Sesi Rak Buku Berhantu (Haunted Bookshelf Session)

(Scroll for english version)

Workshop bersama Read-in: Annette Krauss (seniman residensi KUNCI) dan Sanne Oorthuizen

Senin, 9 Oktober 2017

Pk 15.00 – Pk 17.00

di Kunci Cultural Studies Center

Sesi Rak Buku Berhantu

KUNCI dan Read-in mengundang anda untuk hadir dalam “Sesi Rak Buku Berhantu”, di mana kita akan berlatih koreografi menghafal, sebuah praktik menghafal secara kolektif.

Rak Buku Berhantu berbicara kepada potongan-potongan yang hilang dari rak buku kita. Meskipun sesuatu telah hilang, bukan berarti hal tersebut tidak berada di sini atau di sana. Dalam sesi ini, kami mengacu pada apa yang ditulis Avery Gordon dalam Ghostly Matters, yaitu:

Menghantui sebagai cara di mana sistem kekuasaan yang brutal mampu membuat dirinya diketahui dan dampaknya dirasakan di kehidupan sehari-hari, terutama jika dianggap sebagai hal yang telah usai (misalnya, perbudakan), atau ketika sifat penindasannya disangkal (seperti tenaga kerja gratis atau keamanan nasional). (..) Memang tampaknya bagi saya hal-hal yang menghantui itu justru merupakan wilayah kekacauan dan masalah. (Avery Gordon, 2008: xvi-xvii )

Untuk Sesi Rak Buku Berhantu, kami mengundang anda untuk membawa kutipan atau paragraf yang akan digunakan untuk praktik menghafal bersama. Kami meminta agar kutipan atau paragraf pilihan anda dapat memiliki kaitan dengan pertanyaan: Mengapa penulis dari buku-buku yang saya baca sangat putih, sangat laki-laki, dan sangat Erosentris?. Ini adalah pertanyaan yang Read-in sering ajukan dalam iterasi yang berbeda-beda.

Informasi lebih tentang Sesi Menghafal:

Di dalam sesi pertama di tahun 2014, para anggota Read-in dan partisipan lainnya mampu menghafal pidato dari “Ain’t I a Woman” oleh Sojourner Truth (1851). Dia adalah seorang penentang perbudakan sekaligus aktivis hak-hak perempuan. Ia menyampaikan pidato ini di Konvensi Hak Perempuan Ohio (Ohio’s Woman’s Rights Convention) pada 1851, di Akron, Ohio. Bulan lalu, beberapa anggota Read-in mengadakan Sesi Rak Buku Berhantu sebagai kontribusi di Paviliun Riset di Venice, yang diadakan oleh Academy of Fine Arts Vienna. Alih-alih menghafal teks secara lengkap, kami memilih sejumlah kutipan yang kami hafalkan selama persiapan dan sepanjang sesi sesi publik. Pengunjung diundang untuk bergabung dan menghafal beberapa kutipan tersebut. Kemudian kami juga menghafal ketika di jalan, di antrian, di dalam mobil, ketika sedang bersih-bersih, dan lain-lain.

Selama berlatih, kami menjadi paham bahwa praktik menghafal bukan hanya soal akurasi, tapi juga bagaimana kita bisa dibuat resah oleh berbagai hal: pemikiran, gambaran, impian, dari hari ke hari. Entah bagaimana caranya, kami ingin  menghadirkan momok dan membiarkan hantu untuk tinggal dalam pikiran kami. Kita bisa melihat praktik menghafal sebagai kegaiatan berputar-putar (bersirkulasi) dengan media tukar sehari-hari  – sesuatu yang dapat terus didatangi, sesuatu yang bersifat lengket. Ketika dikaitkan dengan waktu, praktik ini bisa menjadi ritual, kita bisa meluangkan waktu untuk melakukannya. 

 

Haunted Bookshelf Session

Read-in invites Kunci members, residents and friends to a Haunted Bookshelf Session, during which we practice choreographies of memorizing, that is, practicing the act of collective memorizing.

Haunted Bookshelf speaks to the missing pieces from our bookshelves. However, when something is missing, it does not mean that it is not (t)here. We rather refer to what Avery Gordon writes in Ghostly Matters, as:

Haunting as a way in which abusive systems of power make themselves known and their impacts felt in everyday life, especially when they are supposedly over (slavery, for instance), or when the oppressive nature is denied (as in free labour or national security). (..) Indeed it seemed to me that haunting was precisely the domain of turmoil and trouble. (Avery Gordon, 2008:xvi-xvii)

For the Haunted Bookshelf Session, we ask each participant to bring a quote for us to collectively memorize. We ask that the quotes relate to the question: Why are the authors of the books I read so white, so male, so Eurocentric?, a question that Read-in recurrently asks in different iterations.

More about the memorizing sessions:

In one of the first sessions in 2014, members of Read-in and the participants memorized the speech ‘Ain’t I a woman’ by Sojourner Truth in 1851. She was a black abolitionist and women’s rights activist and delivered the speech at the Ohio’s Women’s Rights Convention in 1851, in Akron, Ohio. Last month members of Read-in organized the Haunted Bookshelf sessions as part of their contribution to the Research Pavillon in Venice, hosted by the Academy of Fine Arts Vienna. Instead of memorizing a complete text, we selected a number of quotes which we memorized in preparation of and during a public sessions. The public was invited to join in, practicing memorizing the quotes. Furthermore we are memorizing on the way, in the queue, in the car, while cleaning, etc.

During practising, it became clear for us that the memorizing practice is not necessarily for accuracy, but to be unsettled by something: a thought, an image, a dream, but on a daily basis. We are somehow looking to raise a specter, have a ghost in our mind. We might consider memorizing as circulating with daily currency – a thing that you come back to, that is sticky. When related to time, it could even be a ritual, something to make time for.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in