Deleuze & Guattari: Kita Selalu Bercinta dengan Dunia-dunia

10336680_10152028650001767_248431579467699872_n copy

Kami menggunakan istilah Libido untuk menunjuk energi spesifik dari mesin-mesin penghasrat (desiring machines), dan transformasi energi tersebut—Kumen dan Voluptas— tidaklah pernah merupakan deseksualisasi atau sublimasi. Terminologi ini memang tampaknya sangat manasuka. Menimbang kedua cara di mana mesin penghasrat ini dipandang, apa yang harus mereka lakukan dengan energi seksual yang layak adalah tidak serta merta jelas: antara mereka diarahkan ke tatanan molekuler yang mereka punyai, atau mereka dikerahkan pada tatanan molar di mana mereka membentuk mesin-mesin organik atau sosial, dan memengaruhi lingkungan organik atau sosial. Kenyataannya memang sulit untuk menggambarkan energi seksual sebagai sesuatu yang serta merta kosmik atau infra atomik, dan pada saat yang sama sebagai sesuatu yang serta merta sosiohistoris. Berbahaya untuk mengatakan bahwa cinta berkaitan dengan protein dan masyarakat. Ini akan berakhir pada menghidupkan kembali upaya lama untuk melikuidasi Freudianisme, dengan mengganti libido dengan suatu energi kosmik yang tidak jelas namun mampu menempuh semua metamorfosis, atau sejenis energi yang tersosialisasi  yang mampu menempuh semua Investasi. Ataukah kita dapat mengulas secara lebih baik upaya terakhir Reich, melibatkan suatu”biogenesis” yang tanpa justifikasi akan dikwalifikasi sebagai moda rasionalisasi yang skizoprenik? Akan kami kenang bahwa kesimpulan Reich condong pada satu energi kosmik infra-atomik—orgone—yang melahirkan gelombang listrik  dan menghantar partikel-partikel submikroskopik, bions. Energi ini memproduksi perbedaan dalam potensi atau intensitas yang didistribusikan pada tubuh yang dilihat dari sudut pandang molekuler, dan diasosiasikan dengan mekanika fluida dalam tubuh yang sama dari sudut pandang molar. Yang mendifinisikan libido sebagai seksualitas dengan demikian adalah asosiasi antara dua moda operasi, mekanik dan elektrik, dalam satu rangkai dengan dua kutub, molar dan molekuler (tegangan mekanis, muatan elektrik, lucutan listrik, relaksasi mekanis). Reich mengira dia telah mengatasi alternatif antara mekanisme dan vitalisme, karena fungsi-fungsi ini, yang mekanik dan yang elektrik, ada dalam materi pada umumnya, tapi dalam rangkai kombinasi tertentu dalam mahluk hidup. Dan terlebih lagi, ia menjunjung kebenaran psikonalatis mendasar, penolakan agung di mana ia dapat menyangkal Freud: independensi seksualitas dalam kaitannya dengan reproduksi, subordinasi reproduksi yang progresif atau regresif pada seksualitas sebagai suatu siklus.

Jika rincian dari teori final Reich dijadikan bahan pertimbangan, kami akui bahwa hakikat skizoprenik dan paranoid teori ini bukanlah hambatan yang pantas kami khawatirkan—sebaliknya. Kami akui bahwa perbandingan apapun atas seksualitas dengan fenomena kosmik semacam, “badai elektrik,” “birunya langit dan biru kelabu kabut atsmofer, birunya orgone,” “api Santa Elmo”, dan formasi kebiruan dari gerak noda matahari, cairan dan aliran, materi dan partikel, pada akhirnya tampak lebih memadai bagi kami ketimbang reduksi seksualitas sebagai rahasia kecil keluarga yang memelas. Kami menganggap bahwa Lawrence dan Miller punya kajian yang lebih akurat ketimbang Freud, bahkan dari sudut pandang keilmiahan terkemuka. Bukan si neurotik yang sedang berbaring di sofa yang bercerita tentang cinta pada kita, tentang kekuatan dan penderitaan yang dikandungnya, tapi langkah diam seorang skizo, Lenzs yang sedang berjalan-jalan di pegunungan di bawah bintang, perjalanan tak bergerak dalam intensitas tubuh tanpa organ. Mengenai semua teori Reichian, ia mengandung kesempatan tanpa tanding dalam menunjukkan kutub ganda libido, sebagai formasi molekuler pada skala submikroskopik, dan sebagai suatu investasi dari formasi molar pada skala agregasi sosial dan organik. Yang hilang adalah konfirmasi pada nalar awam: mengapa, dalam pengertian ini, ia adalah seksualitas?

Baca artikel selengkapnya dengan klik di sini

 

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in