secara terus menerus diimprovisasi dan disegarkan. Ada persaingan untuk ruang dan sumber daya, tapi umumnya praktik yang terjadi merupakan potensi sinergis yang difokuskan pada berbagai macam hal dan aktivitas yang berlangsung di sekitar satu sama lain.

Tapi komplementaritas dan sistem lokal kompleks yang demikian membutuhkan ruangnya tersendiri, atau lebih tepatnya, membutuhkan kepedulian, waktu, dan sumber daya untuk menciptakan ruang;  kapasitas ini lah yang sedang dipunahkan. Ia dibuat punah lewat pembatasan substansial atas sirkulasi fungsional – dari hampir segalanya, mulai dari air, tubuh, dan sensibilitas. Sementara Jakarta adalah kota dengan tingkat penggunaan sosial tertinggi di dunia, seperti Twitter dan Facebook, tingkat sirkulasi aktual di seluruh kota mengalami penurunan (JICA), dan kapasitas berbagai aspek kota terus menerus diartikulasi dan situs-situs persimpangan yang saling terhubung menjadi semakin problematis. Seiring dengan tersendatnya sirkulasi, aspek-aspek kota ini menjadi semakin terfragmentasi dan terpartikularisasi, dan ini menyebar ke bawah bahkan sampai ke tingkat rumah tangga di mana “solusi” pada persoalan sehari-hari menjadi semakin terindividuasi. Contohnya, semakin berkurangnya penggunaan transportasi umum- sebagian disebabkan pada investasi yang menurun dan layanan yang buruk- mengalihkan “wahana” mayoritas ke kendaraan pribadi.  Dengan persoalan sirkulasi ini, rumah tangga semakin sulit menggunakan satu kendaraan saja untuk mendistribusikan anggota keluarga ke tujuan-tujan hariannya, dan masalah ini dikompensasikan dengan pemilikan semakin banyaknya kendaraan yang dengan segera menambah kemacetan.

Over-produksi mal belanja dan dengan demikian kesempatan konsumsi mendorong harga-harga semakin ke bawah kepada orang-orang yang sebelumnya tidak dapat menggapainya—seperti motor murah, elektronik, dan fesyen imitasi.  Ini, diikuti dengan merajalelanya citra keberhasilan dan kemakmuran yang diarahkan melalui media global, untuk kemudian menyalurkannya kembali energi afektif ke kepemilikan benda-benda dan pengalaman sebagai penanda utama kesuksesan individu. Mengapa menghabiskan banyak waktu mencoba menegosiasi kolaborasi lokal yang penuh intrik dengan orang lain, ketika seluruh kota, bahkan seluruh dunia, menjadi arena yang lebih sesuai, dan di sini individu pada dasarnya sendiri-sendiri, mencoba untuk tetap terhubung pada apapun yang terjadi untuk mengajukan kesempatan yang dipercanggih bagi proteksi dan akumulasi diri.

Lagi pula, di Jakarta, apalagi yang secara realistis bisa diharapkan oleh para penghuninya. Mereka melihat pembangunan perumahan dan menara-menara komersial yang masif di sekelilingnya,  dan meskipun mereka mungkin paham dengan dampaknya yang merugikan, mereka merasa tak berdaya untuk mencegahnya. Beberapa orang mungkin berencana untuk merekonstruksi aproksimasi dari kehidupan mereka sekarang di pinggiran kota, di mana hal-hal tidak semahal dan se-menyesakkan itu. Namun, kebanyakan orang secara implisit menyiapkan diri mereka sendiri untuk keberadaan yang lebih terprivatisasi, terindividuasi, tercerabut dari tatanan sosio-spasial yang lebih kompleks yang tidak hanya  telah menanamkan mereka dalam jaringan pemaknaan yang penting namun juga merupakan  perangkat-perangkat mereka sendiri  dalam mengimprovisasi dan mengembangkan kehidupan mereka. Seiring dengan punahnya tatanan tersebut, kriteria keberhasilan menjadi lebih terstandarisasi dan bersifat kecirian belaka. Dengan kata lain, ada lebih banyak aturan dan asumsi yang harus dipatuhi, namun meskipun orang berusaha menaatinya, belum tentu ia akan mencapai sukses, karena kebetulan tampaknya punya peran yang sama kuat.  Relasi, koneksi, dan konfigurasi tempat, manusia, waktu, peristiwa, dan benda-benda dapat memproduksi kemungkinan yang substansial pada satu momen, namun kekuatan signifikan yang dapat diturunkan dari semua ini menjadi kian luntur di setiap momennya.

Seperti yang dituturkan Taylor Atkins, “aliran kata-kata, perangkat, tindakan, hasrat, orang, (semuanya) tergulung dalam ‘polyvocity’ yang dekodifikasi, yakni penyampaian kolektif dari sehimpunan benda yang bersifat mesin, lengkap dengan lubang hitam dan alur-alur penerbangan, penuh dengan pulau-pulau fraktal  pengetahuan dan kompleksitas” http://fractalontology.wordpress.com/2011/09/24/spectral-realism/.  Daya tarik dari perumahan superblok adalah ia mengajukan penjelasannya tersendiri atas hal-hal. Ia menyediakan kemudahan jalan masuk, pembayaran di muka yang murah namun disertai masa angsuran yang panjang; akses ke toko, restoran, dan bioskop yang sama yang bisa dijumpai orang di manapun sehingga orang tidak akan ketinggalan apapun; akses ke berbagai layanan pengasuhan anak, lembaga keagamaan – dengan kata lain sebuah dunia yang berdiri sendiri.

Tentu saja pemenuhan diri sendiri ini adalah ilusif karena di dalamnya kota ini secara harfiah dipenuhi dengan “semes”  (tanda lingusitik, komponen dasar dari makna dalam satu morfem penerj.) dan menjadi semakin sulit bagi individu, bahkan untuk sejenak saja, memandang ke belakang agar ia bisa menyusun narasi-narasi yang memadai mengenai berbagai faktor dan urutan yang memberi dampak pada kehidupannya sendiri; di mana sulit untuk mengetahui apa yang pertama kali terjadi, apa yang paling penting untuk diketahui, dan apa saja yang mungkin.

Oleh karena itu kesibukan dengan hantu merupakan suatu cerminan keprihatinan masa depan–masa depan yang menjanjikan keamanan melalui kehilangan (disappearance), di mana individu-individu terbungkus ke dalam dunia di mana seolah-olah ada tapi ia sekedar tampak  hanya karena ia memisahkan dirinya sendiri dari sebuah luar yang semakin kesulitan untuk menjalankan sirkulasi hal-hal yang produktif—di mana benda-benda adalah utuh sekaligus dapat berubah, di mana relasi melahirkan entitas dan identitas tertentu yang kemudian menggunakan koherensi sementara ini sebagai satu perangkat untuk menyetir hubungan ke arah yang tak terduga. Di sini, ada permainan ketidaknampakan (invisibility) dan penampakan (visibility), dari orang dan jaringan, dari lingkungan yang dibangun dan sosial yang mendorong  pengerahan daya dan upaya yang berkesinambungan. Masa depan yang dipampangkan ke kebanyakan orang Jakarta adalah sebuah masa depan di mana mereka menghilang dari pemandangan, di mana mereka bisa menjadi apapun namun karena itu pula menjadi bukan apapun, dan dengan demikian kekurangan perangkat dalam menyikapi kesenjangan kekayaan dan kesempatan yang kian melebar; kekurangan perangkat dalam berurusan dengan hal-hal tersebut yang semakin dihujamkan lebih jauh ke dalam kehidupan yang sementara. Inilah situasi yang membuat para warga mendapati dirinya berubah menjadi hantu bagi satu sama lain.

Tebet tidak takut untuk diartikulasikan pada dunia yang lebih luas. Bagaimanapun juga, kesempatan dan kemakmurannya banyak diturunkan dari cara ia dikaitkan dengan kawasan-kawasan lain di Jakarta. Ia juga tahu apa yang terjadi ketika semakin banyak kawasan-kawasan yang mendapati dirinya terhalang dari mana-mana. Para penghuni Tebet hanya perlu melihat ke wilayah Menteng Atas sebagai contohnya, di mana proyek-proyek raksasa di setiap sisi menggorogoti dinamika wilayah tersebut, menyisakan kekumuhan dan segera mengarah pada kemusnahan.

Kawasan seperti Tebet seperti berjalan di atas pisau keseimbangan. Ada banyak bukti tentang penurunan dan vitalitas, menyulitkan orang untuk memberi ramalan pasti karena banyak prospek yang dapat diantisipasi, setidaknya dalam jangka menengah. Mengingat vitalitas yang tumbuh di Tebet ini juga seperti yang berlangsung di kota dalam konteks  luas, ekonomi lokalnya tidak begitu lokal. Alih-alih, banyak warga yang semakin khawatir dengan bagaimana artikulasi, -bersama dengan seluruh bagian kota lainnya, semakin dipatok ke bentuk-bentuk yang terbatas. Bagi para pemain besar, pada dasarnya Tebet hadir sebagai sesuatu dengan potensi nilai guna yang pada gilirannya punya sedikit hubungan dengan kondisinya sekarang. Oleh sebab itu, hantu-hantu memainkan imajinasi warga, bukan dalam konteks kepercayaan pada ilmu perhantuan, melainkan sebagai penjaga tempat yang sifatnya sementara—sesuatu yang mengingatkan warga bahwa kemungkinan dan pengalaman tertentu belumlah usai, atau bahwa mereka kini dapat mudah diterjemahkan ke dalam bentuk yang mudah dikenali. Sebaliknya, mereka harus dihidupkan melalui medium yang kini tidak hidup maupun mati, sesuatu yang tidak bisa dibeli, dibuat punah, diteror, atau dengan mudah dipuaskan. Hantu menjadi panutan warga.

Diterjemahkan oleh Ferdiansyah Thajib dari Abdul Maliq Simoné, “The Ghosts of Tebet”, Versi bahasa Inggris teks ini secara online bisa dibaca di: http://villes-noires.tumblr.com/

AbdouMaliq Simoné, adalah urbanis dan guru besar sosiologi di Goldsmiths College, University of London. Karya-karyanya antara lain: Urban Africa: Changing Contours of Survival in the City, dengan Abdelghani Abouhani (2005), City Life from Jakarta to Dakar: Movements at the Crossroads (2009).

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in