Movement x Tendency, Ways of Moving within the Community

moving

Sunday, 24 August 2014, 3.30 pm
at KUNCI Cultural Studies Center
Jalan Ngadinegaran MJ 3/100, Yogyakarta

(scroll for description in Bahasa Indonesia)

KUNCI invites you to join an open discussion on the aspects of social art practices within Indonesian context. The discussion will center on how art can engage with social life in local communities, and which way artists can position themselves within them.

Starting point for this discussion will be an essay by Nuraini Juliastuti entitled “Moelyono and the Endurance of Arts for Society” written for ‘Afterall’ in 2006. In this essay, Nuraini discusses the work of Moelyono, an Indonesian artist that moved from a classical art education to a socially engaged practice, that promotes the use of art to empower people. For this occasion Nuraini will revisit her essay and redefine it in a current context, considering durability and long term effects.

Simon Kentgens, a Rotterdam (NL) based artist who is currently artist-in-residence for the ‘Made in Commons’ project at KUNCI, has been working with a community in Ledhok Timoho. He will share his experiences to this point and will reflect on his position as an artist working within this community and the possibilities and frictions he encountered.

The discussion will be led by Nuraini Juliastuti and Simon Kentgens.

This talk is a part of Made in Commons (MIC) Indonesia dicussion series. MIC Indonesia (http://madeincommons.net/) is experiments on commons as categories in the making by ways of doing things together and exploring what we have in common. The project is supported by ArtsCollaboratory.

Versi Bahasa Indonesia

KUNCI mengundang anda untuk bergabung dengan sebuah diskusi terbuka mengenai aspek sosial dalam praktik seni di Indonesia. Diskusi ini akan berfokus pada berbagai cara seni terlibat dengan kehidupan sosial di komunitas lokal dan bagaimana seniman dapat memposisikan diri mereka di dalamnya.

Diskusi ini akan dimulai dengan sebuah esai yang ditulis oleh Nuraini Juliastuti, berjudul “Moelyono and the Endurance of Arts for Society” yang ditulis untuk jurnal Afterall, di tahun 2006. Dalam esai ini, Nuraini mendiskusikan karya Moelyono, seniman Indonesia yang bergerak dari pendidikan seni yang klasik ke keterlibatan secara sosial yang mendorong penggunaan seni untuk memberdayakan masyarakat. Dalam kesempatan ini, Nuraini akan membaca kembali esainya dan mendefinisikan kembali di konteks saat ini, terutama terkait dengan ketahanan dan efek jangka panjang.

Simon Kentgens, seniman berbasis di Rotterdam (Belanda), yang saat ini sedang menjadi seniman residensi dalam proyek Made in Commons di KUNCI, sedang bekerja dengan komunitas lokal Ledhok Timoho. Simon akan membagikan pengalamannya dan merefleksikan posisinya sebagai seniman yang bekerja dengan komunitas dan berbagai kemungkinan serta friksi yang ia temui.

Diskusi ini akan dipimpin oleh Nuraini Juliastuti dan Simon Kentgens.

Diskusi ini adalah bagian dari seri Made in Commons (MIC) Indonesia. MIC Indonesia (http://madeincommons.net/) adalah eksperimen tentang commons sebagai kategori yang sedang diciptakan dengan cara melakukan hal-hal bersama-sama dan menelusuri apa yang sama-sama kita punyai. Proyek ini didukung oleh ArtsCollaboratory.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in