Highlights
  • Seni dan Dongeng Kancil dalam Pendidikan di Taman Siswa
    27/05/2016

    Seni dan Dongeng Kancil dalam Pendidikan di Taman Siswa

    Ki Hadjar Dewantara memandang Seni sebagai medium untuk “memasakkan jiwa dan raga anak, hingga kelak menjadi derajat manusia yang utama”. Salah satu contoh yang menarik di Taman Siswa adalah pembelajaran Seni Sastra (Tulis dan Lisan), Sari Swara dan Langen Carita (Opera Jawa) dengan menggunakan salah satu versi Serat Kancil, karangan ayahanda Ki Hadjar Dewantara, K.P.H. Sasraningrat. Selain diceritakan di dalam kelas, dongeng kancil juga digubah menjadi Langen Carita. Para pamong (pengajar/pendamping) Taman Siswa percaya bahwa ketika siswa mempraktekkan peran, gerak, tari, dan suara, maka mereka akan mampu meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan dan masyarakat; selaras dengan konsep Ki Hadjar Dewantara Tri Na (Tiga N): Nonton (melihat/mengamati), Niteni (mengingat/menandai), dan Niru (mencontoh/meniru). Soal-soal tersebut akan dibahas oleh Rendra Agusta, peneliti dan pustakawan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, pada Senin, 30 Mei 2016, mulai 15.00, di KUNCI Cultural Studies Center.

  • Politics of Sharing – On Collective Wisdom
    09/04/2016

    Politics of Sharing – On Collective Wisdom

    What does sharing mean today, and under which conditions does it take place? What are the spaces and places of community, and how can we maintain and revive them? From which concepts of community and collective knowledge can we learn? The research and exhibition project by the ifa in cooperation with the Artspace NZ Auckland, New Zealand, brings together artistic and sociological positions from the Pacific region with European perspectives, projecting manifold points of views on the practices of sharing, collaborative modes of production and collective knowledge systems.

  • Peluncuran Publik Ethnolab
    05/03/2016

    Peluncuran Publik Ethnolab

    Kami mengundang anda untuk hadir pada acara peluncuran publik situs web Ethnolab yang memuat teks-teks hasil seri Ethnolab angkatan 2015. Ethnolab adalah sebuah ruang diskursif yang diselenggarakan secara bersama oleh KUNCI Cultural Studies Center Yogyakarta dengan proyek the Researchers’ Affects (2013-2017; Freie Universität, Berlin, Jerman dan University of Berne, Swiss). Kolaborasi ini bertujuan untuk mempromosikan dan mendukung riset interdisipliner tentang isu-isu sosial budaya dengan berfokus pada prinsip-prinsip dan teknik-teknik metodologi etnografi.

  • Rabbit Hole Theory: How to Understand the World
    01/03/2016

    Rabbit Hole Theory: How to Understand the World

    KUNCI mengundang Anda untuk bergabung dalam sesi diskusi Rabbit Hole Theory mengenai cara-cara untuk memahami dunia, khususnya melalui metode penelitian. Berangkat dari kajian mengenai sains, antropologi, geografi dan disiplin terkait lainnya, sesi diskusi ini berupaya untuk mempelajari bagaimana obyek atau benda membentuk representasi dan apa maknanya bagi kita. Pembahasan ini akan dilakukan melalui pembacaan terhadap empat teks, yaitu: “The City is a Medium” oleh Friedrich A. Kittler dan Matthew Griffin, “Circulating Reference: Sampling the Soil in the Amazon Forest” oleh Bruno Latour, “After Method: Mess in Social Science Research” oleh John Law, dan “The Mushroom at the End of the World: On the Possibility of Life in Capitalist Ruins” oleh Anna Lowenhaupt Tsing.

Toilet Tissue and Other Formless Organisational Matters
07/04/2015

Toilet Tissue and Other Formless Organisational Matters

An edited excerpt from Curating Organisations (Without) Form: A public conversation between Antariksa, Binna Choi, Syafiatudina, Emily Pethick, and Ferdiansyah Thajib on how commons-orientated organisations work in the field of art, culture and social practices, across Indonesia, the Netherlands and UK. Held on 31st January 2015 at KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta.

Seni dan Dongeng Kancil dalam Pendidikan di Taman Siswa
27/05/2016

Seni dan Dongeng Kancil dalam Pendidikan di Taman Siswa

Ki Hadjar Dewantara memandang Seni sebagai medium untuk “memasakkan jiwa dan raga anak, hingga kelak menjadi derajat manusia yang utama”. Salah satu contoh yang menarik di Taman Siswa adalah pembelajaran Seni Sastra (Tulis dan Lisan), Sari Swara dan Langen Carita (Opera Jawa) dengan menggunakan salah satu versi Serat Kancil, karangan ayahanda Ki Hadjar Dewantara, K.P.H. Sasraningrat. Selain diceritakan di dalam kelas, dongeng kancil juga digubah menjadi Langen Carita. Para pamong (pengajar/pendamping) Taman Siswa percaya bahwa ketika siswa mempraktekkan peran, gerak, tari, dan suara, maka mereka akan mampu meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan dan masyarakat; selaras dengan konsep Ki Hadjar Dewantara Tri Na (Tiga N): Nonton (melihat/mengamati), Niteni (mengingat/menandai), dan Niru (mencontoh/meniru). Soal-soal tersebut akan dibahas oleh Rendra Agusta, peneliti dan pustakawan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, pada Senin, 30 Mei 2016, mulai 15.00, di KUNCI Cultural Studies Center.

KUNCI Cultural Studies Center • Licensed under Creative Commons BY-NC-SA

Log in