Brian Massumi: Otonomi Afek (Bagian 1 dari 2)

Image by Leonardiansyah Allenda

Image by Leonardiansyah Allenda

 

I

Seorang lelaki membuat boneka salju di taman atapnya. Boneka salju itu mulai mencair di bawah terik matahari siang. Ia mengamati. Setelah beberapa lama, ia membawa boneka salju itu ke pegunungan di mana ia berhenti meleleh. Ia berpamitan lantas pergi.

Hanya gambar, tidak ada kata, sangat sederhana. Ini adalah cerita yang digambarkan dalam film pendek yang disiarkan oleh televisi Jerman sebagai selingan antar program. Film ini menimbulkan protes dari para orangtua yang mengatakan bahwa anak-anak mereka ketakutan. Berita ini menarik perhatian sekelompok peneliti. Studi lanjutan yang mereka lakukan menjadi terkenal karena gagal menemukan apa yang hendak dicari: kognisi.

Tim peneliti, yang diketuai Hertha Sturm, menggunakan tiga versi film tersebut: versi aslinya yang tanpa kata-kata dan dua versi yang dibubuhkan narasi suara (voice  over). Versi voice over  pertama disebut sebagai yang “faktual“. Versi ini ditambahkan dengan laporan selangkah demi selangkah tentang apa yang terjadi. Versi kedua disebut “emosional“. Sebagian besar versi ini mirip dengan versi yang pertama namun juga menyertakan, di beberapa titik balik yang krusial, kata-kata yang mengekspresikan muatan emosi dari adegan yang berlangsung.

Sekelompok anak usia sembilan tahun dites untuk mengingat dan diminta untuk mengurutkan versi yang mereka lihat melalui skala “menyenangkan“. Versi faktualnya secara konsisten masuk ke urutan paling tidak menyenangkan dan sekaligus yang paling tidak diingat. Yang paling menyenangkan dalah versi aslinya yang tanpa kata, yang masuk ke urutan sedikit di atas versi emosional. Dan yang paling diingat adalah versi yang emosional.

Ini saja sudah sedikit membingungkan. Hal yang lebih aneh lagi terjadi ketika subyek penelitian ini diminta untuk mengurutkan adegan-adegan yang ada di film secara individual dalam skala „senang-sedih“ dan skala “menyenangkan-tidak menyenangkan“. Adegan-adegan “sedih“ dinilai sebagai yang paling menyenangkan; semakin sedih semakin baik.

Hipotesis yang segera muncul adalah bahwa terjadi semacam protes anti-Freudian yang prematur, di mana anak-anak ini menyamakan rangsang dengan kesenangan. Tapi mengingat ini adalah studi empiris, anak-anak ini dihubungkan ke kabel. Reaksi psikologis mereka dimonitor. Versi faktual menunjukkan level rangsangan yang paling tinggi, meskipun ia juga yang paling tidak menyenangkan (yakni “senang“) dan meninggalkan kesan yang paling lama bertahan. Ternyata anak-anak ini mengalami keterpisahan secara psikologis: kefaktualan membuat jantung mereka berdetak lebih cepat dan membuat tarikan nafas mereka lebih dalam, tapi juga ia menurunkan daya resistensi kulit mereka. (Respon kulit galvanik mengukur reaksi otonomik). Versi asli nonverbal menimbulkan reaksi terbesar di kulit mereka.

Dari nada laporan yang mereka sampaikan, tampaknya para peneliti ini sedikit terkejut dengan temuan yang mereka dapat. Mereka mengamati bahwa perbedaan antara kesedihan dan kesenangan tidaklah seperti yang disangka selama ini, dan khawatir jika perbedaan antara anak-anak dan dewasa juga tidak seperti yang diperkirakan (menimbang studi atas retensi dewasa pada siaran berita). Satu-satunya kesimpulan positif yang ditekankan adalah keutamaan yang afektif dalam persepsi citra.

Berdasarkan hal tersebut, perlu dicatat bahwa keutamaan yang afektif ditandai dengan kesenjangan antara konten  dan efek:  akan terlihat bahwa kekuatan atau durasi dari efek suatu citra tidak secara logis terhubung dengan konten dalam cara yang berbanding lurus.  Ini bukan untuk mengatakan bahwa tidak ada koneksi dan tidak  logis. Yang dimaksudkan di sini oleh konten suatu citra adalah pengindeksannya pada makna konvensional dalam konteks intersubyektif, kualifikasi sosiolinguistiknya. Pengindeksan ini mematok kualitas tertentu dari suatu citra, kekuatan atau durasi dari efek citra tersebut dapat dinamakan sebagai intensitas. Yang muncul dari sini adalah tidak ada korespondensi atau kesesuaian antara kualitas dan intensitas. Jika  pun ada hubungan, maka sifatnya berbeda.

Baca selengkapnya dengan mengklik tautan ini

 

Submit your comment

You must be logged in to post a comment.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in