Alun-alun Selatan: Cerita Ruang Bersama
Presentasi KUNCI Space/Scape Project
[scroll down for English version]
Saatnya kita untuk bertemu dan berbagi cerita bersama tentang penjelajahan dan pengalaman di/tentang ruang Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Kolaborasi anda dalam rangkaian peristiwa ini …
Read the full story »
[scroll down for English version]
Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas, kampanye isu tertentu, maupun organisasi aktivis. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi sekarang ini dan marak digunakan.
Sejak jatuhnya rezim Orde Baru Suharto, ruang-ruang baru bagi proyek-proyek media baru bermunculan. Baik individu maupun organisasi yang bekerja untuk isu-isu seperti lingkungan hidup, hak asasi manusia, isu queer dan gender, pluralisme budaya, militerisme, kemiskinan, hak buruh, globalisasi, dan lainnya, telah menerima video sebagai alat komunikasi dengan konstituennya maupun dengan audiens baru.
Penerbitan ini merupakan salah satu hasil dari penelitian kolaboratif EngageMedia dan KUNCI Cultural Studies Center . Riset ini memetakan bagaimana aktivis melibatkan dirinya dengan teknologi tersebut di konteks Indonesia , mengamati beragam isu yang muncul dari perkelindanan gerakan sosial dan teknologi di Indonesia, dan menelusuri potensi serta hambatan distribusi video di internet.Dengan menganalisis sejarah, memetakan situasi masa kini, dan melihat kemungkinannya di masa depan, kami berharap bahwa persoalan aktivisme video di Indonesia bisa dipahami secara lebih jelas agar proses baru untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang juga baru yang lebih penting dapat segera dimulai. Kami juga berharap bahwa Videokronik dapat menjadi panduan bagi mereka yang mau menelusuri kemungkinan-kemungkinan perubahan sosial dengan menggunakan media teknologi baru di banyak tempat, serta turut membantu mereka yang bergiat di Indonesia dalam merefleksikan kerja-kerja yang telah ditempuh hingga sekarang, dan menyikapi bentuk-bentuk baru yang sedang mengemuka.
Klik di sini untuk mengunduh pdf lengkapnya dalam versi Bahasa Indonesia
Click here to download the complete pdf in English Version
The past decade in Indonesia has seen a dramatic increase in the use of video as a social change tool by community, campaign and activist organisations. Access to the tools for producing video have become increasingly democratised over this period, and rapidly adopted. Since the fall of Suharto’s New Order regime, space has been opened up for a host of new media projects to emerge. Individuals and organisations dealing with issues such as the environment, human rights, queer and gender issues, cultural pluralism, militarism, poverty, labour rights, globalisation and more have embraced video as a tool to communicate with both their bases and new audiences.
The proliferation of moving image production and its increasing representation on the internet has introduced new ways of transmitting information that intensify the connectedness of agents from different settings–including those within the social change movement. However, there has been very little research on how activists in Indonesia incorporate the developments in video technology into their existing practices, or how they engage with the possibilities of strategic distribution, particularly the various online forms. Indonesia is in a state of transition, politically and socially, but also in relation to the many technologies. Access to video production tools, the internet and mobile technologies, whilst still limited, is increasing dramatically.
The current publication is one outcome of a collaborative research between EngageMedia and KUNCI Cultural Studies Center. The research charts how activists are engaging with these technologies in the Indonesian context, addressing some of the issues of technology-mediated social movements, and exploring the potential and limitations of online video distribution. By analysing its history, mapping the current situation, and considering possibilities for the future, we hope to bring new light to video activism in Indonesia and begin the process of asking many more necessary questions. Hopefully Videochronic serves as a guide for those exploring the social change possibilities of employing new media technologies in many places and also assists those inside Indonesia to reflect on the work done to date, and the many paths emerging.
Ini suasana sebuah pusat perbelanjaan di Yogyakarta yang ditangkap secara diam-diam oleh agen Kunci Cultural Studies Center. Video ini diambil beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 2009.
Antariksa menerjemahkan wawancara Rosanna Greenstreet dengan Slavoj Žižek; tentang cinta, seks, bau pohon yang membusuk, dan sebuah rahasia.
On 2002, KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwan’s TV series, Meteor Garden, in Indonesia. During the research, KUNCI asked Meteor Garden’s fans reception to the show through forum group discussion. …
by Nuraini Juliastuti
This paper was presented in “Indonesia 10 Years after” conference, which was held on 22-23 May 2008 in the East India House, University of Amsterdam. The conference was organized by KITLV in cooperation …
This is an audio documentation of our first public lecture called “Asian Studying Asia”, on May 14-15, 2002. The event presented Melani Budianta, Kuan-Hsing Chen, Nuraini Juliastuti and Antariksa as the speakers. It was moderated …
This audio archive derives from a book launching and discussion that was held on August 1, 2009, at Jogja National Museum. The book, entitled “Punk: Fesyen, Subkultur, Identitas” (Punk: Fashion, Subculture, Identity) is written by …
This is the record of the discussion about two films concerning copyright “RIP: A Remix Manifesto” and “Good Copy Bad Copy”. The film screening and talk were conducted on September 11 and 12, 2009, at …
Part 1
Part 2
Listen to our old audio archive of a discussion about “Srimulat Sebagai Subkultur” (Srimulat as subculture), a book written by Anwari, which took place on May 30, 2004. The discussants were Yudi Ahmad …
Sejak kecil saya telah menyukai pantai. Bila ada kesempatan di akhir pekan, saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi, merebahkan badan …
Ugoran Prasad tentang BlockNot. BlockNot merupakan salah satu media sastra alternatif yang tumbuh dari sebuah jaman di mana gagasan-gagasan baru berputar dengan sangat cepat dan sibuk mencari tempatnya masing-masing di penghujung 1990an: baik pada media-media …
1999 hendak berganti menjadi 2000. Seluruh dunia berdebar. Millenium Bug tiba katanya. Kita harus bersiap. Saat itu kami menerjemahkan esai menarik karya Jennifer Ruth Fosket dan Jennifer Fishman. Ini adalah arsip dari terjemahan kami.
Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. Laporan ini dibuat pada tahun 2006.
Diterbitkan Januari 2008. Isi: Transformations of moslem fashion in Indonesian society, Homoseksualitas di persimpangan jalan sempurna, Copyright regime.
Diterbitkan Oktober 2007. Isi: Sepenggal Kisah Miss Riboet Orion dan Dardanella, Persahabatan sebagai jalan hidup, Deepavali and Malaysia, The Sungdu-An 3: Making the local, National unity crash course, The clash between producers.
Diterbitkan April 2007. Isi: Yogya yang cepat dan semakin cepat (Ferdiansyah Thajib), Rambut dan Sejarah Indonesia (Aria W.Yudhistira), Aceh Nun Jauh Dipandang (Helena E Rea), Partha Chaterjee dan Nalar Kolonial (Antariksa).
Diterbitkan November 2005. Isi: Net-Jurnalisme: Sifat dan Konsekuensinya (Merlyna Lim), Jejaring ‘Bio-Politics’ (Arie Setyaningrum), Medium Baru, Eksplorasi Baru (Nuraini Juliastuti), Wawancara Patrick Coppock dengan Umberto Eco: Percakapan tentang Informasi (diterjemahkan oleh Antariksa), Kartu Kredit di …