Mangan ora Mangan Kumpul : Praktik Perhatian di Keluarga Jawa

Foto: PSW Family Vanderwaall 1961 Natick Massachusetts. Diambil dari Google.

Foto: PSW Family Vanderwaall 1961 Natick Massachusetts. Diambil dari Google.

Jumat, 3 Oktober 2014, pukul 16.00 WIB
di KUNCI Cultural Studies Center
Jalan Ngadinegaran MJ III/100

KUNCI mengundang anda untuk berdiskusi dengan Benjamin Hagerty mengenai risetnya yang membahas perhatian/perawatan/kepedulian (caring)  sebagai salah satu dari banyak praktik ketubuhan yang menekankan pada kerapuhan dan berbagai perubahan dalam hidup. Laporan etnografi Benjamin berfokus pada kapasitas kreatif orang-orang dalam merawat di konteks transformasi sosial dan politik di Indonesia. Berangkat dari penekanan Arthur Kleinman (2009) bahwa “caring juga merupakan pendefinisian praktik moral. Ini adalah praktik imajinasi empati, tanggung jawab, menjadi saksi mata, dan solidaritas dengan mereka yang membutuhkan”, ia mempertanyakan bentuk pendekatan lintas budaya untuk memahami hal-hal yang ditunjukkan oleh praktik perhatian. Diskusi ini akan membahas pertanyaan kunci seperti, (1) apa yang membuat caring sebagai praktik dengan beban emosional di mana imajinasi sosial diformulasikan, diartikulasikan dan dipahami? (2) Jika “caring melibatkan tindakan menjangkau, dalam gestur yang bertujuan memberi rasa nyaman, menjadi terhubung, menyembuhkan – menjadi utuh” (Kleinman 2009) juga dapat bersifat paternal dan merusak, (3) Apa kapasitas kreatif untuk mempraktikkan caring yang mungkin tercipta dan dapat diamati di Indonesia? Poin-poin ini dan lebih banyak lagi akan dibahas secara terbuka dan penuh kepedulian dalam diskusi publik di KUNCI kali ini.

Benjamin Hegarty adalah kandidat PhD di bidang Antropologi, Australian National University. Ia tertarik pada praktik perawatan dalam kehidupan sehari-hari; untuk disertasinya, ia melakukan riset etnografis di bidang HIV dan perawatannya, dengan berfokus pada pekerja yang merawat. Dia tinggal di Yogyakarta.

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in